KUMPULAN MAKALAH, SKRIPSI, & TIPS DAN TRIK

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Showing posts with label Artikel kegemukan. Show all posts
Showing posts with label Artikel kegemukan. Show all posts

Gemuk Mengundang Penyakit


Gemuk tak lagi lambang kemakmuran. Kegemukan atau obesitas justru mengundang pelbagai penyakit yang bisa memperpendek umur.

Para dokter dari pelbagai keahlian mengingatkan itu dalam seminar obesitas di Rumah Sakit Tebet, Sabtu (16/8).

Obesitas adalah kelebihan jaringan lemak tubuh, lebih dari 25 persen berat badan pada pria dan lebih dari 30 persen pada wanita. Untuk mengukur obesitas digunakan indeks massa tubuh (IMT), yaitu berat badan dibagi tinggi badan kuadrat. Kisaran normal IMT Asia-Pasifik 18,5-22,9 kg/m². Lebih dari itu masuk kelompok berisiko, dan di atas 25 kg/m² obesitas.
.
Bentuk tubuh pria umumnya seperti apel (android). Lemak banyak disimpan di pinggang, rongga perut, dan badan bagian atas. Bentuk badan wanita menyerupai pir (gynecoid). Penumpukan lemak terjadi di bagian bawah, seperti perut bagian bawah, pinggul, pantat dan paha.

Menurut Prof dr WH Sibuea SpPD, yang berbahaya adalah lemak dalam rongga perut (visceral). Hal ini mengundang tekanan darah tinggi, jantung koroner, diabetes mellitus, gangguan napas bahkan henti napas waktu tidur, kanker, penyakit saluran cerna, arthritis, serta infeksi kulit. Kelebihan timbunan lemak perut cukup dicek dari lingkar pinggangnya. Angka normal pria adalah kurang dari 90 cm dan wanita kurang dari 80 cm.

"Obesitas selain akibat pengaturan makan tidak baik juga bisa karena gangguan endokrin, yaitu gangguan di hipotalamus, hipofisis, kelenjar gondok, kelenjar adrenal, ovarium, atau pankreas," ujar Sibuea.

Menurut dr Yunus Tanggo SpPD PhD, gaya hidup kurang gerak, masalah genetika, obat hormonal, dan adanya kalsin di otak juga memicu obesitas.

Untuk menekan risiko penyakit perlu modifikasi gaya hidup, ujar dr Hadi Purnomo SpJP. "Penurunan berat badan 10 kg pada pasien hipertensi bisa menurunkan tekanan sistolik dan diastolik rata-rata tujuh mmHg dan tiga mmHg. Selain itu, kadar trigliserida dan plasma LDL (lipoprotein berdensitas rendah/kolesterol buruk) turun, sebaliknya kadar HDL (lipoprotein berdensitas tinggi/kolesterol baik) meningkat. Ini menurunkan risiko penyakit jantung koroner," katanya.

Dokter ahli gizi Walujo Soerjodibroto PhD mengingatkan, penurunan berat badan tidak boleh drastis. (ATK)-Kompas

UMUR Kita Di Nomor Ikat Pinggang!

Gemuk itu penyakit sekaligus penyusut umur. Penyebabnya alami atau didapat. Orang sekarang gemuk-gemuk sebab zamannya"tercipta" begitu. Tak mudah diobati lantaran penyebabnya betul bejibun.

Pak Liem heran. Makannya sedikit, cuma tahu-tempe, pakai di-grundeli istri saban hari, maklum lagi stres berat, badannya tetap melar. Dokter bilang ibarat mobil, "mesin" badan Pak Liem irit bensin layaknya mobil Jepang. Makan sedikit tetap tambun.

Tante Sun gampang dan doyan sekali ketawa, gemuknya minta ampun. Orang bilang rajin ketawa bikin orang gampang gemuk. Kabarnya kini Tante Sun kurusan sebab konon sedang jatuh cinta lagi. Orang gemuk jadi kurus kalau in the mood terus, dan semakin gembrot kalau lagi stres atau patah hati

Gemuk atau kegemukan

Gemuk dan gemuk ada dua. Gemuk over weight dan kegemukan atau obesity.Dibilang gemuk kalau pas seperlima lebih berat dari berat normal. Berat normal dihitung dari tinggi (cm) dikurang 100. Berat ideal itu berat normal dikorting 10 persen.

Disebut obesitas jika berat badan lebih dari seperlima berat normal. Obesitas lelaki (android obesity), jika pinggang dibanding pinggul lebih dari empatperlima. Gynecoid obesity atau obesitas wanita, perbandingan itu pas empatperlima. Patokan berat ideal tentu tidak seeksak begitu. Berat ideal atlet, orang yang tulangnya gede-gede, atau yang rajin olahraga, masih direken ideal sekalipun beratnya lebih dari normal. Harus dibedakan kelebihan berat yang disebabkan massa otot dan tulang (lean body mass) bertambah, dengan berat kelebihan gajih. Olahraga menambah masa otot. Orang gemuk yang rajin olahraga bisa jadi beratnya tak turun-turun. Gajihnya benar susut, namun ototnya tambah gempal.

Gemuk tak lebih berisiko dibanding kegemukan. Obesitas tak perlu faktor risiko lain buat diserang koroner. Kegemukan berarti kadar lemak jahat dalam darah (kolesterol, LDL, trigliscrid) tinggi terus. Selain karib dengan jantung koroner, orang obesitas bertetangga dengan kencing manis dan darah tinggi. Orang bilang setelah kawin lelaki gampang gembrotnya. Bohong. Bukan kawin yang bikin lelaki tambah tambun. Pria-wanita semakin gemuk dengan bertambahnya usia. Waktu sekolah lemak kulit cuma sepersepuluh berat badan. Setelah berumur seksi alias seket siji (51), lemak di kulit lelaki bisa melompat seperempat berat badan. Ketebalan lemak kulit lebih dahsyat pada yang gemuk sejak kecil. Bukan cuma besar sel lemak, jumlah sel lemak tubuh pun lebih dari normal. Jika setelah dewasanya rakus, lebih cepat gemuk dibanding yang kecilnya sudah kurus tepos pula.

Yang baru gemuk kemudian, gemuknya tak sebomber gemuk bawaan, sebab yang bertambah besar sel lemaknya saja, jumlahnya tetap. Itu makanya gemuk bawaan lebih susah dikempisi, sekalipun mungkin sudah dijemur tiga kali sehari, pakai buka baju segala. Menjadi gemuk sebab yang dimakan melebihi kebutuhan. Tubuh bakat gemuk lebih irit memakai kalori. Jika porsi makan harian terus berlebihan dan aktivitas fisik semakin kurang, kelebihan kalori disimpan menjadi gajih di bawah kulit. Kulit lebih tebal, dagu berlipat, perut menggandul, dan dada Oom Tom mulai perlu pakai BH. Gemuk dianggap penyakit jika ditemukan kelainan fisik atau laboratorium. Penyakit obesitas terjadi jika ada tumor hipotalamus otak, gangguan kelenjar anak ginjal, atau kelainan hormonal.

Ada beberapa sindrom (Cushing, Prader Willi, Laurence Moon-Bidle, Stein-Leventhal) yang salah satu gejalanya kegemukan. Yang begini tak punya obatnya.
Betul. Gemuk gudang penyakit. Penyakit jantung, kencing manis, perlemakan hati, gampang jatuh sakit, kekebalan tubuh lebih lemah (cel mediated immune response terganggu dan aktivitas sel darah putih menurun), kekurangan seng dan zat besi, berisiko kalau pembedahan, umur lebih pendek dan harapan (life expectancy). Sebuah statistik asuransi mencatat, cuma 60 persen orang obesitas bisa mencapai umur 60, bisa 90 persen jika kurus. Yang mencapai umur 70 sekitar 30 persen, 50 persen kalau bisa tetap kurus. Cuma 10 persen orang kegemukan yang masih hidup sampai umur 80, sedang peluang orang kurus bisa 30 persen.

Resep kurus bukan cuma satu

Gemuk penyakit barang tentu tak ada obat kecuali operasi lemak. Yang gemuk bawaan tidak bisa kempis maksimal, sebab sel-sel lemak tubuh telanjur banyak sejak kecil. Ini salah orangtua.Kultur bahwa gemuk itu simbol status kemakmuran perlu dihapus. Keliru kalau anak gemuk dianggap sehat dan tidak gemuk dinilai penyakitan. Di Amerika dan semua negara maju kini anak dibuat tidak gemuk. Sementara di negara berkembang kelas menengah gemuk-gemuk sebab balas dendam untuk makan enak, ingat masa kecilnya yang rata-rata cuma bisa mengiler melihat makanan enak. Lain dari itu faktor emosi dan jiwa, memunculkan sindroma lapar mata. Orang jadi doyan makan malam, doyan ngemil, dan body image-nya terganggu. Walau sudah kayak tong tetap merasa kurang gemuk terus. Sosok gemuk dianggap bonafid, padahal sekarang nyaris tak ada CEO di dunia berukuran tambun. Buat menjadi kurus perlu obat, diet, dan gerak badan. Penurunan berat tak boleh drastis. Paling banyak 0,5-1 kg setiap minggu. Obat kurus resep dokter bertujuan menekan nafsu makan (anorectic, selain mcnghancurkan kelebihan lemak badan. Golongan anorectic pentermine dan fenfluramine kini dilarang sebab bikin katup jantung jadi lembek dan dower berakibat lemah jantung.

Obat dipakai untuk membentuk pola makan tak berlebihan. Setelah pola makan normal terbentuk, obat dihentikan. Pemakaian obat anorectic lebih dari 12 minggu, bisa toleransi obat sehingga dosis perlu dinaikkan terus, padahal efek samping obat bisa ke otak.

Selain anorectic, dulu dipakai amfetamine dengan tujuan sama, obat jantung digitalis, obat pencahar, obat penuras kencing, obat bikin kenyang (bulk fillers), dan obat kelenjar gondok (preparat thyroid). Obat-obat ini kini ditinggalkan. Selain jelek efek sampingnya, bisa kecanduan juga.

Semakin banyak orang gemuk sekarang lantaran pikiran. Saat emosi tegang, maka dijadikan pemuasan pengganti, depresi dan histeria bikin orang makan terus, dan kelompok yang ketagihan makan menjadi lapar mata dan makan kompulsif. Kasus begini perlu terapi jiwa.
Selain obat, diet kalori dan gula dibatasi. Jauhi yang serba manis, kurangi makanan berlemak, dan perbanyak sayur. Jalan tergopoh-gopoh, 6 km/jam, 50 menit/hari, membakar 550 kalori. Kebiasaan makan dan perilaku makan dibentuk ulang. Cuma makan hanya kalau lapar saja, dan menolak makan kalau kenyang. Otak secara alami mengatur saat makan kita sekebutuhannya. * (Oleh: Dr. Handrawan Nadesul-Kompas)

Cara Ukur Lingkar Pinggang

LEMAK di perut adalah lemak paling berbahaya. Lemak yang berada di perut bagian dalam ini bakal mengeluarkan asam lemak bebas dan puluhan hormon yang bakal menimbulkan beragam masalah seperti menaiknya tekanan darah, terjadinya resistensi insulin, dan masih banyak masalah lain yang cukup berrat seperti munculnya penyakit jantung dan stroke.

Karena itu, Anda layak waspada dan rajin menjaga agar lingkar pinggang tetap ramping. Karena dengan logika yang sudah dijelaskan ini, itu artinya makin besar lingkar pinggang, Anda makin berisiko menderita sakit.

Lingkar pinggang yang aman untuk pria, kurang dari 90 cm, sedangkan wanita, kurang dari 80 cm. Lebih dari angka itu, artinya perut Anda kelebihan lemak. Itu bisa menjadi peringatan bahwa Anda berisiko tinggi kena penyakit diabetes tipe-2, kolesterol tinggi yang tak terkontrol, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung. Berikut ini cara mengukur lingkar pinggang dengan benar:

1. Persiapan
Gunakan meteran yang biasa digunakan untuk membuat baju. Lepaskan kaus dan bebaskan pinggang dari rok atau celana panjang sehingga bagian tengah perut terekspos. Berdirilah di depan cermin jika mungkin sehingga Anda dapat mengukur lingkar pinggang dengan benar.

2. Temukan spot yang tepat
Tekan jemari Anda pada batang tubuh di dekat bagian kanan pinggang. Tekan jari-jari pada kulit untuk menemukan tulang dasar panggul. Teruslah menekan dan pindahkan jari di sepanjang tepi tulang pinggul sampai Anda menemukan lengkungan atas tulang tersebut. Titik tertinggi akan terletak di sisi batang tubuh, hanya sedikit di bagian bawah tulang iga. Spot ini berada di dekat atau pada level yang sama dengan pusar Anda.

3. Lingkarkan meteran
Posisikan meteran secara horizontal di spot atas tulang pinggul. Kemudian lingkarkan di seputar perut dan seluruh batang tubuh. Pastikan meteran itu melintang secara horizontal. Tempatkan ujung meteran angka 0 di spot sementara sisanya melingkari perut dan batang tubuh.

4. UkurJangan mengecilkan perut.
Berdirilah tegak dan buang napas dengan lembut ketika Anda mengukur perut. Pastikan juga agar pita meteran itu tidak menekan kulit perut. Lihatlah pada nomor di mana angka 0 bertemu dengan angka terakhir yang melingkari pinggang. Itulah ukuran pinggang Anda.
(Author: Diyah Triarsari, Source : Gaya Hidup Sehat-Kompas)

Lingkar Pinggang, Barometer Kesehatan Anda

Banyaknya timbunan lemak di perut yang ditandai dengan perut membuncit sebaiknya jangan dipandang sebagai tanda kemakmuran. Lingkar pinggang yang membesar bisa menjadi indikator untuk melihat apakah seseorang berisiko terkena diabetes.

Berat badan berlebih atau kegemukan akan meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes. Untuk mengukur tingkat obesitas, kita bisa menggunakan ukuran indeks massa tubuh (IMT) yang dihitung dari berat badan (kg) dibagi tinggi badan kuadrat (M2). Sayangnya IMT tidak mencerminkan distribusi timbunan lemak di dalam tubuh.

Untuk menilai timbunan lemak di perut, dr.Gatut Semiardji, SpPD-KEMD, staf pengajar di departemen ilmu penyakit dalam FKUI-RSCM, menyarankan agar dilakukan pengukuran lingkar pinggang. "Lingkar pinggang menunjukkan lemak di rongga perut yang merupakan tanda beberapa penyakit," katanya dalam sebuah seminar yang diadakan oleh Prodia. Ditambahkan olehnya, makin tinggi kadar kolesterol jahat, makin panjang ikat pinggang orang tersebut.

Menurut dokter Gatut, lemak yang menumpuk di rongga perut lebih berbahaya daripada lemak di bagian bokong atau paha. "Lemak di perut sel-sel lemaknya lebih besar sehingga terjadi penumpukan lemak yang berlebihan di jaringan adiposa yang akhirnya menghasilkan protein berbahaya," kata Sekretaris II Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOB) itu.

Tim peneliti dari Prancis, Dr.Xavier Jouven dan rekan, pernah melakukan penelitian terhadap 7000 polisi Prancis yang meninggal antara tahun 1967-1984 karena serangan jantung. Setelah dilakukan pengukuran lingkar pinggang, ternyata kebanyakan polisi yang meninggal adalah pria-pria berperut buncit. Sebagai patokan, ukuran pinggang yang perlu diwaspadai pada pria adalah jika melebihi 90cm, sedangkan untuk wanita, risiko tingginya kolesterol akan meningkat bila lingkar pinggangnya berukuran lebih dari 80 cm.

Selain menunjukkan tingginya kadar kolesterol jahat (LDL), lingkar pinggang juga menunjukkan resistensi insulin, yakni suatu keadaan di mana tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan baik. Bila dilakukan pemeriksaan darah, maka hasilnya akan ditemukan kadar gula darah yang tinggi, namun belum diabetes. Keadaan ini sering disebut pra-diabetes.

Obesitas, hipertensi dan tingginya kolesterol (dislipidemia), merupakan sebagian dari kumpulan gejala yang meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan diabetes (sindrom metabolik). Untuk mendeteksi adanya penyakit-penyakit tersebut, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium yang meliputi pemeriksaan glukosa darah, kolesterol HDL, trigliserida dan adiponektin. Selain itu pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan adalah mengukur lingkar pinggang dan tekanan darah.

Orang yang memiliki risiko tinggi mengalami sindrom metabolik perlu melakukan berbagai upaya agar tidak berkembang menjadi penyakit berbahaya, antara lain dengan menurunkan berat badan, mendeteksi kelainan (pemeriksaan fisik dan lab), intervensi terhadap kelainan yang ditemukan. Meski terdengar sepele, namun pengaturan pola makan, membenahi gaya hidup dan menghindari stres telah terbukti efektif untuk memerangi penyakit berbahaya.(Penulis: An-Kompas)

Pembunuh Nomor Satu Itu Mengincar Wanita


Hingga saat ini penyakit jantung masih menjadi pembunuh nomor satu di dunia. Jika dulu penyakit ini lebih banyak diderita laki-laki, data terbaru menyajikan fakta yang mencengangkan, makin banyak perempuan berusia kurang dari 45 tahun yang meninggal akibat penyakit jantung.

Seperti dipublikasikan dalam Journal of the American College of Cardiology, penyebab serangan jantung terbesar adalah sumbatan pembuluh darah. Selain kegemukan faktor risiko lain yang mengundang datangnya penyakit jantung adalah penumpukan lemak di pembuluh darah (aterosklerosis) yang menyebabkan darah tersumbat. Jika sumbatan terjadi di pembuluh darah jantung orang akan terkena penyakit jantung koroner, jika yang tersumbat pembuluh darah di otak akibatnya adalah stroke.

Menurut Dr Anthony DeMaria, yang mempublikasikan data tersebut, secara umum sebenarnya terdapat perbaikan yang positif dalam penanganan penyakit jantung. Sejak tahun 1980-2002, angka kematian akibat sumbatan pembuluh darah menurun pada pria dan wanita berusia di atas 35 tahun. Kemajuan tersebut dicapai salah satunya karena obat-obatan penurun kolesterol.
Namun angka tersebut kini memburuk. Jika sebelumnya serangan jantung banyak dialami oleh orang berusia di atas 55 tahun, kini makin banyak orang muda yang terkena serangan fatal tersebut. "Lemak dan sumbatan plak berlangsung bertahun-tahun sebelum berakibat fatal, tapi kombinasi berbagai faktor, seperti genetik, kegemukan, dan kolesterol tinggi makin meningkatkan risiko pada orang muda," kata Anthony.

Berdasarkan data Center for Disease Control and Prevention, AS, pada tahun 2002 ada 25.000 pria dan 8000 wanita berusia 35-54 di Amerika Serikat yang meninggal karena penyakit jantung koroner (PJK).

Sejak tahun 1987 terjadi peningkatan prevalensi pada perempuan berusia 35-44 tahun, yakni dari 100.000 orang ada 8,2 perempuan yang meninggal karena PJK. Sedangkan angka pada pria relatif stabil, yakni 26 kematian per 100.000 orang.

Sebenarnya tak sulit mencegah penyakit jantung. Strateginya adalah menurunkan kadar kolesterol, menghindari kegemukan, berhenti merokok, serta melakukan olahraga. Jauh lebih murah ketimbang mengeluarkan uang ratusan juta rupiah untuk mengobati. (AP/An)-Kompas

Jangan Gemuk, Dong, Yang..

Meski bukan yang utama, namun penampilan fisik memegang peran penting untuk menarik perhatian lawan jenis. Mungkin Anda masih ingat betapa tampannya si dia dengan tubuh tinggi, ramping dan dada tegap. Namun, setelah menikah, lambat laun berat badannya meningkat dan lemak mulai tertimbun di perutnya yang buncit.

Banyak yang berpendapat, perut buncit adalah hal yang wajar bagi pria. Tapi, tahukah Anda bahwa lingkar perut yang makin lebar bisa jadi tanda gangguan metabolisme yang bisa mengundang penyakit pembuluh darah dan jantung, diabetes, dan hipertensi. Bahkan, kegemukan pada pria juga bisa berdampak pada juniornya. Karena itu, sebelum terlambat, ajak pasangan untuk mulai menjaga kesehatannya.

Bagaimana cara yang tepat untuk mengajaknya menurunkan berat badan? "Pertama, jangan mengkritiknya, namun pujilah setiap usaha olahraga yang dilakukannya," kata Amy Gorin, psikolog yang memiliki spesialisasi di bidang penurunan berat badan, dari Universitas Connecticut, ini.

* Jangan mengomel
Berhentilah mengomel dan mengomentari penampilannya yang makin "lebar" karena kecerewatan Anda hanya akan menimbulkan konflik. "Sikap itu akan membuat pasangan merasa jelek dan ia bisa depresi. Padahal depresi kerap memicu orang untuk makan berlebih," kata Maye Musk, ahli nutrisi dari New York.

* Tunjukkan perhatian
Kemukakan alasan yang masuk akal mengapa si dia perlu mengontrol berat badannya. "Suami saya bilang ia peduli pada kesehatan saya dan berharap saya ada bersamanya sampai tua," kata Jennifer Blair. Untuk itu setiap hari ia giat berolahraga dan menjaga pola makannya. Berat badannya pun berkurang 33 kilogram dalam beberapa bulan.

* Beri solusi
Alih-alih memberi komentar negatif setiap ia menyantap makanan manis, lebih baik bantu pasangan dengan menyediakan camilan sehat. Bila pasangan suka ngemil, sediakan panganan yang rendah kalori dan garam.

* Jadi panutan
Jangan cuma menyuruhnya, yang terpenting adalah jaga berat badan Anda sendiri. Bila Anda sudah sehat dan rutin berolahraga, akan lebih mudah untuk pasangan Anda melakukannya.

* Jangan jadi "polisi"
Tak ada orang yang suka diperintah, disuruh makan ini dan jangan makan itu. Siapa pun tak suka dikontrol, maka bila Anda melakukannya pada pasangan, bisa jadi ia akan memberontak.

* Kompak
Lakukan berbagai kegiatan untuk menunjukkan Anda setia bersamanya dalam menjalankan hidup sehat. Temani si dia berolahraga atau bersama-sama belanja bahan makanan rendah kalori agar Anda bisa membuatkan makanan sehat untuknya.
(AN,Sumber : msnbc, Kompas)

Obesitas Bisa Diprediksi Lewat Tes Darah


KEGEMUKAN atau obesitas adalah problem serius yang mengancam masyarakat modern. Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak serta gaya hidup tidak aktif (sedentari) kerap dituding sebagai salah satu faktor penyebab utama merebaknya wabah obesitas.

Berdasarkan suatu riset terbaru para ilmuwan AS, risiko kegemukan pada seseorang sebenarnya dapat diprediksi dengan cara menganalisis salah satu kandungan lemak dalam darah. Hasil penelitian yang dimuat International Journal of Obesity menyatakan, besar kecilnya perubahan kadar trigliserida dalam darah setelah mengonsumsi makanan berlemak dapat mengindikasikan apakah seseorang rentan mengidap obesitas.

Menurut para peneliti, temuan ini dapat membuka jalan bagi para tenaga medis menemukan metode baru mengidentifkasi siapa pun, termasuk anak-anak, akan risiko mengalami kegemukan.

Trigliserida merupakan salah satu jenis lemak yang diangkut dalam darah dan disimpan pada jaringan lemak tubuh. Lemak ini ditemukan pada jenis-jenis makanab berlemak selain juga dihasilkan tubuh.

"Penemuan ini menunjukkan bahwa pada suatu hari nanti kita dapat memakai tes darah sederhana guna mengidentifikasi risiko seseorang mengidap obesitas. Kemampuan mengidentifikasi mereka yang lebih rentan akan membuka peluang dalam mengatasi obesitas dengan menyediakan upaya pencegahan bagi mereka yang sangat membutuhkan," ungkap Mark Friedman, peneliti senior dari Monell Center.

Epidemi obesitas diyakini timbul akibat kebiasaan buruk mengonsumsi diet tinggi lemak dan karbohidrat, yang pada akhirny memicu penambahan berat badan. Kecenderungan bertambahnya berat badan setelah mengonsumsi diet tinggi lemak antara lain juga dikendalikan oleh gen-gen. Ada beberapa individu yang mudah sekali menjadi gemuk ketimbang orang lain, padahal jenis dietnya sama.

Dalam riset terbaru ini, para ahli memantau kecenderungan sekelompok tikus terhadap obesitas yang disebabkan diet lemak melalui suatu tes untuk melihat peningkatan kadar trigliserida usai mengonsumsi seporsi makanan berlemak tinggi. Tikus-tikus ini kemudian diberi makanan berlemak tinggi selama empat pekan berikutnya.

Dari metode itu, para ahli dapat memprediksi tikus mana saja yang tubuhnya berubah menjadi obes selama periode empat pekan dengan cara menguji respon metabolik sebelumnya terhadap makanan tinggi lemak. Hasil riset menunjukkan, semakin kecil perubahan kadar trigliserida dalam darat tikus, semakin besar penambahan berat badan.

Sejauh ini, belum ada biomarker atau penanda biologis sederhana untuk memprediksi kecenderungan terhadap obesitas yang disebabkan diet lemak. Oleh sebab itu pula, hingga kini belum ada uji klinis yang dapat membantu dokter mengidentifikasi siapa saja yang berisiko kegemukan.

Penemuan ini mengindikasikan bahwa perubahan kadar trigliserida dalam darah pada suatu hari nanti akan dapat digunakan sebagai suatu metode. Penelitian lanjutan diharapkan akan dapat mengungkap lebih detil bagaimana mekanisme di balik perubahan kadar trigliserida dalam darah.(AC -Sumber : Xinhua-Kompas)

Jangan Bangga Bila Perut Membuncit


Jangan bangga dulu bila perut membuncit. "Itu tidak ada hubungannya dengan deposito di bank," ujar Prof. Wimpie Pangkahila, Sp.And. Selasa (18/12/ 07).

Menurut seksolog dan androlog yang juga pengurus Perkumpulan Kedokteran Anti Penuaan Indonesia ini, perut buncit menimbulkan bahaya besar. "Mereka berisiko tinggi mengalami banyak penyakit," jelas guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali.
Diabetes mellitus, jantung, stroke, menaiknya kadar kolesterol, hipertensi, dan masih banyak lagi penyakit berbahaya bakal diidap si empunya perut buncit.

Lemak terutama di perut bagian dalam atau visceral fat merupakan lemak yang wajib diwaspadai karena melepaskan beragam hormon yang menyebabkan munculnya penyakit-penyakit degeneratif ini.

Berbeda dengan lemak di bagian lain, lemak visceral ini melepaskan asam lemak bebas yang bisa langsung dilepaskan ke organ hati dan organ dalam di sekitarnya. (Sumber: Gaya Hidup Sehat, Penulis: Abd, Kompas)

Kecilkan Perut Demi Kesehatan..!

Usia pertengahan (sekitar 40 tahun) merupakan saat perut kita bertambah buncit. Untuk pria Asia, ukuran lingkar perut yang normal tidak lebih dan 90 cm, dan bagi wanita tak lebih dari 80 cm, yang diukur melingkar setinggi pusar.

Peningkatan di atas nilai normal bisa sejalan dengan peningkatan insidensi pelbagai penyakit metabolisme. Misalnya, penyakit gula dan kolesterol, tekanan darah tinggi (hipertensi), serta gangguan pembuluh darah seperti stroke dan penyakit jantung koroner.

Semenjak usia 20 tahun (akhir adolesensi), metabolisme yang tadinya bersifat membangun (anabolisme) mulai herubah secara berangsur-angsur menjadi metabolisme yang mendatar, melambat, dan akhirnya merombak (katabolisme) ketika memasuki usia senja. Metabolisme yang merombak menyebabkan penurunan massa otot dan tulang serta peningkatan timbunan lemak tubuh, khususnya di sekitar alat tubuh sepenti jantung, usus, ginjal, dan di bawah kulit perut. Penimbunan lemak di bawah kulit perut itulah penyebab perut membuncit.

Metabolisme (reaksi kimia dalam tubuh untuk memanfaatkan unsur-unsur gizi bagi pembentukan tenaga dan pelbagai keperluan lain) sudah mulai melambat pada usia di atas 40 tahun. Saat itu otot dan organ tubuh mulai mengecil. Juga tubuh membutuhkan kalori lebih sedikit daripada sebelumnya. Jika seorang remaja dalam masa pertumbuhan dapat melahap habis dua piring nasi dan puluhan tusuk sate, maka pada masa pelambatan metabolisme ini orang mungkin hanya bisa makan satu piring nasi dan beberapa tusuk sate. Kegemukan terjadi jika pola makan tetap sama sepenti pada usia remaja, tetapi kegiatan fisik sudah jauh menurun sementara metabolismenya melambat.

Ketika melakukan diet sekaligus berolahraga, bobot badan sering tidak tunun. Lo, kenapa? Dalam program diet dengan olahraga, mengecilnya lingkar perut sebenarnya akan lebih dulu terjadi ketimbang turunnya bobot badan. Sebagai hasil dari olahnaga - khususnya yang bersifat beban, baik berat (weight) maupun kecepatan (speed)- massa otot sering turut meningkat. Dengan begitu, sekalipun program penurunan bobot itu telah mengurangi jumlah lemak tubuh, bisa saja berat badan tetap sama atau bahkan naik karena peningkatan massa otot. Tanda yang lebih tepat yaitu mengecilnya lingkar perut, ditandai dengan pakaian yang kendor di bagian perut.

Makan secara cerdik

Ada asumsi umum, jika kita memasukkan lebih banyak kalori dari makanan ketimbang kalori yang dipakai oleh tubuh, maka makin banyak lemak atau gajih yang menumpuk. Celakanya, gajih sering mengumpul di bagian perut. Pertanyaannya, makanan apa saja yang banyak memberikan kalori dan menyebabkan penumpukan gajih?Sebagian pakar berpendapat, lemak atau minyak merupakan unsur makanan yang memberikan kalori paling besar. Alasannya, pertama, 1 g lemak akan menyumbang 9 kaloni (bandingkan dengan protein dan karbohidrat yang hanya memberikan 4 kalori/g). Kedua, lemak teryata justru menggunakan lebih sedikit kalori dalam proses metabolismenya. Untuk metabolisme pnotein diperlukan kalori sekitar 23% dari total kalori yang dihasilkan, untuk karbohidrat dibutuhkan sekitar 6 - 7%, tetapi untuk metabolisme lemak hanya perlu 2 -3%. Karena kalori yang dihasilkannya lebih tinggi dan metabolismenya yang lebih sedikit memerlukan energi itulah, maka lemak dianggap sebagai unsur makanan yang harus dikurangi jika kita hendak berdiet!

Untuk mengurangi makanan yang banyak mengandung lemak, biasakan diri melakukan beberapa hal pada saat makan. Pertama, biasakan minum air putih satu gelas sebelum makan. Dr. Blackburn dari Harvand Medical School menyatakan, "Perasaan lapar sering merupakan manifestasi rasa haus. Jika kita membiasakan diri minum air pada saat terasa ingin ngemil di luar saat makan, maka keinginan itu akan dapat dikurangi."

Jika menyukai sari buah, Anda dapat menggantikan air putih dengan buah rendah kalori yang diblender agar seratnya turut terkonsumsi. Pilihlah buah atau sayuran yang kalorinya rendah seperti tomat dan ketimun. Blenderan buah atau sayuran ini dapat diminum untuk menghilangkan perasaan ingin ngemil, atau diminum sebelum makan. Selain itu, serat solubel (dapat larut) dalam blenderan akan mengurangi penyerapan lemak dan makanan di dalam usus.
Ketika memilih piring makan, usahakan mengambil piring datar (plate), dan bukan piring cekung (disc). Ambil sayuran dahulu untuk memenuhi piring, baru kemudian nasi, dan yang terakhir lauk dagingnya. Jika ingin tambah, hanya sayuran yang boleh Anda ambil. Jangan lupa, makanlah selalu di meja makan dan jangan makan di sembarang tempat apalagi sambil menonton TV. Sebab, makin seru acara TV makin banyak makanan atau camilan yang Anda habiskan!

Selain memberikan kesempatan makanan untuk turun , kebiasaan berjalan–jalan sesudah makan akan membantu menghabiskan sebagian kalori dari makanan itu. Setiap 25 langkah Anda berjalan, satu kalori akan terpakai. Apalagi jika Anda menaiki tangga. Tentu saja semua ini harus dilakukan dengan santai karena perut Anda baru saja terisi.

Terus olahraganya apa?

Olahraga yang tepat untuk membantu penurunan berat badan adalah kombinasi latihan beban dan aerobik. Latihan beban seminggu sekali dan aerobik 3 - 5 kali seminggu bukan hanya membantu menurunkan berat, tetapi juga akan mempertahankan berat yang sudah tercapai. Latihan beban dapat dilakukan menggunakan dumbbell atau peralatan di pusat-pusat kebugaran jasmani.

Untuk latihan beban mungkin diperlukan instruktur agar tidak terjadi penambahan massa otot berlebihan sehingga membuat bobot badan meningkat pesat. Latihan aerobik dapat dilakukan sendiri. Bisa dengan berenang pelahan, joging, bersepeda, lari atau jalan cepat, dan senam aerobik. Ciri olahnaga aerobik berupa keluarnya keringat tanpa rasa sesak napas, lelah, dan mengantuk sesudah berolahraga. Sebaliknya, latihan aerobik harus membuat tubuh terasa lebih segar, tidak lapar, dan tidak mengantuk.

Pengecilan perut sebaiknya tidak dilakukan dengan beban yang berlebihan. Latihan sit-up dapat menjadi olahnaga beban karena Anda harus mengangkat dua pertiga tubuh! Jika ingin mengurangi beban itu, dapat dipakai alat khusus yang juga bisa mencegah sakit pinggang akibat sit-up. Acap kali mereka yang mencoba mengecilkan perut dengan sit-up tanpa alat penyangga mendapatkan perut yang semakin besar kendati sebenarnya perut itu bukan membuncit tetapi semakin berotot dan kencang.

Untuk mengecilkan perut, gerakan panggul yang ringan tetapi lama akan lebih efektif. Latihan dapat dilakukan dengan alat seperti untuk permainan hullahoop atau piringan untuk latihan gerak panggul. Gerakan ini mungkin bisa disamakan dengan gerakan penari perut atau hula-hula yang memiliki perut relatif kecil.

Hal yang sama juga berlaku pada pengecilan paha atau tungkai. Jika menggunakan beban berat, mungkin paha dan tungkai Anda semakin besar dan berotot. Untuk mengecilkannya Anda dapat meniru gerakan pengendara sepeda di desa yang mengayuh sepedanya pelahan-lahan. (Kompas)

Kembali Langsing Setelah Melahirkan


Di balik kebahagiaan para ibu setelah melahirkan, tak sedikit yang sebenarnya khawatir akan bentuk badan yang melar. Menurut studi terbaru, kegiatan berjalan kaki, menghindari makanan berlemak dan mengurangi waktu di depan TV, cukup efektif untuk kembali langsing.

Kesimpulan tersebut disampaikan oleh tim peneliti dari Harvard Medical School, AS, setelah melakukan pengamatan terhadap 902 perempuan. Dalam riset yang dipimpin Dr.Emily Oken tersebut, tim mengikuti perkembangan kesehatan para responden untuk mengetahui kebiasaan apa saja yang bisa menurunkan berat badan setelah melahirkan.

Pengamatan tersebut dilakukan selama responden hamil hingga setelah persalinan. Enam bulan setelah bayi mereka lahir, para responden ini ditanyai aktivitas yang sering mereka dilakukan, misalnya berapa lama mereka menonton TV dan melakukan aktifitas fisik. Selain itu para responden juga diminta mengisi daftar pertanyaan tentang pola makan mereka.

Setahun kemudian, rata-rata para responden mengalami kenaikan berat badan 0,6 kg dibandingkan sebelum kehamilan. Sebanyak 12 persen responden kenaikannya mencapai 5 kg.
Untuk setiap satu jam waktu yang mereka habiskan di depan TV setiap harinya, risiko kenaikan berat badan hingga 5 kg mencapai 24 persen. Faktor pencetus kegemukan lainnya adalah makanan berlemak. Konsumsi makanan berlemak 0,5 persen kalori akan meningkatkan risiko kenaikan berat badan hingga 33 persen. Sementara itu, responden yang melakukan olahraga ringan seperti berjalan kaki setiap jam setiap harinya, terbukti berat badannya lebih stabil.
Menurut tim peneliti seperti dimuat dalam American Journal of Preventive Medicine edisi April 2007, wanita yang menonton TV kurang dari dua jam setiap harinya, berjalan kaki minimal 30 menit dan mengurangi konsumsi makanan berlemak, risiko kegemukannya berkurang hingga 77 persen setelah melahirkan.

"Menghindari makanan berlemak bagi wanita muda mungkin lebih karena takut gemuk, padahal mereka juga akan terhindar dari risiko penyakit jantung. Dengan mengurangi waktu menonton TV, bukan hanya baik untuk kesehatan ibunya tetapi juga bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anaknya," kata Emily. (Sumber: reuters-Penulis: An-Kompas)

Hati-Hati Membasmi Si Gemuk!


Memiliki ukuran badan besar atau bobot berlimpah dulu dipandang sebagai lambang kemakmuran, namun jaman sudah berubah, kini banyak orang makin sadar jika gemuk adalah gudangnya penyakit. Jadi tak heran jika banyak orang mulai berlomba-lomba mengurangi bobot tubuhnya, meskipun banyak yang melakukannya dengan cara kliru, bahkan ingin langsing dengan cara instant asal tubuh langsing. Sayang bukannya langsing yang didapat, tapi ujung-ujungnya malah ke rumah sakit.

Obesitas sendiri menjadi hal yang kerap dibicarakan banyak kalangan, mungkin untuk beberapa orang 'gangguan' ini memang mudah untuk diatasi, tinggal mengerem asupan makan tubuhpun jadi langsing. Namun tak semua orang bisa mengalami 'anugerah' tersebut, pasalnya 'riwayat' kegemukan sendiri menjadi salah satu hal yang ikut memperlancar suksesnya penurunan bobot tubuh seseorang.

Selain tak enak dipandang gemuk sendiri juga menyimpan banyak sisi negatif bagi tubuh, tubuh jadi cepat lelah debar jantung lebih kencang, pernapasan terganggu. Bahkan yang paling serem lagi kelewat gemuk bikin tubuh rawan dihinggapi penyakit kelas berat, seperti diabetes, hipertensi, hiperlipidemia, dan penyakit jantung.

Sampai taraf mana sih seseorang menderita obesitas? Obesitas dihitung dari penumpukan lemak pada jaringan tubuh yang melebihi 30 persen (wanita) dan di atas 25 persen (pria). Dalam hal ini normalnya, komposisi lemak tubuh pria 12 - 28 % dari total berat badan. Sementara wanita 18 - 24%.

Memerangi Si 'Gemuk'

Mengusir si gemuk bisa dibilang gampang-gampang susah, pasalnya kadang si gemuk sendiri juga datang dan pergi sesuka hatinya. Selain juga ditunjang perilaku pemilik si gemuk itu sendiri. Saat ini beragam cara membasmi si gemuk banyak kita jumpai, mulai cara konvensional seperti berolahraga, mengatur pola makan, hidup teratur, atau menggunakan alat bantu misalnya obat pelangsing, konsumsi obat modern berbahan kimia, akupuntur, sedot lemak, dan berbagai cara lain yang bisa dibilang tak aman jika kita melakukannya sembarangan dan tanpa prosedur yang pasti. Bahkan bukan tak mungkin ada efek samping dikemudian hari.

Keluarga obat konvensional yang paling sering dijumpai di pasaran kerap adalah orlistat, yang bekerja menahan penyerapan lemak dan menghambat pemecahan molekul lemak dalam usus besar. Efek sampingan biasanya timbul berupa buang air kecil tidak terkontrol dan munculnya rasa tidak nyaman pada perut. Bahayanya, jika obat jenis ini digunakan terus-menerus, tubuh bisa dengan mudah kehilangan vitamin A, D, E, K yang larut dalam lemak.

Jenis obat kurus lainnya berasal dari keluarga amfetamin, yang cara kerjanya lebih menekan nafsu makan. Seperti halnya orlistat, amfetamin juga membawa efek negatif seperti insomnia, gelisah, tremor (gemetar), sakit kepala, hipertensi, hingga jantung berdebar.

Sementara itu pengusir gemuk dari golongan furosemid lebih bersifat diuretika atau memaksa tubuh mengeluarkan banyak cairan yang memicu mengecilnya sel-sel tubuh. Jika tubuh dipaksa melakukan hal ini, bukan tak mungkin ginjal bakal mengalami kerusakan dan dehidrasi serta penggumpalan pada lambung.

Obat pencahar (laksansia) juga dijadikan sebagai alternatif pilihan untuk menurunkan berat badan. Laksansia memaksa kotoran dari usus keluar dengan paksa, terutama jika ada gangguan pada saluran pembuangan. Penggunaan laksansia dalam waktu panjang dan terus menerus berpotensi menyebabkan gangguan pada usus serta gangguan elektrolit, terutama kehilangan kalium yang dapat menyebabkan obstipasi (gangguan pembuangan yang parah).

Tak hanya berhenti dari rumpun obat-obatan yang 'menyiksa' tubuh untuk membuat tubuh langsing, beberapa tahun terakhir, pasar juga dibanjiri produk suplemen makanan dan minuman berserat. Suplemen jenis ini akan menggumpal dalam lambung, sehingga mengurangi nafsu makan. Perut pun rasanya kenyang terus, meski tak banyak makanan yang masuk, begitu juga obat yang lainnya, mengkonsumsi suplemen ini dalam jangka panjang juga membahayakan, karena berpotensi menyumbatan usus besar.

Beralih menyiksa anggota tubuh bagian dalam, cara lain yang mulai trend digunakan adalah akupuntur. Tusuk jarum ini dapat mengurangi lapar dan nafsu makan, sehingga ujung-ujungnya mengurangi kalori yang masuk ke dalam tubuh. Akupuntur pada lokasi yang tepat di telinga dapat menghambat pusat makan di hypothalamus dan menghambat peristalsis otot pada usus. Pergerakan lambung pun berkurang, sehingga nafsu makan turun. Efek sampingannya, antara lain sakit kepala, nyeri di telinga, mual dan muntah, akan hilang bila jarum dicabut.

Memang tubuh langsing dan sehat selalu jadi idaman semua orang namun bukan berarti kita sembarangan 'menyiksa' tubuh kita khan? So, mulai hati-hati jika ingin langsing, akan lebih baik mulai membiaskan diri hidup sehat dan berolah raga secara teratur, tubuh langsing, badanpun sehat.(kapanlagi)

Perempuan, Berhati-hatilah…

Kasus kelebihan berat badan, kegemukan, obesitas, atau apa pun namanya, memang lebih banyak membebani para wanita. Tidak saja bahwa kaum perempuan harus menyandang stigma "kurang nyaman untuk dilihat" dari segi penampilan, tetapi kenyataannya, mereka pun menghadapi angka kematian lebih tinggi dibandingkan lawan jenisnya, yaitu kaum pria….

Tak bisa dihindari, perubahan zaman pada akhirnya berdampak pula pada perubahan pola hidup yang juga membawa akibat pada perubahan pola makan. Dan, apa yang terjadi kemudian pun bisa pula ditebak. Ketika orang mulai meninggalkan pola makan lebih sehat, yaitu masakan dapur "ibu" yang terdiri dari sayuran, daging, dan ikan yang selalu segar, serta tempe, tahu, lalapan, dan buah-buahan, kemudian beralih ke pola makanan cepat saji ala Amerika, yang terjadi adalah kasus kelebihan berat badan.

Mungkin agak tergesa-gesa untuk meletakkan kesalahan utama pada pola makan ala Amerika. Namun, kenyataannya, banyak orang yang kemudian belajar menyiasati pola makan tersebut agar terhindar dari kegemukan luar biasa atau obesitas.

Kemasannya yang praktis dan mudah dibawa dalam kondisi apa pun menjadi daya tarik utama orang untuk beralih ke konsumsi makanan ala Amerika tersebut. Sayang, di balik kemasan penuh pesona itu tersimpan "umpan" dahsyat yang bila tidak hati-hati bisa dengan mudah membawa konsumen ke arah obesitas.

Padat kalori

Para ahli dari Medical Research Council mengatakan, makanan cepat saji atau penuh dengan kalori padat. Karena itu, tidak perlu makan dalam jumlah besar. Persoalannya, menurut BBC News, makanan "padat energi" seperti itu justru merangsang orang untuk mengonsumsi kalori dalam jumlah lebih dan lebih banyak lagi. Unsur ini menjadi penyebab utama terjadinya kegemukan hingga obesitas.

Di balik kehebatannya sebagai "polisi dunia", Amerika sendiri hingga saat ini masih terus berkutat dengan obesitas. Secara kasar, Pusat Pencegahan dan Kendali Penyakit AS mengatakan, dua pertiga warga Amerika mengalami kelebihan berat yang sangat dan hampir sepertiga di antaranya masuk kualifikasi obesitas.

Asosiasi Obesitas Amerika mencatat kecenderungan obesitas yang terus meningkat. Terutama pada wanita. Prevalensi obesitas pada kaum wanita antara umur 20 tahun hingga 74 tahun mencapai 62 persen pada tahun 1999-2000. Tahun 1988-1994, angka itu hanya 51,2 persen. Periode yang sama, obesitas pada pria hanya mencapai 35,8 persen. Sebelumnya, periode 1988-1994, obesitas hanya mencapai 10,5 persen.

Kantor berita AP mengatakan, obesitas ditentukan dengan sistem BMI (body mass index) atau Indeks Masa Tubuh (IMT), yaitu kalkulasi yang didasarkan pada tinggi dan berat badan seseorang.

Jika seseorang memiliki tinggi badan lima sampai 10 kaki, ia akan disebut kelebihan berat badan jika berbobot antara 174 hingga 208 pon. Dan baru disebut obesitas jika ia berberat badan di atas 209 pon. Dengan kata lain, seseorang belum bisa disebut obesitas jika ia bertinggi badan 180 sentimeter, meski memiliki berat 93,5 kilogram.

Dari 11.000 responden yang ikut dalam penelitian Thomson Medstat, sebuah lembaga pengkajian kesehatan yang berbasis di Michigan, AS, sebanyak 3.100 orang di antaranya mengalami obesitas, bahkan pada tingkat cukup mengerikan. Sedangkan 4.200 orang masuk dalam kategori kelebihan berat badan, 3.800 orang dikategorikan normal, serta 200 orang di bawah normal.

Angka ini jauh lebih besar dibandingkan kasus obesitas di tempat lain. Di Eropa, misalnya, selama 10 tahun terakhir tren obesitas hanya berkisar 10 hingga 40 persen. Bahkan, kasus obesitas jarang ditemukan di wilayah Asia, Afrika, China, dan kepulauan Pasifik.
Sedangkan di Indonesia, data dari Obesitas Indonesia menunjukkan, dari sekitar 210 juta penduduk Indonesia tahun 2000, jumlah penduduk yang kelebihan berat badan mencapai 76,7 juta atau 17,5 persen dan pasien obesitas sekitar 9,8 juta (4,7 persen).

Lebih berbahaya

Suka tidak suka harus diakui, obesitas lebih berbahaya bagi perempuan. Mengutip pakar dari Universitas Columbia, New York, AS, Dr Peter Muennig, CNN mengatakan, angka kematian akibat obesitas pada wanita hingga usia 45 tahun memang lebih rendah dibandingkan pria. Namun, setelah usia 45 tahun, tingkat mortalitas pada perempuan akibat obesitas melesat jauh lebih tinggi dibandingkan pria.

Asosiasi Obesitas Amerika mencatat, pada umur antara 30-55 tahun, kematian wanita hampir sepenuhnya terkait dengan urusan berat badan. Bahkan, ketika indeks IMT melebihi 30, risiko kematian akibat obesitas bisa mencapai 50 persen.

Berita lain yang juga tidak membahagiakan, obesitas pada perempuan mendekatkannya pada berbagai jenis penyakit. Dari arthritis, osteoarthritis, hingga kanker. Perempuan yang mengalami obesitas berisiko lebih tinggi terkena kanker payudara, terutama setelah masa menopause. Mereka juga tiga kali lebih berisiko terkena kanker endometrial, penyakit kardiovaskular, hingga masalah infertilitas. Lebih dari itu, kaum wanita obesitas lebih mengalami diskriminasi "perlakuan" dibandingkan pria.

Untuk mencegah hal itu, berbagai upaya kini ditempuh. Baik dari penataan diet dengan benar hingga obat-obatan. Para ahli di AS, misalnya, kini sedang mengkaji kemungkinan mengembangkan vaksin anti-obesitas.

Namun, perlu tidaknya vaksin itu terus dikembangkan, hingga saat ini masih menjadi perdebatan di antara para ahli. Sebab, dari semua itu, yang terpenting adalah kembali ke pola hidup yang benar dan mengatur diet yang seimbang. (Rien Kuntari-Kompas)

Obesitas Lebih Berbahaya dari Terorisme


Negara-negara di dunia saat ini terlalu fokus pada pemberantasan terorisme, padahal ada masalah yang tak kalah berbahaya yakni problem obesitas dan penyakit gaya hidup lainnya yang telah membunuh jutaan orang. Peringatan akan bahaya obesitas mengemuka dalam konferensi internasional Oxford Health Alliance Summit di Sydney, Senin (25/2). Konferensi itu juga merekomendasikan pentingnya membuat prioritas dalam mengatasi bahaya obesitas. Faktor-faktor mematikan seperti buruknya pola makan, merokok serta kurangnya olahraga seharusnya menjadi prioritas utama dalam upaya memerangi perkembangan epidemik penyakit kronis yang sebenarnya dapat dicegah ini.

Seorang Profesor Hukum Kesehatan asal AS, Lawrence Gostin berpendapat bahwa terorisme global merupakan ancaman nyata, tetapi menimbulkan risiko lebih kecil dibandingkan obesitas, diabetes atau penyakit akibat merokok.

"Sejak 11 September, kita selalu terseok-seok dari satu krisis ke krisis lainnya, yang tentunya sangat membuat takut masyarakat. Sementara kita terlalu memberi perhatian pada masalah terorisme, kita juga dibayangi epidemik obesitas yang diam-diam membunuh jutaan orang di seluruh dunia. Kita mencurahkan sedikit sekali perhatian pada masalah ini,"ungkap Gostin.
Konferensi tahunan Oxford Health Alliance yang didanai oleh Oxford University ini telah digelar untuk kelimakalinya. Hadir dalam pertemuan ini para ahli terkemuka di bidang akademisi, pemerintahan, bisnis, hukum, ekonomi serta perencanaan kota dalam upaya menyuarakan perubahan.

Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 388 juta orang akan meninggal akibat penyakit kronis di seluruh dunia dalam 10 tahun ke depan.
"Ada kelumpuhan secara politis dalam menanggapi isu ini," ungkap Gostin, yang juga penasehat pemerintah AS serta Profesor di Universitas Georgetown dan Universitas Johns.

Ia juga mencatat, upaya pencegahan obesitas serta pengaruhnya terbilang jarang dikemukakan dalam kegiatan kampanye pemilihan Presiden AS.

"Penderitaan manusia masih menakutkan ketika kita mempertimbangkan bahwa obesitas dapat memperpendek rata-rata harapan hidup dari seluruh generasi. Ini berujung pada pembalikkan untuk pertama kalinya dari harapan hidup sejak pengumpulan data dimulai pada tahun 1990," tegasnya.

Pertemuan itu juga mengemukakan beberapa hal misalnya fakta bahwa beberapa ancaman terhadap kesehatan kerap mendapat perhatian pemerintah serta peliputan dari media. Fakta lain adalah penyakit jantung, paru-paru, diabetes dan kanker saat ini dihitung sebagai 60 persen penyebab kematian di seluruh dunia. Ancaman baru terhadap kesehatan sepeti SARS, avian flu, HIV/AIDS, terorisme, bioterorisme dan perubahan iklim juga sugguh dramatis dan membuat emosional.

Konferensi yang dijadwalkan berakhir pada Rabu mendatang ini juga menelorkan "Sydney Resolution" dan meminta pemerintah dan para pebisnis besar untuk mengambil langkah nyata dalam mencegah kematian prematur jutaan orang akibat penyakit kronis.

"Cara hidup kita sekarang membuat sakit, ini membuat planet menjadi sakit dan tidak sustainable," ungkap Ruth Colagiuri, co-director Oxford Asia-Pacific.

Resolusi Sydney memfokuskan pada empat hal, termasuk pentingnya membuat kota-kota menjadi lebih sehat seperti mendesain kehidupan yang mempromosikan gaya hidup sehat seperti berjalan kaki, bersepeda dan mengurangi emisi karbon dari kendaraan bermotor.

Kurangnya aktivitas fisik adalah sebuah faktor risiko pada banyak penyakit kronis dan diperkirakan menjadi penyebab 1,9 juta kematian di seluruh dunia setiap tahun, ungkap Tony Capon, profesor studi kesehatan dari Macquarie University, Australia.

Resolusi juga menekan pentingnya mengurangi kadar gula, lemak dan garam dalam makanan, membuat makanan murah segar yang mudah diperoleh, serta meningkatan upaya global untuk menghentikan kebiasaan merokok .( AC-Sumber : AFP-Kompas)

Buat Apa Mempertahankan Kegemukan?

Sifat-sifat seperti tidak romantis, penyendiri, tidak becus memimpin adalah karakter orang gemuk yang acap ditampilkan di berbagai media massa, terutama televisi. Mereka sering dijadikan bahan dagelan atau ger-ger-an dengan mengeksploitasi kelebihan lemak tubuhnya.
Padahal dengan menjadikan kelebihan berat badan dan penderita kegemukan sebagai bahan tertawaan sama artinya melukai perasaan sebagian masyarakat yang menyandang "penyakit gemuk". Demikian hasil penelitian terhadap karakter orang gemuk dalam program-program yang ditayangkan hampir semua jaringan televisi di Amerika Serikat, yang dilakukan para peneliti dari The Michigan State University belum lama ini.

Persoalannya, apa sebenarnya yang salah ketika penonton disuguhi -atau media televisi menyajikan- beberapa bahan tertawaan dari karakter orang gemuk yang biasanya muncul dalam ceritera "edan-edanan" dalam program acara mereka? Mungkin bukan apa-apa , tapi penelitian lain menunjukkan bahwa kegemukan tidaklah sekedar pilihan tidak menjadi kurus.
Terkadang gemuk merupakan sinyal atau isyarat yang mendasari adanya perasaan-perasaan tertentu seperti low self esteem, rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri. Self esteem adalah konsep individu tentang dirinya sendiri yang meliputi bagaimana perasaannya tentang diri dan tubuhnya serta seberapa jauh kepuasan yang didapatkannya dari tubuh tersebut. Dan ini akan berpengaruh besar terhadap apa pun yang dilakukan oleh individu.

Agaknya, dengan menggambarkan karakter orang kegemukan sebagai seseorang yang tidak diinginkan, orang yang tidak cakap memimpin, atau sesuatu hal yang layak dijadikan bahan banyolan, televisi justru makin menghidupkan sikap low self esteem yang acap menyertai orang gemuk. Misalnya mereka merasa dirinya tidak mungkin menarik dan bisa bersaing dengan tubuh gemuk dan akibatnya menyumbang pada lingkaran setan munculnya perasaan buruk, depresi dan reaksi makan berlebihan.

Bagaimana pun televisi saat ini dinilai bersikap diskriminatif, jaringan televisi masih jarang mengekspos dan menggambarkan apa dan bagaimana sebenarnya karakter orang gemuk dalam kehidupan nyata. Pimpinan riset Bradley S Greenberg dan rekan-rekannya, yang mempresentasikan hasil penelitiannya dalam forum The North American Association for the Study of Obesity di Quebec, menemukan bahwa 25 persen perempuan Amerika mengalami kegemukan, namun sosok dan karakter mereka muncul hanya 3 persen dari keseluruhan karakter dalam televisi. Kecenderungan yang sama terjadi juga pada laki-laki gemuk.

Kalau pun akhirnya karakter orang gemuk muncul di televisi, kebanyakan dalam versi banyolan dan terfokus pada ketidakmampuan mereka dalam banyak hal. Penelitian ini, akhirnya menggarisbawahi agar para produser acara dan para pimpinan stasiun televisi mulai berpikir keras menemukan cara bagaimana membuat penonton televisi tertawa dan menikmati sebuah acara tanpa menyakiti perasaan dan merugikan pihak lain.

Dulu, Gemuk Itu Indah

Di dalam banyak kultur dahulu, gemuk adalah indah. Pada sebagian masyarakat sampai hari ini seperti di pedalaman Irian Jaya atau di dusun Nigeria, perempuan justru menumpuk berat badan agar tampak lebih menarik. Mereka senang melihat lemak yang berlebihan di bokong, suatu kondisi yang dinamakan steatopygia.

Beberapa suku terasing dan pedalaman memberikan makanan terbaik untuk anak perempuan yang mendekati usia perkawinan. Perut yang paling besar menjadikan mereka pengantin yang paling disukai. Itu terjadi di zaman primitif, sebelum manusia mengenal pertanian dan supermarket. Makanan diburu dan digali, bukan ditumbuhkan dan dipelihara.

Pada masa itu, paceklik adalah masa buruk dan gemuk adalah suatu kebaikan. Lemak tubuh mempertahankan nenek moyang kita bertahan hidup –ibaratnya mereka membawa gudang makanannya sendiri- karena lemak adalah cadangan energi murni.

Tetapi sekarang, sebagian besar orang terutama perempuan menyesali bonus ekstra itu, sebagaimana ditulis oleh editor Magazine Health Books "Prevention", dalam buku The Female Body, terutama jika dihadapkan dengan media yang memuat super model dunia Cindy Crawford, Kate Moss atau Claudia Schiffer. Melihat tubuh gantungan pakaian yang dipromosikan sebagai "ideal" sering sekali membuat perempuan merasa menderita dengan definsi kecantikan yang sempit.

Sedikit banyak "ledekan" yang ditampilkan media televisi atau ukuran-ukuran cantik, seperti tinggi, langsing, putih, feminin, seksi yang diciptakan industri kecantikan -yang kemudian mempengaruhi persepsi masyarakat- kerap membuat orang gemuk merasa tersisih dan tidak punya tempat dalam pergaulan sosial. Kehidupan romantis mereka pun dalam beberapa kasus cukup menyedihkan. Seperti diceriterakan seorang perempuan dalam konsultasi psikologi harian Kompas berikut ini:

"Saya bertubuh gemuk dengan berat badan 64 kg dan tinggi badan 154 cm. Sebagai gadis berbadan subur saya sulit menemukan pasangan hidup. Apakah gadis gemuk seperti saya tidak berhak dan tidak pantas untuk bercinta, dicintai atau mencintai lawan jenisnya? Sebenarnya sejak SMA saya sudah punya "gandengan". Ini diteruskan selama kami kuliah, saya banyak berkorban untuk dia. Saya mengetik makalah dan tugas-tugasnya dan sering menemani dia bekerja di laboratorium, tapi apa lacur, sesudah diwisuda, dia melenggang pergi sambil memeluk sekretaris yang ramping."

Entah mana yang berperan terlebih dahulu dalam menciptakan kondisi-kondisi buruk seperti kisah perempuan gemuk di atas. Apakah, media televisi yang menampilkan citra orang gemuk sebagai orang yang tidak diinginkan, hanya layak dimanfaatkan dan dijadikan obyek lucu-lucuan, yang kemudian berakibat besar dalam hal nasib dan penerimaan sosial terhadap orang gemuk.

Ataukah kesalahan industri kecantikan ynag menguasai dan memprovokasi kesadaran publik lewat media massa sehingga membentuk wacana publik bahwa yang indah dan cantik adalah perempuan yang tubuhnya ramping, kulitnya putih dan feminin.

Atau justru konsep invidu rata-rata orang gemuk sendiri terhadap diri dan tubuhnya -misalnya, mereka merasa tidak mungkin menarik dengan tubuh gemuknya- yang justru membuat mereka minder, putus asa, dan mengisolasi diri dari pergaulan sosial. Dan kenyataan inilah yang kemudian "dipotret" dan diangkat oleh media massa.

"Fat is not okay"

Barangkali hal-hal tersebut sudah menjadi lingkaran setan, yang sulit dicari mana ujung pangkalnya. Namun, sikap paling tepat barangkali, para orang gemuk ini tidak usah pusinglah bagaimana media menggambarkan karakter atau seberapa banyak memberikan porsi terhadap orang gemuk dalam tayangan mereka. Atau bagaimana lingkungan sosial memperlakukan orang-orang gemuk. Yang pasti, berdasarkan kenyataan yang ada, kelebihan berat badan atau kegemukan ternyata tidak hanya menjauhkan seseorang dari jodoh, pergaulan sosial atau karir dalam pekerjaan, tetapi mendekatkan pula pada berbagai penyakit.

"Big is okay, but fat is not okay," kata Dewi Hughes, pembawa acara bertubuh gemuk yang cukup digemari itu, suatu saat. Setiap orang memang berhak untuk menjadi gemuk. Sayangnya, menambah daging atau lemak di dalam tubuh Anda, sama saja mengundang sederet penyakit mendatangi Anda, seperti tekanan darah tinggi , sakit jantung, kencing manis, kelainan ginjal, arthritis, kolesterol tinggi, pneumonia, hernia, sulit tidur, sampai menurunnya gairah seksual.
Hasil penelitian menunjukkan, perempuan yang berhasil menurunkan berat badannya ternyata tidak hanya lebih bahagia, percaya diri, tetapi juga menjadi lebih memuaskan kehidupan seksualnya.(Kompas)

Kegemukan Lebih Menakutkan Dibanding Selingkuh?

Entah bagaimana Anda menilainya, tapi menurut sebuah survei yang dilakukan oleh majalah psikologi Riza Psicosomatica, ternyata orang Italia merasa lebih bersalah bila makan secara berlebihan ketimbang berselingkuh dari pasangannya. Prinsip hidup selalu terlihat ramping lebih penting dibandingkan selalu setia.

Meskipun begitu, ternyata orang Italia masih memiliki kepekaan sosial dan loyalitas kerja yang tinggi. Buktinya, mereka mengaku merasa sangat bersalah apabila menelantarkan keluarga dan teman-teman dekat, serta tidak menjenguk kerabat yang sedang sakit. Selain itu, mereka juga resah bila gagal dalam melakukan suatu pekerjaan.

Menurut hasil dari survei terhadap 1000 orang Italia yang berusia 22-25 tahun itu juga ditemukan bahwa ternyata agama bukanlah faktor yang menyebabkan mereka merasa bersalah atau tidak, meskipun agama Katolik Roma yang mereka anut mengajarkan bahwa rasa bersalah harus timbul ketika melanggar larangan agama.

Hanya sekitar 7 persen responden saja yang mengaku merasa bersalah karena sudah berbuat dosa. Setelah diselidiki lebih mendalam, ternyata perasaan bersalah itu baru timbul jika perilaku mereka dibenci oleh orang yang paling mereka cintai, atau mendapat penolakan dari kalangan masyarakat umum.

Penelitian ini membuktikan bahwa di negara-negara Eropa, khususnya di Italia, faktor pengendali sosial yang paling ampuh ternyata bukan berasal dari agama, melainkan dari hukum adat atau kebiasaan masyarakat yang berlaku disana. (kapanlagi)

Mengapa Berat Badan Sulit Dipertahankan?

Banyak sekali beredar iklan yang gencar membantu Anda menurunkan berat badan, dalam tiga hari, seminggu, pokoknya dalam waktu singkat. Cara yang dilakukan juga bermacam-macam, dari kasur pemanas, sabuk elektromagnetik, salep dan sebagainya. Apakah cara-cara tersebut efektif? Mungkin saja berat badan turun, namun begitu asupan makanan berlebih, badan kembali melembung. Mengapa demikian?

Para ilmuwan telah menemukan alasan mengapa lebih sulit mempertahankan berat badan yang telah mati-matian diturunkan. Suatu tim peneliti di Columbia University, New York menunjukkan bahwa penyebabnya adalah turunnya tingkat kandungan hormon leptin yang mengendalikan selera makan.

Mereka menemukan bahwa suntik hormon pada orang yang baru saja menurunkan berat badannya akan mencegah kembalinya ke berat semula. Hasil penelitian ini dimuat dalam Journal of Clinical Investigation.

Diperkirakan, lebih dari 85 persen penderita kegemukan umumnya sulit mempertahankan berat badan yang telah diturunkan. Sebab, asupan makanan berlebih dapat mengembalikan ke berat sebelumnya.

Dalam penelitian tersebut ditunjukkan bahwa kecenderungan ini berlangsung karena sejumlah perubahan fungsi metabolisme tubuh, hormon, dan sistem syaraf. Tim Columbia yakin perubahan ini didorong rendahnya tingkat kandungan leptin. Hormon tersebut dibuat dalam jaringan lemak dan ketika seseorang kehilangan berat badan, produksi leptinnya turun drastis.
Sebaliknya saat asupan makanan berlebih, kandungan leptin juga naik dan mendorong proses perubahan sebaliknya yang menyebabkan berat badan semakin besar.

Untuk menguji teorinya, para peneliti memberikan dosis leptin kepada sukarelawan berbadan kurus dan berbadan gemuk yang baru saja menurunkan berat badannya. Mereka menemukan adanya perubahan metabolisme dan hormon pada keduanya. Tubuh manusia tidak dapat mencegah kembalinya berat badan ketika proses perubahannya berbalik, kecuali tingkat kandungan leptin dikembalikan ke tingkat yang sama dengan kondisi saat sebelum berat badan turun.

Leptin diketahui memainkan peranan penting dalam mengendalikan selera, tapi penjelasan secara ilmiah belum dapat dipastikan. Injeksi leptin telah digunakan untuk membantu penderita kegemukan - yang juga kekurangan hormon tersebut - untuk mengurangi berat badannya. Namun, pendekatan tersebut tidak akan berguna bagi penderita kegemukan yang kadar leptin tubuhnya normal.

Obat baru

Para peneliti berharap, suatu saat dapat dikembangkan obat baru untuk mempertahankan berat badan yang dapat mengatur fungsi tubuh yang memantau kandungan leptin.
Pemimpin penelitian Dr. Michael Rosenbaum menyatakan, jika ditelusuri, hal tersebut sebenarnya telah mendorong nenek moyang kita untuk mencegah perubahan perilaku lemak. Mereka seringkali makan banyak lemak pada waktu-waktu tertentu saat bahan makanan terbatas.

Saya pikir, lanjut Rosenbaum, faktor genetik manusia diperkaya dengan gen-gen yang mempertahankan berat badan dan kurangnya gen-gen tersebut akan mencegah naiknya berat badan. "Kita telah hidup ratusan ribu tahun sehingga dapat menentukan kapan makan lebih banyak atau mengurangi makan untuk menyimpan energi," kata Rosenbaum. Tapi, mungkin saja kita sekarang hidup pada lingkungan yang tidak mendukung adaptasi melalui cara-cara tersebut.

Dr Ian Campbell, kepala National Obesity Forum juga yakin suatu saat dapat dikembangkan cara pengobatan kegemukan yang mengatur kadar leptin. Meskipun demikain, cara terbaik untuk mengatur berat badan adalah dengan olahraga dan aktivitas fisik.

Ruangan khusus untuk mengobati kegemukan adalah salah satu solusi, tapi gaya hidup dan kebiasaan adalah faktor pertama yang harus ditekankan. Dan yang paling penting, lanjut Campbell, cara mengatur berat badan adalah selalu memantau menu makanan atau diet dan melakukan olahraga secara rutin.

(Sumber: bbc.co.uk -Penulis: Wah-Kompas)

Turunkan Berat Badan Tanpa Siksaan

Anda mungkin tak langsung percaya saat diberitahu bahwa yang paling penting bagi Anda untuk menurunkan berat badan bukan mengurangi makan melainkan makan dengan cara berbeda.

Penelitian terkini di bidang gizi menunjukkan sesungguhnya ada cara baru memenangkan perang melawan kegemukan-tanpa diet dan tanpa memaksakan diri menahan lapar. Kesimpulan itu didasarkan pada pemahaman tentang makanan mana yang membuat Anda lebih produktif dan memberi Anda energi sejati, serta makanan mana yang hanya menggendutkan perut.

Berikut ini cara makan yang balk untuk kesehatan sekaligus memenuhi kebutuhan Anda sebagai orang yang mempunyai selera.

1. Banyak minum air. Minum air segar sebanyak-banyaknya merupakan satu cara untuk mengurangi nafsu makan. Selain membuat perut terasa penuh, banyak orang juga salah mengira bahwa mereka lapar padahal sesungguhnya hanya haus. Usahakan meneguk 8 gelas air sehari, dengan sekali minum setengah gelas selama sepanjang hari.

Sementara Anda minum air sepanjang hari, perlu diingat bahwa kafein dalam minuman kola, kopi, atau teh mempunyai efek merugikan. Kafein termasuk diuretik, jadi cenderung membuang air dari dalam tubuh. Karena alasan itu, kebanyakan dokter menganjurkan kepada mereka yang menjalani program penurunan berat agar minum tak lebih dari tiga takar minuman berkafein dalam sehari.

2. Jauhkan diri dari lemak. Lemak membuat kita kegemukan karena jauh lebih mudah diserap dan disimpan oleh tubuh ketimbang karbohidrat atau protein. Karbohidrat hampir dengan segera dibakar oleh tubuh, sedangkan lemak, yang lebih kaya kalori, terbakar lebih lambat dan kelebihannya akan ditinggalkan dan dikalungkan pada perut Anda, seperti ban cadangan.

Mulailah mengurangi lemak dari sumbernya: Kurangi makan daging, gorengan, dan produk susu serta hidangan penutup kaya lemak. Hati-hati juga dengan salad yang disiram atau dibumbui dengan bahan berlemak. Sehubungan dengan ini, Anda dianjurkan menjaga agar total kalori yang diperoleh dari lemak dibatasi hingga 25 persen dari seluruh kebutuhan kalori sehari-hari.
Makanan kaya lemak memiliki kaitan erat dengan obesitas, yang pada gilirannya berhubungan dengan meningkatnya risiko menderita bermacam kanker. Orang bijak mengatakan, makanan kaya lemak termasuk penyebab begitu banyak penyakit, sehingga alangkah baiknya bila kita hanya mengkonsumsi makanan yang miskin lemak.

3. Jangan sampai kelaparan. Apabila Anda menggantikan kalori yang berlebihan dari lemak dengan kalori dari karbohidrat, Anda sesungguhnya dapat makan lebih banyak namun tetap kehilangan berat. Maka penuhilah piring Anda dengan pasta yang kaya karbohidrat (tanpa saus berlemak), sereal, roti, kacang merah, sayuran segar dan bush-buahan untuk mengisi perut Anda ketika sedang lapar.

4. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Apabila Anda tak bisa bersantai dan menikmati program perampingan tubuh Anda, pada akhirnya Anda akan rugi sendiri. Tidak usah menghukum diri sendiri bila sesekali Anda menyantap sedikit kue atau daging. Apabila selama 80 persen hidup ini Anda makan makanan yang miskin lemak, ketika Anda sedang ke luar kota atau berkunjung ke rumah mertua, nikmatilah acara perjamuan yang mereka selenggarakan bagi Anda, dan tidak usah menolak ketika disuguhi makanan berlemak, katanya.

5. Tatap terus hadiah yang menanti Anda.Berikut ini kabar baik bagi Anda: Jika Anda terus menjalani pola makan miskin lemak cukup lama, Anda akan kehilangan selera Anda terhadap makananmakanan kaya lemak. Sebuah studi selama empat tahun terhadap lebih dari 2000 orang di Fred Hutchinson Cancer Research Center di University of Washington di Seattle menunjukkan bahwa orang yang membatasi asupan lemak kehilangan keinginan mereka untuk menyantap makanan berlemak dalam waktu enam bulan atau kurang, dan akhirnya menjadi tidak suka kepada jenis makanan seperti itu. Maka bertahanlah-nanti akan semakin mudah.

6. Pecat dua serangkai yang jahat ini. Lemak dan gula. Ketika tubuh diberi gula, ia menanggapinya dengan melepaskan insulin. Karena insulin adalah jenis hormon yang berurusan dengan penyimpanan, hormon ini memudahkan penyimpanan sel-sel lemak ke dalam gudang. Maka ketika Anda makan gula, usahakan agar asupan lemak pada saat itu serendah mungkin. Selain itu, lemak dan gula bila sedang bersama-sama dapat meningkatkan nafsu makan Anda ke tingkat yang sulit dikendalikan. Makanan manis menyebabkan peningkatan kadar gula dalam darah, yang, karena reaksi berantai dalam tubuh, membuat selera makan Anda memuncak. Maka gabungkan minuman manis Anda dengan buahbuahan segar atau sereal tanpa gula alih-alih dengan donat atau coklat batangan dan permen.

7. Makan sedikit-sedikit tetapi sering. Sebagian peneliti mendukung gagasan untuk menyantap makanan kecil sepanjang hari sebagai ganti makan besar tiga kali sehari untuk mengendalikan nafsu makan clan mencegah rakus.

8. Pilih makanan yang pedas. Makanlah makanan yang pedas-pedas untuk meningkatkan laju metabolisme Anda, karena ini akan membakar kalori lebih banyak. Ketika orang menyantap makanan yang pedas, biasanya mereka berkeringat, suatu tanda bahwa metabolisme sedang meningkat. Dan makin cepat metabolisme, makin banyak panas yang ditimbulkan oleh tubuh. Ingat, apa pun yang membuat Anda hangat pada gilirannya akan membuat Anda langsing. Akan tetapi waspadai makanan yang sangat kaya lemak, walaupun rasanya pedas sekali.

9. Mulailah dengan sup. Sup sebagai pembangkit selera cenderung mengurangi jumlah makanan pokok yang Anda makan, demikian kata beberapa studi. Dalam sebuah studi dari Johns Hopkins University di Baltimore, mereka yang menyantap sup sebelum menyantap makanan pokok biasanya memasukkan 25 persen kalori lebih sedikit daripada mereka yang mengawali makan dengan keju dan kue kering. Penyebabnya mungkin volume ruang yang diambil oleh sup di dalam perut atau karena sebagian besar kalori yang terkandung dalam sup terdiri atas karbohidrat, bukan lemak, kata peneliti. Atau barangkali ada faktor psikologis yang bekerja.

10. Menahan dan mencermati rasa lapar.Apabila Anda merasakan dorongan yang kuat sekali untuk makan sebanyak-banyaknya, jangan langsung menerjemahkannya sebagai perintah untuk makan. Walaupun Anda mungkin mengira bahwa rasa lapar itu akan membuat Anda seperti dilindas sebuah truk 18 roda, penelitian menunjukkan bahwa rasa lapar berlebihan ini biasanya datang, meningkat, memuncak, tetapi kemudian menurun lagi. Alihkan perhatian Anda dari situ dengan berjalan-jalan atau apa pun yang sulit dikerjakan sambil makan. Ini akan membantu mengusir keinginan makan itu.(Kompas)

Cara Aman Menurunkan Bobot Tubuh

BOBOT tubuh di atas normal, apalagi bila telah mencapai kategori obesitas, sudah dibuktikan melalui berbagai penelitian empiris, merugikan kesehatan. Penyakit yang berhubungan dengan kelebihan berat tubuh antara lain naiknya risiko terkena penyakit jantung, diabetes, bahkan pada perempuan ada yang menghubungkan obesitas dengan risiko kanker payudara.

MESKIPUN tidak sedikit juga orang yang ingin melangsingkan bobot tubuhnya karena alasan penampilan, yang jelas menurunkan bobot tubuh sebaiknya tidak dilakukan dengan sembarangan. Prinsip paling utama yang harus disadari adalah bahwa bobot tubuh merupakan keseimbangan antara asupan kalori ke dalam tubuh dan yang dibakar oleh tubuh. Selain itu, yang lebih penting lagi, tiap orang adalah individu yang unik sehingga yang cocok untuk si A belum tentu cocok untuk si B.

Dokter spesialis gizi medis dr Kunkun K Wiramihardja, MS, yang mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung berpendapat, sebelum seseorang melakukan program pengurangan bobot tubuh dia harus mengetahui indeks massa tubuh (IMT)-nya. Ukuran yang berlaku internasional ini menunjukkan apakah seseorang sudah memiliki bobot tubuh ideal.

Hal yang sama dikemukakan ahli gizi RSPAD Gatot Soebroto, Yusnalaini Y Makawi. Ada lima prinsip dalam penurunan berat badan. Yakni, pengaturan pola makan (diet), psikoterapi atau perubahan gaya hidup, olahraga, penggunaan obat-obatan, dan pembedahan atau dengan bantuan alat yang lain.

"Tiga yang pertama merupakan ti- tik penting dalam usaha penurunan berat badan. Sedangkan dua yang terakhir sifatnya hanya membantu mempercepat proses penurunan. Jadi kedua prinsip terakhir bukan yang utama. Masalahnya orang sering membalik urutan itu," tukas Yusnalaini.

Orang membalik urutan tersebut karena mau mencapai berat badan yang diidamkan secara cepat. "Padahal percuma saja minum obat-obatan bila makan tidak dijaga," tukas Yusnalaini.
Menurut Kunkun, pada prinsipnya penyebab kelebihan bobot tubuh adalah unsur karbohidrat dan lemak. Karena itu, sebelum melakukan penurunan bobot tubuh, harus diketahui apa penyebab kegemukan seseorang. Selain itu, juga disarankan tidak lagi makan setelah pukul 19.00 karena biasanya aktivitas tubuh sudah rendah saat itu.

JIKA ingin menurunkan bobot badan, tidak boleh langsung menurun- kan dalam jumlah besar, melainkan harus bertahap, disiplin, dan di bawah pengawasan ahli. "Sebaiknya orang hanya menurunkan berat badan dua kilogram dalam sebulan, maksimal empat kilogram. Selebihnya, sangat berisiko," kata Yusnalaini.

Sedangkan jumlah penurunan yang baik adalah 5-10 persen dari bobot badan awal pada tahap perta- ma. "Jika dipaksakan lebih dari itu, maka risiko untuk kembali gemuk justru sangat besar," tambah Yusnalaini.

Jadi jika seseorang mempunyai bobot badan 86 kilogram dan ingin menurunkan bobot badan, maka yang diperbolehkan hanya 4,3 kilogram-8,6 kilogram untuk tahap awal. Jika dalam satu bulan hanya menurunkan dua kilogram, maka penurunan tahap awal bisa dicapai dalam waktu 2,5 bulan sampai 4,5 bulan. Setelah itu, untuk penurunan selanjutnya, harus dikonsultasikan kepada ahli.

Kemudian, untuk mengetahui apakah seseorang kurus atau gemuk, maka harus melihat Indeks Massa Tubuh (IMT). Cara menghitungnya adalah bobot dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat.

Misalnya, jika seorang punya bobot badan 86 kilogram dan tinggi badannya 170 sentimeter, maka IMT-nya adalah kelebihan bobot badan tingkat berat atau obesitas. Caranya, 86:2,89 (didapat dari 1,7x1,7), akan menghasilkan 29,75. Angka ini masuk ke katagori gemuk obesitas dalam tabel IMT.

Jadi jika dari tabel itu orang dengan katagori gemuk obesitas ingin masuk ke katagori normal, IMT-nya harus mencapai 18,5 - 25 (lihat tabel). Caranya, tinggal menghitung 2,89 x 18,5 = 53,46 atau 2,89 x 25 = 72,25. Jadi untuk tinggi badan 170 sentimeter, bobot normal adalah 53,46 kilogram sampai 72,25 kilogram.

"Jika orang bertubuh 86 kilogram dan ingin turun menjadi 72,25, maka dia tidak boleh langsung menurunkan 13,75 kilogram sekaligus, tetapi tetap harus mengikuti prinsip 2-4 kilogram setiap bulan," tambah Yusnalaini.

Menurut Kunkun, orang dengan MTI di bawah 18,5 termasuk kategori kekurangan gizi, sementara bila MTI-nya di atas 27 berarti mengalami kegemukan.

Meskipun begitu, bila seseorang setelah dihitung IMT-nya berada di luar nilai normal yaitu 20-25, menurut Kunkun tidak berarti orang itu menderita obesitas. Berat badan lebih ada banyak penyebabnya, antara lain harus diperhatikan massa otot dan tulang yang boleh jadi lebih besar dari rarata-rata.

"Perlu diteliti penyebab kegemukan agar kita mengetahui nutrisi yang diperlukan tubuh dan apa yang harus dibuang," jelas Kunkun.

HAMPIR semua program penurunan berat badan bisa efektif mengurangi berat badan, tetapi hanya jika dibarengi dengan mengurangi kalori yang dimakan dan menambah kalori yang dibakar.

Menurut Kunkun, diet secara drastis, misalnya dengan menghentikan makan sama sekali, atau hanya makan buah-buahan atau makan sayuran melulu.

"Tubuh memerlukan semua zat gizi, termasuk lemak. Makan buah pun jika berlebihan dapat menyebabkan kegemukan. Yang penting, makan secukupnya, empat sehat lima sempurna," tambah dia.

Diingatkan oleh Yunalaini, banyak orang tergoda obat pelangsingan karena ingin mendapatkan berat ideal dengan cepat. "Mereka lupa bahwa jika tubuh kehilangan berat dengan cepat, maka kemungkinan bobotnya kembali ke posisi semula juga semakin cepat. Ada ruang kosong di situ yang mudah diisi kembali," kata Yusnalaini.

Yang juga sering dilupakan konsumen adalah setelah meminum suplemen atau jamu penurun bobot tubuh, mereka tidak peduli terhadap asupan makanan dan olahraga.

Keadaan ini biasanya terjadi pada mereka yang mobilitasnya tinggi dengan posisi sosial tinggi yang mengakibatkan mereka sering harus menjamu atau dijamu makan. "Karena kondisi itu, biasanya mereka mengambil jalan pintas tanpa mau capai," kata Yusnalaini.

Kunkun dan Yusnalaini menekankan pentingnya mengubah pola makan, terutama ngemil. "Jangan misalnya, makan sambil nonton televisi," tambah Yusnalaini.(Kompas)

Gemuk tapi Sehat


BERAT badan ideal tentu menjadi impian semua orang. Bila berlebihan alias gemuk dapat menyebabkan si pemilik merasa minder dan terancam kesehatannya.

Bahaya dari kegemukan ditentang beberapa ahli. Salah satunya diungkapkan Emeritus Profesor dari Clinical Biochemistry University of Surrey Dr Vincent Marks. "Tingkat obesitas yang mewabah terlalu dibesar-besarkan," ujar Marks seperti dilansir AP baru-baru ini.

Marks adalah salah seorang ahli yang meragukan ancaman dari obesitas. Mereka menyatakan, bahaya obesitas telah bercampur dan sedikit bukti yang menyatakan, menjadi gemuk merupakan pemicu beberapa penyakit seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung, dan kanker.

Tentu saja hal itu berlawanan dengan pernyataan para dokter selama ini, kegemukan disalahkan untuk kondisi seperti diabetes yang berlanjut pada penyakit jantung, ginjal,dan saraf. Bahkan, bukti-bukti juga mengatakan, kanker berkaitan dengan peningkatan berat badan.

"Bukti yang mengaitkan obesitas dengan diabetes dan kardiovaskular sangatlah kuat. Diabetes tipe 2 sangat jarang dialami oleh orang yang tidak mengalami obesitas," tegas Dr James Hill, Direktur Center for Human Nutrition di University of Colorado.

Namun, para ahli yang menentang mengatakan, tidak ada data menjadi gemuk akan berbahaya. Eric Oliver, penulis Fat Politics sekaligus political science professor di University of Chicago, menegaskan tidak ada hubungan sebab-akibat yang meyakinkan.

Menyalahkan obesitas terhadap penyakit diabetes dan serangan jantung, menurut Oliver, seperti menyalahkan kanker paru-paru pada napas buruk dibandingkan kebiasaan merokok. Dia menuturkan, penambahan berat badan dapat menjadi pengalih perhatian, dibandingkan faktor lain seperti olahraga, pola makan atau kecenderungan genetik terhadap penyakit tertentu lebih sulit diukur dibandingkan berat badan.

Seperti pemerintah Inggris yang memperingatkan hampir setengah dari masyarakatnya akan mengalami obesitas pada 2050.

Menurut para ahli yang meragukan ancaman tersebut, masalah utamanya adalah terlalu banyak orang yang dianggap gemuk, disatukan dengan kondisi obesitas atau kelebihan berat badan.
"Berada dalam kondisi yang direndahkan bukanlah kelemahan kesehatan. Sebagian orang yang memiliki kelebihan berat badan mungkin tidak terlihat langsing,tapi mereka dalam kondisi sehat," tutur Marks.

Seperti didefinisikan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), seseorang yang memiliki indeks massa tubuh atau body mass index melebihi dari 25 dikategorikan kelebihan berat badan. Kemudian, orang yang angka kelebihan indeks massa tubuh hingga 30, dikategorikan obesitas.Sebagian besar ahli sepakat, pengategorian tersebut tidak sempurna (Sindo)

Jadi Langsing Tanpa Pusing!

Dulu banyak orang percaya "gemuk itu lambang kemakmuran". Namun, setelah terbukti obesitas (kegemukan) potensial mengundang beragam penyakit, banyak orang gemuk beralih ingin langsing. Segala cara dihalalkan, yang penting kurus. Alhasil, badan belum langsing, kepala sudah pusing tujuh keliling. Ya pusing karena masih gendut, ya pusing lantaran banyak duit terkuras.

Bagaimana mengatasinya? Obesitas memang susah ditolak kedatangannya. Bertambah baiknya kondisi sosial ekonomi, biasanya otomatis membuat berat badan melambung tak terkendali. Obesitas sendiri merujuk pada situasi kelebihan berat badan, akibat penumpukan lemak pada jaringan tubuh sudah melebihi 30% (wanita) dan di atas 25% (pria). Normalnya, komposisi lemak tubuh pria 12 - 28 % dari total berat badan. Sementara wanita 18 - 24%.

Kegemukan membuat tubuh cepat lelah jika dibawa bekerja keras, debar jantung lebih kencang, serta pernapasan terganggu. Terlalu gemuk juga kadang menjadi pemicu munculnya penyakit kelas berat, seperti diabetes, hipertensi, hiperlipidemia, dan penyakit jantung. Namun, di samping alasan kesehatan, kadang ada juga yang berkeras menurunkan bobot badannya lantaran dilandasi problem psikologis. Misalnya untuk menambah kepercayaan diri.

Ada beberapa cara konvensional untuk mengatasi kegemukan, seperti banyak melakukan olahraga, mengatur pola makan, hidup teratur, atau dengan menggunakan "alat bantu" semisal slimming tea, metode pengobatan akupuntur, sampai pemakaian obat modern yang mengandung bahan kimia. Namun, cara-cara di atas tidak semuanya aman. Tak jarang malah menimbulkan efek sampingan cukup mengganggu.

Dari keluarga obat-obatan konvensional, yang lumayan kerap digunakan adalah orlistat, yang bekerja menahan penyerapan lemak dan menghambat pemecahan molekul lemak dalam usus besar. Efek sampingan biasanya timbul berupa buang air kecil tidak terkontrol dan munculnya rasa tidak nyaman pada perut. Bahayanya, jika obat jenis ini digunakan terus-menerus, tubuh bisa dengan mudah kehilangan vitamin A, D, E, K yang larut dalam lemak.

Jenis obat kurus kedua berasal dari keluarga amfetamin, sanggup bekerja sebagai penahan nafsu makan. Namun, obat ini pun punya efek sampingan, yaitu sukar tidur (insomnia), gelisah, gemetar (tremor), sakit kepala, hipertensi, hingga jantung berdebar. Obat lainnya, berasal dari golongan furosemid lebih bersifat diuretika atau memperbanyak pengeluaran cairan tubuh. Berat badan berkurang lantaran mengecilnya sel-sel tubuh. Risikonya, dehidrasi dan kerusakan ginjal.
Menggumpal di lambung

Obat laksansia (pencahar) kadang digunakan pula buat menurunkan berat badan, meski sesungguhnya tak dibenarkan. Laksansia memang dapat mempercepat proses keluarnya kotoran dari usus, terutama jika terjadi gangguan pada saluran pembuangan. Namun, penggunaan laksansia dalam waktu yang panjang dan terus menerus berpotensi menyebabkan gangguan pada usus serta gangguan elektrolit, terutama kehilangan kalium yang dapat menyebabkan obstipasi (gangguan "pembuangan" yang parah).

Beberapa tahun terakhir, pasar juga dibanjiri produk suplemen makanan, yang disebut makanan dan minuman berserat. Suplemen jenis ini akan menggumpal dalam lambung, sehingga mengurangi nafsu makan. Perut pun rasanya kenyang terus, meski tak banyak makanan yang masuk. Tapi lagi-lagi, penggunaan suplemen ini secara terus-menerus dalam jangka panjang juga membahayakan, karena berpotensi menyumbatan usus besar.

Cara lain yang juga sering digunakan untuk menurunkan berat badan adalah akupuntur. Tusuk jarum ini dapat mengurangi lapar dan nafsu makan, sehingga ujung-ujungnya mengurangi kalori yang masuk ke dalam tubuh. Akupuntur pada lokasi yang tepat di telinga dapat menghambat pusat makan di hypothalamus dan menghambat peristalsis otot pada usus. Pergerakan lambung pun berkurang, sehingga nafsu makan turun. Efek sampingannya, antara lain sakit kepala, nyeri di telinga, mual dan muntah, akan hilang bila jarum dicabut.

Terakhir, banyak juga orang gemuk mencoba minum slimming tea agar bisa tampak sedikit kurus. Produk yang beredar di pasar lazimnya mengandung teh (Tea sinensis) 80% dengan tambahan bahan lain yang mendukung seperti daun jati belanda, adas, kayu rapat, temu giring, akar wangi, dan alang-alang. Kadar kafeinnya antara 3 - 5 %, yang mempunyai efek stimulan sekaligus penekan pusat nafsu makan.
.
Oleh-oleh Portugis

Selain cara-cara di atas, ada cara mencapai langsing lainnya yang kecil kemungkinannya bikin pusing. Yakni dengan memanfaatkan tanaman obat. Cara ini belakangan banyak dipilih orang, lantaran dianggap lebih aman, tidak mempunyai efek sampingan, bahannya mudah didapat, dan yang paling penting: tak bikin isi kantung ludes. Enggak harus belanja ke toko atau apotik lagi!

Secara empiris, beberapa tanaman obat yang pernah digunakan untuk menurunkan bobot ba-dan, antara lain buah matang mengkudu (Morinda citrifolia), buah matang nanas (Ananas comosus), daun jati belanda (Guazuma ulmifolia), buah delima (Punica granatum ), rimpang temu giring (Curcuma heyneana), rimpang bangle (Zingiber purpureum).

Saat ini, salah satu obat tradisional pengurus yang paling banyak dikonsumsi masyarakat adalah jamu galian singset. Dari ramuan jamu galian singset itu, ternyata daun jati belanda merupakan komponen yang selalu ada. Pohon jati belanda berasal dari daerah tropis di benua Amerika, konon dibawa ke Pulau Jawa oleh orang Portugis. Jati belanda biasanya ditanam sebagai pohon peneduh di sepanjang jalan, meski di banyak tempat, dia juga tumbuh sebagai tanaman liar.

Daun jati belanda dapat mengurangi pembentukan lemak, menguruskan dan merampingkan badan. Buahnya bisa juga dimanfaatkan untuk obat diare dan batuk, sedangkan kulit batangnya cocok untuk tonikum, serta obat penyakit lepra dan herpes. Cara pemakaiannya gampang. Dua puluh lembar daun jati belanda dicuci dan dipotongpotong, lalu direbus dengan air bersih sebanyak kira-kira tiga gelas makan. Setelah dingin, kemudian disaring dan diminum 2 - 3 kali sehari. Agar rasanya lebih enak, boleh ditambah gula secukupnya.

Sejumlah penelitian pernah dilakukan untuk menguak misteri jati belanda, terutama khasiat dan keamanannya. Beberapa peneliti mencoba mencari tahu pengaruh pemberian daun jati belanda setiap hari secara terus menerus selama tiga bulan pada tikus. Ternyata daun jati belanda tidak menyebabkan terjadinya perubahan gambaran hematology (penelitian Pramono S), juga tidak menyebabkan kerusakan hepar (hati). Gejalanya ditunjukkan dengan tidak berubahnya aktivitas SGPT dan sel-sel hepar (penelitian Yeniwati).

Konsumsi jati belanda pun tidak menyebabkan perubahan pada ginjal, setelah dilakukan pemeriksaan kadar kreatinin dan urea (penelitian Husni Y). "Kecurigaan" muncul, barangkali lendir di dalam daun jati belandalah yang memegang peranan dalam menurunkan berat badan, karena tampaknya lendir itulah yang menyebabkan perut selalu merasa kenyang.

Namun, seorang peneliti lain, Nurwati S, menemukan bahwa penurunan bobot badan hewan percobaan tadi tidak dipengaruhi oleh jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi sang tikus.

Proses yang terjadi kemungkinan berkurangnya jumlah lemak tubuh, karena setelah mengonsumsi daun jati belanda, air seni akan sedikit lebih berminyak. Sayangnya, belum ditemukan hasil penelitian lebih lanjut, yang melihat jumlah lemak pada perut hewan percobaan, sebelum dan setelah pemberian daun jati belanda.
.
Tinggal minum

Selain jati belanda, masih banyak tanaman obat yang secara empiris digunakan untuk menurunkan bobot badan, namun belum didukung data ilmiah.
.
Kemuning (Murraya paniculata)
Cara pemanfaatannya, segenggam penuh daun kemuning ditambahkan ke segenggam penuh daun mengkudu (Morida citrifolia) dan 1/2 jari kelingking temugiring (Curcuma heyneana). Bahan-bahan tersebut ditumbuk halus sambil ditambahkan satu cangkir air, kemudian diperas dan diminum pagi-pagi sebelum makan.

Pohon mengkudu
Kalau Anda tak suka ramuan daun jati belanda dan daun kemuning, jangan takut, masih ada alternatif lainnya. Carilah pohon mengkudu yang sudah berbuah. Cuci sampai bersih dua buah mengkudu yang sudah masak, lalu diparut, diperas, dan disaring. Setelah selesai, ramuannya diminum dua kali sehari.

Buah nanas
Jika buah mengkudu di hati masih belum pas, carilah buah nanas. Buah yang rasanya segar itu diam-diam berkhasiat juga lo untuk meluruhkan timbunan lemak berlebihan di badan. Resep penggunaannya, kupas buah nenas yang telah masak dan besarnya lumayan. Kemudian cuci dan parut sampai habis. Setelah itu peras dan saring. Nah, air perasannya diminum dua kali sehari.

Buah delima.
Buah eksotis ini diyakini bersifat sebagai astringent karena mempunyai zat samak. Zat samak diketahui mengendapkan protein yang terdapat dalam mukus yang melapisi bagian dalam usus. Dengan demikian, penyerapan makanan di usus menjadi terhambat, pemakannya pun tidak jadi gemuk. Cara memanfaatkannya, siapkan dua buah delima yang masih muda. Cuci dan tumbuk sampai halus. Setelah itu, remas dengan air masak, tambahkan garam sedikit, lalu peras, dan saring. Selesai? Minumlah 1 - 2 kali sehari.

Selain tanaman yang disebut diatas, beberapa jenis tanaman obat yang juga sering masuk dalam ramuan jamu galian singset adalah kumis kucing (Orthosiphon stamineus), meniran (Phyllanthus niruri), jung rahab (Baeckea frutescens). Fungsi tanaman-tanaman itu di dalam ramuan lebih bersifat sebagai diuretik atau membantu mengeluarkan cairan tubuh, tidak berkaitan langsung untuk menurunkan berat badan.

Oke, informasi ini barangkali tak sesempurna yang Anda harapkan. Namun paling tidak, dengan mengetahui manfaat dan kehebatan deretan tanaman obat antigemuk, Anda kini betul-betul punya alternatif. Bahwa menjadi langsing itu tak mesti selalu diikuti kepala pusing dan bablasnya isi kantung. Wong mau langsing aja kok repot!, oleh ; Lucie Widowati, staf Puslitbang Farmasi dan Obat Tradisional, Depkes, di Jakarta (intisari)-kompas