KUMPULAN MAKALAH, SKRIPSI, & TIPS DAN TRIK

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Showing posts with label sufisme. Show all posts
Showing posts with label sufisme. Show all posts
IMAM AL-GHAZALI

IMAM AL-GHAZALI

BIOGRAFI

Nama lengkapnya adalah Imam Abu Hamid al-Ghazali, dia dilahirkan pada tahun 450 H/1058 M (setelah Dinasti Seljuk merebut kekuasaan di Baghdad), di kampung Gazalah daerah Tus, wilayah Khurasan. Ayahnya bernama Muhammad, dia adalah seorang penenun dan mempunyai toko tenun di kampungnya. Kehidupannya sangat miskin, tetapi dia seorang pecinta ilmu yang taat menjalankan agama. Ayah al-Ghazali meninggal ketika al-Ghazali masih kecil. Al-Ghazali dititipkan di sebuah madrasah yang menyediakan biaya hidup bagi murid-muridnya. Guru al-Ghazali yang utama di madrasah itu adalah Yusuf al-Nassaj, seorang sufi terkenal.

Pada masa kecilnya, al-Ghazali juga belajar pada Ahmad bin al-Razakani (seorang faqih), lalu dia pergi ke Jurjan dan belajar pada Imam Abu Nasr al-Isma’ili. Setelah itu dia kembali ke Tus dan terus pergi ke Naisabur. Di sini dia belajar pada salah seorang teolog aliran Asy’ariyah yang terkenal yaitu Abu al-Ma’ali al-Juwaini, yang bergelar Imam al-Haramain. Di sini al-Ghazali belajar tentang studi teologi yang mendasari diri pada mempelajari al-Qur’an, hadits, dan hukum Islam sesuai madzhab Imam Syafi’i. Beberapa waktu kemudian, al-Ghazali diangkat sebagai dosen di sekolah agama Nizamiyah di Baghdad, tempatnya mengajar teologi dan hukum Islam.

Tahun 1095, al-Ghazali mengalami sejumlah goncangan batin, sebuah krisis spiritual, sebagai akibat dari sikap keragu-raguannya, sikapnya ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam hatinya, yaitu :

1. Apakah pengetahuan yang hakiki itu?

2. Apakah ia diperoleh melalui indra atau melalui akal?

Pernyataan-pertanyaan inilah yang pada akhirnya memaksanya untuk menyelidiki kebenaran-kebenaran pengetahuan manusia. Hampir 6 bulan dia terombang-ambing antara dunia dan akhirat. Pada tahun 488 H/1095 M, al-Ghazali pergi ke tanah Syam, kota Damaskus untuk berkhalwat (menghindarkan diri dari segala hiruk pikuk manusia, mengasingkan diri di puncak masjid Jami’ di kota Damaskus). Dia berkhalwat selama 2 tahun.

Setelah mengabdikan diri untuk ilmu pengetahuan, menulis dan mengajar, maka pada usia 55 tahun al-Ghazali meninggal dunia di Kota Tus, pada tanggal 14 Jumadil Akhir 505 H/19 Desember 1111 M.

AJARAN-AJARAN AL-GHAZALI

Menurut al-Ghazali, orang hanya tertarik dengan ujung-ujung filsafat, tetapi orang tidak menggali sampai pada uratnya. Padahal kalau sekiranya digali sampai ke urat, filsafat tidaklah memperoleh pendirian ketuhanan, tapi hanyalah akan menggoyahkannya. Al-Ghazali menegakkan ilmu Kalam sebagai suatu ilmu. Kata-kata filsafat tidak lagi semata-mata dipinjamnya untuk menguatkan pendiriannya, tetapi telah diperbaikinya dan dijadikannya suatu ilmu yang tahan uji. Ghazali menggabungkan filsafat, lanjutan faham Socrates, Plato, Aristoteles, Zeno, Epicus, Diogenes, Aristippus, dan lain-lain. Al-Ghazali menarik kesimpulan bahwa “filsafat itu ialah mengemukakan akal, tetapi akal itu sendiri tidak senantiasa dapat dipercaya buat sanggup mencapai kebenaran yang mutlak”.

1. Al-Munqizu Minadh Dhalal

Dalam kitab ini dapat dilihat usaha Ghazali merenungi laut ma’rifat, menari tempat berpegang. Dilukiskannya bagaimana kesan dan perasaannya melihat masyarakat yang ada di sekelilingnya. Dipelajari setiap agama dan mazhab-mazhab yang ada dalam setiap agama, dipelajari pula filsafat.

Empat golongan yang ada dalam Islam mendapat bahasanya yang mendalam.

a. Kaum mutakallimin (ilmu kalam), ahli teologi Islam.

b. Ahli filsafat

c. Kaum batiniyah

d. Kaum sufiyah

Al-Ghazali kagum dengan filsafat, karena dengan filsafat kita bisa mengasah otak, terutama dalam hal ilmu pasti dan ilmu alam (riyadhah dan tabiat). Tetapi setelah sampai pada soal-soal ketuhanan, nyatalah filsafat hanya terawang akal manusia yang tidak senantiasa dapat dipegang. Dia berpendapat bahwa ketuhanan Aristoteles itu bertentangan dengan agama.

Kaum Dahry/kaum materialis memungkiri adanya yang menjadikan alam, dan berkata bahwa alam terjadi sendirinya.

Kaum Naturalis yang meskipun mengakui adanya Yang Maha Bijaksana tetapi memungkiri bahwa manusia akan dibangkitkan lagi sesudah matinya, dan memungkiri adanya hari pembalasan (akhirat).

Kaum filsafat ketuhanan, yang mengakui memang ada Tuhan, tetapi pengetahuan Tuhan itu hanya tentang perkara-perkara besar dan tidak meliputi juz-i (detail).

Kaum batiniah, berpendapat bahwa ilmu yang khusus tidaklah didapat dengan sembarangan saja. Ilmu “yang sejati” hanya dapat diturunkan dari “Imam yang Ma’shum”, yang suci dari kesalahan dan dosa.

Di dalam “al-Munqizu” tidak banyak beliau membicarakan batiniyah. Batiniyah banyak dikupas dalam buku al-Muztazhiri, al-Kisthsil Mustaqim, dan al-Hujjatul Haq.

Kritik yang hebat kepada filsafat ditulisnya pada kitab “Tahafutul Falasifah”.

2. Tasawuf

Yang sangat menarik al-Ghazali dalam tasawuf ialah latihan-latihan jiwanya. Latihan mempertinggi sifat-sifat yang terpuji (mahmudah) dan menahan dorongan nafsu buat sifat-sifat yang tercela (madzmumah), sehingga menjadi bersihlah hati sanubari. Maka, hati sanubari yang bersih itulah yang dapat mendekati Tuhan, ditambah lagi jika senantiasa dihiasi dengan dzikir, yaitu ingat atau menyebut Allah. Dipelajari dengan seksama perbuatan-perbuatan Nabi Muhammad saw dan sahabat-sahabatnya yang berhubungan dengan ilmu kebatinan. Bahkan dipelajari pula tarikh kehidupan Nabi Isa al-Masih as dan ditelaahnya kitab-kitab karangan kaum sufiyah, sebagai “Qutbul Qutub” karangan Abu Thalib al-Makki, kitab-kitab karangan al-Harits al-Muhasibi, fatwa dan buah renungan al-Junaidi, al-Syibhi, Abu Bustami, bahkan juga al-Hallaj.

Al-Ghazali menyusun buku “Ihya Ulumuddin” (menghidupkan kembali ilmu agama). Suatu buku yang membahas secara luas berbagai masalah keagamaan. Suatu kesanggupan menghidangkan soal besar dalam bahasa yang mudah, gabungan kejernihan otak dengan perasaan hati yang murni. Satu filsafat yang luhur dari seorang anti filsafat. Suatu jelmaan fikiran tinggi dari seorang yang tidak hanya mengemukakan fikiran. Satu kitab buat menyempurnakan faham tentang rahasia Qur’an, satu sastra yang bukan saja untuk muslimin, bahkan kebenaran untuk dunia. Dalam buku inilah dikawinkan kembali di antara lahir dengan batin di antara fiqhi dengan tasawuf dan ilmu kalam. Semuanya buat satu maksud, yaitu mengokohkan Iman dan Cinta kepada Tuhan Sarwa Sekalian Alam.

3. Ma’rifat

Ilmu sejati atau ma’rifat menurut Ghazali ialah mengenal Tuhan. Mengenal Hadrat Rububiyyah. Wujud Tuhan meliputi segala wujud. Tidak ada yang wujud, melainkan Allah dan perbuatan Allah. Allah dan perbuatannya adalah dua, bukan satu. Di sinilah al-Ghazali menjelaskan pendiriannya yang berbeda dengan al-Hallaj dan sufi lain yang berkesan. Wujudnya itu ialah kesatuan semesta (wihdatul wujud). Alam seluruhnya ini adalah makhluk dan ayat (bukti) tentang kekuasaan dan kebesaran-Nya.

Karya-karya al-Ghazali

1. Dalam bidang filsafat

a. Maqasid al-Falasifah

b. Tahafut al-Falasifah

c. Al-Ma’arif al-Aqliyah

d. Mi’yar al-Ilm

2. Dalam bidang ilmu kalam

a. Al-Iqtishad fi al-I’tiqad

b. Al-Risalah al-Qudsiyah

c. Qawa’id al-Aqaid

d. Iljam al-‘Awam ‘an Ilm al-Kalam.

3. Dalam bidang fiqh dan ushul fiqh

a. Al-Wajiz

b. Al-Wasit

c. Al-Basith

d. Al-Musthafa

4. Dalam bidang tasawuf / akhlak

a. Ihya’ Ulum al-Din

b. Al-Munqiz min al-Dalah

c. Minhaj al-‘Abidin

d. Mizan al-‘Amal

e. Kimiya al-Sa’adah

f. Misykat al-Anwar

g. Al-Risalah al-Laduniyyah

h. Bidayah al-Hidayah

i. Al-Adab fi al-Din

j. Kitab al-Arbain.

5. Dalam bidang-bidang lain

a. Yaqut al-Ta’wil fi Tafsir al-Tanzil

b. Jawahir al-Qur’an

c. Al-Mustazhiri

d. Hujjah al-Haqq

e. Mufassal al-Khilaf

f. Al-Darj

g. Al-Qistas al-Mustaqim

h. Fatihah al-‘Ulum

i. Al-Tibr al-Masbuk fi Wasihah al-Mulk

j. Suluk al-Sultanah

RELEVANSI AJARAN TASAWUF AL-GHAZALI

Dasar empiris al-Ghazali membentuk kekhasannya dalam pengembangan ilmu-ilmu keislaman untuk lebih memilih keutamaan filosofis yang dipahaminya menjelaskan dan mendukung keutamaan religius. Al-Ghazali sebenarnya hendak menegaskan tersedianya ruang kosong untuk program ilmu keislaman dalam perkembangan pengetahuan ilmiah. Karenanya, pengembangan dan pelestarian ilmu keislaman adalah mungkin sering pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pengembangan dan pelestarian ilmu keislaman ini pada zamannya sangat berarti dalam mempertahankan kekhasan ilmu-ilmu keislaman, yaitu al-ulum al-syar’iyyah atau ulum naqliyah dan ulum aqliyyah atau ghair syar’iyyah. Kekhasan ilmu-ilmu keislamannya ini memiliki pertahanan yang berbeda, yaitu :

1. Ilmu yang tidak bisa dirubah-rubah oleh manusia

2. Ilmu yang terus berkembang sesuai dengan pengalaman dan hasil penelitian manusia.

Dalam pengembangan dan pelestarian ilmu keislaman di Indonesia, yang kita butuhkan adalah bagaimana melestarikan bangunan epistemologis ulama abad pertengahan dan sekaligus membangun kematangan epistemologi peserta program ilmu keislaman untuk menjawab problem umat manusia, seperti problem kekeliruan mental, kekeliruan intelektual, kekeliruan rasio, paradigma-paradigma yang mengaburkan, dunia yang tak terduga, pengetahuan yang tidak pasti, spesialisasi tertutup, rasionalitas palsu, hilangnya aspek-aspek manusiawi dalam manusia, ketidakpastian sejarah, ketidakpastian realitas, ketidakpastian dalam pengetahuan, dan pemikiran reduktif. Teori empiris al-Ghazali memiliki keunggulan dalam melahirkan kekhasan ilmu-ilmu keislaman, yang relevan untuk pengembangan dan pelestarian ilmu keislaman di Indonesia.

Dalam perspektif pemikiran al-Ghazali, kajian Islam di Indonesia dapat diarahkan pada beberapa hal berikut :

1. Sejauh manfaat yang diberikan kepada manusia dalam kehidupan keagamaan dan kehidupan akhirat, berupa penyentuhan jiwa, perbaikan akhlak, pendekatan diri kepada Allah dan persiapan untuk abadi.

2. Sejauh manfaat yang diberikan kepada manusia dari segi kebutuhan dan dukungan yang diberikan untuk ilmu agama.

3. Sejauh manfaatnya bagi kehidupan manusia.

4. Sejauh manfaat yang diberikan dalam kebudayaan, kesejahteraan manusia serta keterlibatan pada kehidupan kemasyarakatan.

Dasar ilmu keislaman dalam perspektif al-Ghazali adalah adanya keterkaitan antara teori empirisme, keutamaan filosofis dan keutamaan religius. Untuk mengoperasionalkan empirismenya, al-Ghazali tidak hanya mengkaji persoalan-persoalan pengetahuan manusia, tetapi juga mengkaji dasar-dasar filsafat Yunani, perkembangan pemikiran ulama abad pertengahan (al-Farabi, Ibn Sina) dan mengkaji pokok-pokok teks al-Qur’an – sunnah.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amin, Antara Al-Ghazali dan Kant, Bandung: Mizan, 2002.

Asmaran, Pengantar Studi Tasawuf, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994, cet. 1.

Hamka, Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta: PT. Pustaka Panjimas, 1994.

Syaikh Fadhialla Haeri, Jenjang-jenjang Sufisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000 cet. 1.



JALALUDDIN RUMI

JALALUDDIN RUMI

I. PENDAHULUAN

Berbeda dengan tokoh-tokoh sufi lain semasanya, Rumi telah mengambil bentuk sufisme tersendiri. Artinya, tidak seperti kebanyakan sufi-sufi pendahulu dan semasanya yang lebih cenderung untuk mengungkap masalah metafisik dan maqamat, maka pemikiran sufisme Rumi lebih memiliki nuansa tersendiri yang tertuang dalam bentuk sajak, syair dan prosa.

Namun demikian, dengan tidak mengurangi nilai kemistisannya, syair-syair Rumi ternyata memiliki nilai tersendiri yang berkaitan dengan pengalaman batin Rumi. Sehingga dapat dikatakan, bahwa apabila seseorang ingin memahami pribadi Rumi dan perjalanan spiritualnya dalam menapaki sufi, maka seseorang harus dapat memahamkan syair-syair Rumi. Karena syair-syair tersebut tersurat pemikiran dan ajaran Rumi yang sesungguhnya.

Makalah ini mencoba mengulas kembali secara kritis tentang Jalaluddin Rumi, baik dari sisi pribadi dan perjalanan intelektualnya sampai pada ajaran-ajarannya.


II. PEMBAHASAN

A. Biografi Jalaluddin Rumi

Nama lengkap Jalaluddin Rumi adalah Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Husin al-Khathbi al-Bakri. Beliau dilahirkan di Balkhi (Persia) pada tahun 604 H (1217 M) dan meninggal pada tahun 672 H (1273 M). Ketika beliau berusia 4 tahun, ayahnya membawa Rumi ke Asia Kecil yang pada waktu itu lebih dikenal dengan Negeri Rum. Itulah sebabnya, maka dia memakai nama “Rumi”, yang diambil dari nama negeri tempat tinggalnya.[1]

Ayahnya, Baha’ Walad adalah seorang dai terkenal, fakih sekaligus sufi yang menempuh jalan rohani sebagaimana Ahmad al-Ghazali, saudara Muhammad al-Ghazali yang dikenal dengan kesufiannya. Sebagai ahli fiqh sekaligus sufi, Baha’ memiliki pengetahuan eksoterik (yang berkaitan dengan hukum Islam) maupun pengetahuan esoterik (yang berkaitan dengan thariqah / tasawuf).

Berkaitan dengan dimensi eksoterik ini, dia mengajarkan kepada setiap Muslim tentang bagaimana caranya menjalankan kewajiban-kewajiban agama, sedangkan dalam dimensi esoterik, dia mengajarkan bagaimana cara menyucikan diri dan meraih kesempurnaan.[2]

Ia juga mempelajari dengan tekun kitab suci al-Qur’an baik pembacaan, penjelasan, ataupun penafsirannya. Penelusuran keilmuannya tidak berhenti sampai disana, Ia juga mempelajari hadist (satu cabang ilmu yang mengkaji ucapan dan perbuatan Rasul Muhammad serta para sahabat). Pengetahuannya yang luas dalam kajian keIslaman ditunjukkan dalam karya-karyanya yang mendalam.

Balkhi, pada tahun-tahun awal abad ke-13 di samping menjadi pusat pembelajaran yang maju juga merupakan pusat perdagangan. Tetapi keadaan politik memaksa terjadinya perubahan besar-besaran seiring dengan terjadinya penyerbuan besar-besaran tentara Mongol dari Asia Dalam. Tepatnya pada tahun 1220 Balkhi diserbu dan dimusnahkan hingga runtuh oleh kaum Mongol. Tapi penghancuran Balkhi oleh tentara Mongol tidak berpengaruh pada Baha’ Walad dan keluarganya. Mereka telah pindah dari Balkhi satu atau dua tahun sebelum penghancuran tersebut. Dalam pengelanaannya keluarga itu melewati Bagdad ke Mekah, kemudian ke Syria dan akhirnya sampai di Anatolia Tengah. Keluarga itu kemudian menetap di Laranda (Karaman, saat ini Turki). Di sana Jalaluddin menikahi Jauhar Khatun, seorang gadis muda berasal dari Samarkand.

Pada tahun 1228, atas undangan Pangeran Ala’uddin Kay-Qubad, Baha’ Walad memboyong keluarganya ke Konya Ibukota Kesultanan Rum Seljuq yang sedang berkembang pesat, dan pada waktu itu masih jauh dari jangkauan tentara Mongol. Di kota itu Baha’ Walad menjadi pengajar sebagaimana yang ia lakukan di Balkhi. Pada Januari 1231, Baha’ Walad yang mendapat julukan “Sultan Kaum Terpelajar”, wafat dan meninggalkan Jalaluddin sebagai penggantinya.[3]

Ketika Rumi mengambil kedudukan ayahnya, dia tampak sudah menguasai disiplin ilmu rohani dan ilmu-ilmu esoterik sufisme. Sejak itulah maka dia seakan-akan sulit menghindarkan diri dari sufisme, bahkan senantiasa terdorong kearahnya. Namun demikian, secara formal dia baru menjalani kehidupan seorang sufi ketika Burhanuddin Tirmidzi, murid kesayangan ayahnya datang ke Konya pada tahun 1232 hingga wafatnya tahun 1240. di bawah bimbingannya Rumi menjalani disiplin-disiplin ilmu kerohanian.

Rumi menjadi berubah ketika Syamsuddin dari Tabriz datang ke Konya pada tahun 1244. Syamsuddin Tabrizi memiliki pengaruh yang begitu besar terhadap pribadi Rumi. Dialah yang menyebabkan Rumi berubah dari seorang ahli hukum menjadi seorang pecinta yang mabuk. Sehingga ada yang mengatakan bahwa tanpa kehadiran Syams, maka tidak akan pernah ada Rumi.

Selama kurang lebih satu atau dua tahun, Syams senantiasa mendampingi Rumi. Sehingga ketika tiba-tiba Syams meninggalkan Konya, maka Rumi menjadi cemas.[4]

Hilangnya Syams dan kerinduan yang timbul di dalam jiwanya pada kekasih spiritual menjadi pemicu pada diri Rumi untuk menggubah dan melagukan hasratnya yang merindu dalam lirik puisi Persia. Akhirnya Rumi mengetahui bahwa Syamsuddin pergi ke Damaskus, lalu ia mengutus putra tertuanya, Sultan Walad untuk membawa Syams kembali ke Konya. Syams akhirnya menempati rumah Rumi dan menikahi gadis muda pelayan rumah. Dia menetap di sana hingga tahun 1248, sebelum akhirnya menghilang sekali lagi dan tidak pernah ditemukan kembali. Tuduhan pembunuhan oleh anak kedua Rumi yang dilontarkan Aflaki, salah seorang penulis awal biografi, saat ini banyak diakui kebenarannya.

Rumi amat terkejut oleh perpisahan kedua ini hingga kemudian dia memutuskan untuk pergi sendiri ke Syria’ satu atau dua kali, untuk mencari sahabatnya. Pada akhirnya, dia menyadari bahwa Syams tidak akan ditemukan dan dia memutuskan untuk lebih mencari Syams “yang nyata” di dalam dirinya sendiri. Proses pemenuhan perkenalan antara pecinta dan kekasihnya telah terpenuhi, Jalaluddin dan Syamsuddin bukan merupakan dua jiwa yang terpisah. Mereka satu selamanya.

Setelah menjalani kehidupan mengajar dan memenuhi kebutuhan pengikut dan sahabatnya Maulana Jalaluddin Rumi meninggal dunia pada 17 Desember 1273.[5]

B. Karya- karya Jalaluddin Rumi

Rumi tidak “menulis “ buku dengan cara konvensional sebagaimana orang lain melakukannya. Prosa dan puisi Rumi pada saat ini disamping berasal dari karya-karya yang dicatat oleh pengikutnya ketika Rumi menyampaikannya secara lisan dan hasil pendiktean yang kemudian dia periksa lagi seperti dalam Matsnawi dan Diwan, juga karya-karya yang ditulis oleh para pengikutnya dari ingatan mereka atau dari catatan-catatan Rumi sendiri setelah kematiannya. Karya-karya seperti itulah yang terangkum dalam buku Signs of the Unseen (fihi ma fihi).

Karya utama Rumi adalah berjudul Masnavi-i ma’navi, yang dalam edisi Inggris berjudul Masnavi of Intrinsic Meaning. Karya ini terdiri dari enam jilid buku yang berisi 25.000 bait puisi. Karya ini digubah sebagai persembahan untuk memenuhi permintaan orang yang menjadi sumber inspirasi Rumi yang ketiga, Husamuddin Chelebi. Rumi menggunakan berbagai jenis cara pengungkapan sebagai medium ekspresinya. Dalam karyanya terdapat cerita, anekdot, dan lain-lain. Tapi semua isinya menyentuh aspek pembelajaran dan pemikiran spiritual. Adalah suatu yang wajar jika kita mengatakan bahwa ketika karya Rumi digubah, tidak ada kitab di dalam dunia Islam, kecuali al-Qur’an, yang begitu dihormati dan dirujuk oleh kaum Muslim sebagaimana Matsnawi karya Rumi.

Karya utama Rumi yamg lain ialah kumpulan puisi pendeknya yang luar biasa besar, Divan-i Syams-i Tabriz, yang terdiri dari ghazal, kuatrin (sajak empat seuntai) dan lain-lain, dalam bentuk yang tidak konvensional. Ciri khas Rumi yang secara sempurna tergabung dengan alter egonya dapat kita lihat dari baris-baris terakhir ghazalnya, suatu bagian yang dijadikan tempat oleh aturan konvensional di dalam puisi Persia untuk menyisipkan nama samaran sang penyair, sementara Rumi menempatkan nama kekasihnya Syams dari Tabriz.

Untuk melengkapi karya Matsnawi dan Diwan, kami menambahkan 144 surat Maulana Jalaluddin Rumi yang telah dikumpulkan dan dipelihara oleh pengikutnya. Surat-surat itu kebanyakan ditujukan kepada Parwana Mu’inuddin atau pejabat resmi lain dan pejabat-pejabat di Konya. Surat-surat itu ditulis untuk kepentingan mereka yang membutuhkan bantuan.

Dan untuk menambah catatan ceramah Rumi, di dalam Signs of Unseen (fihi ma fihi), kami sertakan kumpulan ceramah yang terpelihara di dalam Majalis-i sab’a-i Maulana (Ceramah dari Tujuh Pembahasan Maulana).

Fihi ma fihi merupakan kumpulan kuliah, wacana, perbincangan, dan komentar Rumi pada pelbagai masalah. Kebanyakan dari tujuh puluh satu bagian yang dimuat di dalam buku ini adalah bagian-bagian yang terlepas. Beberapa lagi berasal dari yang sejenis dengan “pembahasan” (majelis) guru sufi, atau pertemuan tak resmi dengan murid dan pengikutnya, selama itu sang guru menguraikan satu pokok bahasan atau lebih.

Meskipun banyak, atau bahkan semuanya, dari bagian yang barangkali telah ditulis Rumi selama masa kehidupan Rumi, hampir dapat dipastikan bahwa keseluruhan karya ini tidak selesai dibuat hingga Rumi wafat. Bentuk buku itu merupakan kenang-kenangan dari kumpulan wacana-wacana ayahnya, yang umumnya cenderung lebih merupakan pandangan terhadap suatu gagasan (seperti bagian 34 kitab Fihi ma fihi).[6]


III. PEMIKIRAN RUMI

1. Kesatuan Eksistensi

Cara pandang sufi terhadap eksistensi agak berbeda dari kaum teologi (mutakallimun). Bagi kaum sufi, “Eksistensi” (wujud) berarti “kenyataan / kebenaran” (haqiqah) dan tiada yang hakiki kecuali kenyataan / kebenaran tertinggi (ultimate realita, al-Haqq).

Rumi menyajikan pandangannya sendiri dalam kaitannya dengan penafsiran ungkapan terkenal al-Hallaj, “Anal al-Haqq”; (aku adalah kebenaran).

Orang-orang mengira ungkapan anal al-haqq adalah ungkapan kesombongan, padahal mengatakan ana al-Abd, aku hamba Allah, itulah yang sebenarnya merupakan ungkapan kesombongan, Anal Al Haqq adalah ekspresi kerendahan hati yang besar. Manusia yang mengatakan Ana al-abd mengakui dua eksistensi, eksistensinya dan Tuhan, sementara orang yang mengatakan anal Al-Haqq adalah ekspresi kerendahan hati yang besar. Manusia yang mengatakan anal al-‘abd mengakui dua eksistensi. Eksistensinya dan Tuhan, sementara orang yang mengatakan anal al-haqq telah meniadakan dan telah menyerahkan dirinya seraya berkata “Akulah Tuhan”, yakni aku tidak ada, Dia-lah segalanya: tiada sesuatu kecuali Tuhan. Inilah kerendahan hati yang luar biasa besarnya.

Ayat al-qur’an (QS. 75:3) mengungkap lebih jauh tentang konsepsi Rumi mengenai kesatuan eksistensi. “Dia yang pertama dan yang terakhir” berarti bahwa kenyataan / kebenaran tertinggi (al-Haqq) adalah prinsip segala makhluk dan mereka pasti kembali, sementara “Dia yang lahir, Dia yang Batin”, mengisyaratkan imanensi dan transendensi-Nya.

2. Cinta Universal

Dalam pandangan Rumi, Tuhan adalah pencipta semesta yang menciptakannya dari ketidakmaujudan (‘adam non-existence). Namun demikian, ketidakmaujudan itu bukanlah ketiadaan murni (nothingness). Akan tetapi ketidakmaujudan mengandung kenyataan dan potensial yang aktualisasinya menjadi kemaujudan (eksistensi) bergantung sepenuhnya pada kemuraan Tuhan (barakah).

Tentang bagaimana semesta ini diciptakan, Rumi berkeyakinan bahwa penciptaan adalah manifestasi diri Tuhan (izhar). Untuk mendukung pandangan ini, Rumi layaknya sufi lainnya, mengutip hadits qudsi terkenal yang mengatakan bahwa Tuhan adalah kekayaan tersembunyi; Dia menciptakan dunia ini agar bisa dikenali.

Sekarang mari kita lihat bagaimana semesta dihubungkan oleh Rumi dengan cinta. Seperti telah kita lihat, hal pertama yang diciptakan Tuhan adalah cinta, prioritas cinta ketimbang makhluk yang lain terbukti karena cintalah yang memotivasi Tuhan untuk menciptakan semesta. Dengan begitu, Rumi menganggap cinta sebagai kekuatan kreatif paling dasariah, yang menyusup ke dalam setiap makhluk dan menghidupkan mereka.

Sebagai cermin Tuhan, semesta merefleksikan sifat-sifat-Nya sesuai dengan tingkatan eksistensi yang terdapat di dalamnya. Semakin tinggi tingkatan yang dicapainya, semakin banyak sifat Tuhan yang mereka refleksikan.[7]

3. Cinta Ilahi (‘Isyq)

Cinta (‘Isyq, mahabbah), menurut Rumi, bukan hanya milik manusia dan makhluk hidup lainnya, tapi juga semesta. Cinta kepada Tuhan telah menciptakan di dalamnya kerinduan untuk kembali dan bersatu.

Kadang-kadang Rumi menggambarkan cinta sebagai “astrolabe rahasia-rahasia Tuhan” yang menjadi petunjuk bagi manusia untuk mencari kekasihnya. Karena itu, cinta membimbing manusia kepada-Nya dan menjaganya dari gangguan orang lain. “Cinta”, kata Rumi, adalah “astrolabe misteri-misteri Tuhan”. Kapanpun cinta, entah dari sisi (duniawi) atau dari sisi (langit)nya, namun pada akhirnya ia membawa kita ke sana.

Dengan pengaruhnya yang luar biasa pada jiwa manusia, cinta juga dapat mempercepat perjalanan manusia menuju Tuhan. Jadi cinta Ilahi dapat menjauhkan manusia dari syirik (penyekutuan Tuhan) dan mengangkat-Nya ke tingkatan yang tertinggi dari tauhid.[8]

4. Pengetahuan Sejati (al-Ma’rifah)

Konsepsi Rumi tentang pengetahuan sejati (ma’rifah atau gnosis) dimulai oleh fakta bahwa “Tuhan mengajarkan Adam semua nama”. Nama-nama ini merupakan prototype semua pengetahuan sejati dan langsung berasal dari Tuhan. Menurut Rumi “kebijaksanaan Tuhan menciptakan dunia agar segala hal yang ada dalam pengetahuan-Nya tertangkap”. Demikianlah, tiga fundamental manusia untuk memahami seluruh kebenaran sejati yang bersembunyi dibalik pikiran manusia melalui pemahaman dunia fenomena.

Disini ada dua hal yang penting untuk di catat; pertama, ma’rifah sepenuhnya bergantung pada kehendak dan kemurahan Tuhan, dan kedua, ia bukanlah hasil latihan mental. Persepsi indra dan akal penting sebagai sarana yang membimbing kita hanya sampai pada gerbang pengetahuan sejati, dan sisanya bergantung pada rahmat Tuhan (barakah). Atas dasar ini, mereka yang hanya menggunakan persepsi indra atau penalaran diskursif, akan sia-sia mencari kebenaran.[9]

5. Wahdatul Adyan (kesatuan transcendental agama-agama

Seperti sufi lainnya, Rumi percaya pada kesatuan transcendental agama-agama dan memandang kontroversi diantara pada penganut agama-agama tersebut hanya terjadi karena mereka melihat bentuk luar agama dan bukan pada esensinya. Mereka terlalu terikat pada cara pandang formal dan tradisional yang memandang agama-agama lain terpisah dan akibatnya, tidak mengizinkan adanya visi tentang kesatuan semua agama. Dalam kisah yang terkenal tentang gajah di istana yang gelap, Rumi berusaha menunjukkan betapa orang-orang yang berpikiran sempit gagal menjelaskan hakikat agama-agama. Upaya mereka tidak akan pernah berhasil sebelum mereka memahaminya secara komprehensif.

Karena itu, jelas bahwa sepanjang kita tidak mampu menyaksikan hakikat agama secara komprehensif dan hanya melihatnya dengan sempit pertentangan antara agama-agama tidak akan berakhir. Solusinya hanya akan diperoleh, menurut Rumi apabila kita mampu melihat kesatuan transcendental dari tujuan-tujuannya yang tertinggi.[10]


IV. ANALISIS

Rumi sangat terkenal bukan hanya saja di timur, tetapi juga di barat. Beberapa orientalis barat menyebutnya sebagai “penyair sufi paling hebat yang pernah dilahirkan di Persia”. Penyair mistik Islam yang terbesar, dan bahkan penyair mistik paling agung sepanjang masa.

Kita bisa mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa tidak seorangpun penyair mistik dan penyair Islam lain yang dikenal lebih baik daripada Rumi di barat. Di indonesia tidak cukup dikenal, kecuali di lingkaran-lingkaran kecil kaum penyair. Namun demikian dalam dunia intelektual Islam, sayap-sayap bisa kita dengarkan gaung kehebatannya, baik melalui karya-karya maupun puisi-puisinya.

Ditilik dari keluasan wawasan dan ketajaman pandangan intelektualnya dari tema-tema universal yang ia hadirkan dalam setiap bait karyanya atau dari ekspresi ide-idenya dalam bahasa puitis yang dipenuhi simbolisme dan alegori, tidak diragukan lagi jika Rumi adalah seorang jenius dengan pemikiran yang brilliant dan hati yang besar. Melalui pandangannya yang tajam, ia sanggup mengantisipasi sejumlah gagasan yang muncul berabad-abad kemudian. Rumi mengembangkan gagasan yang mendorong manusia untuk bekerja keras dalam mengemban tugas beratnya sebagai wakil Tuhan (khalifah) di bumi. Dengan demikian ia menyanggah pandangan yang keliru bahwa para sufi bersifat fatalistic.[11]

Hal yang penting yang dilupakan pada Rumi adalah bagaimana memahami pribadi Rumi secara utuh. Hal ini terjadi karena sampai dewasa ini orang-orang lebih cenderung melihat pada aspek pemikiran melalui hasil syair-syair Rumi dan tidak melihat pada aspek pribadi Rumi. Dengan kata lain, mengapa ajaran-ajaran yang termuat dalam syair-syair Rumi dapat diterima banyak orang pada massanya. Padahal ini berbeda dengan bentuk sufisme yang berkembang pada massanya. Padahal ini berbeda dengan bentuk sufisme yang berkembang pada saat itu yang lebih menonjolkan aspek maqamat sebagai suatu jalan menuju Ilahi. Sehingga wajar apabila Schimmel berargumen bahwa “basis, pusat dan tujuan pemikiran Rumi adalah Tuhan Yang Esa Tak Terbatas yang esensinya tidak pernah akan dicapai”.[12]


V. KESIMPULAN

Dari penjelasan dan pemaparan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Pada dasarnya Rumi merupakan sosok yang ahli dalam bidang hukum (faqih), di samping menguasai berbagai ilmu lain. Namun karena pengaruh Syams, ia telah mulai menekuni dunia sufi, sehingga ia mengenang gurunya ini dengan membuat syair dalam satu kitan yang berjudul Diwan-i Syams Tabrizi.

2. Berbeda dengan kebanyakan sufi yang lebih mementingkan aspek maqamat dalam menapaki kehidupan sufi, maka Rumi tidak menjadikan maqamat sebagai bentuk jalan untuk menuju Ilahi.

3. Ajaran dan pemikiran Rumi hanya dapat ditelaah melalui bait-bait syairnya, sehingga dengan memahami syair-syairnya, maka akan dapat dipahami ajaran sufisme Rumi yang sebenarnya, baik yang menyangkut aspek ketuhanan, kemanusiaan, alam maupun keterkaitan dari ketiga aspek tersebut.

VI. PENUTUP

Dengan demikian dari semua uraian di atas kita dapat mengetahui bahwa tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengenal ajaran-ajaran Rumi. Khususnya menyangkut sejumlah spekulasi mistik. Teologinya yang pertama, pesan-pesan yang terdapat dalam ajaran-ajarannya bersifat dinamis, sehingga sangat membantu dalam menghidupkan kembali “semangat keagamaan” masyarakat muslim kontemporer yang masih belum bangkit dari tidur pulasnya. Kedua, metode-metode yang digunakan Rumi dalam mengartikulasikan pemikiran-pemikirannya sangatlah efektif. Rumi mendekati suatu masalah secara langsung, seakan-akan gampang saja baginya. Dengan menggambarkan peristiwa sehari-hari ke dalam anekdot, fabel, dongeng dan sebagainya sehingga masalah itu hampir-hampir terpecahkan dengan sendirinya.

Ketiga, Rumi memberi manusia modern sebagai pandangan atau refleksi, yang umumnya telah hilang di tengah kekacauan dan kebimbangan masa modern, tentang eksistensi manusia, seperti kedudukan manusia di alam semesta, kehendak bebas yang dianugerahkan Tuhan sebagai amanah, pengetahuan sejati (ma’rifah) yang dapat membimbingnya menuju jalan yang benar, cinta tanpa pamrih (isyq, mahabbah) yang dapat menyucikan jiwa, toleransi yang bisa mendatangkan perdamaian sejati diantara manusia, dan sebagainya.

________o(o)o________



DAFTAR PUSTAKA

Chittick, William C., Jalan Cinta Sang Sufi, terj. M. Sadat Ismail dan Achmad Nidjam, Adipura, Yogyakarta, 2001.

Hamka, Tasauf : Perkembangan dan Pemurniannya, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1993.

Kartanegara, Mulyadhi, Jalal al-Din Rumi; Guru Sufi dan Penyair Agung, Teraju (PT. Mizan Publika), Jakarta, 2004.

Rumi, Jalaluddin, Yang Mengenal Dirinya, Yang Mengenal Tuhannya, terj. Anwar Holid, Pustaka Hidayah, Bandung, 2002.

Schimmel, Annemerie. Dunia Rumi : Hidup dan Karya Penyair Besar Rumi, terj. Saut Pasaribu, Pustaka Sufi, Yogyakarta, 2002.



[1] Hamka, Tasauf : Perkembangan dan Pemurniannya, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1993, hlm. 19

[2] William C. Chittick, Jalan Cinta Sang Sufi, terj. M. Sadat Ismail dan Achmad Nidjam, Adipura, Yogyakarta, 2001, hlm.1

[3] Jalaluddin Rumi, Yang Mengenal Dirinya, Yang Mengenal Tuhannya, terj. Anwar Holid, Pustaka Hidayah, Bandung, 2002, hlm.4 -5

[4] William C. Chittik, op.cit., hlm.4 -5

[5] Jalaluddin Rumi, op.cit., hlm.12-13

[6] Ibid., hlm 14-16

[7] Kartanegara, Mulyadhi, Jalal al-Din Rumi; Guru Sufi dan Penyair Agung, Teraju (PT. Mizan Publika), Jakarta, 2004, hlm. 48-57

[8] Ibid., hlm. 77-80.

[9] Ibid., hlm. 70-71

[10] Ibid., hlm. 87-90

[11] Ibid., hlm. xiii

[12] Annemerie Schimmel, Dunia Rumi : Hidup dan Karya Penyair Besar Rumi, terj. Saut Pasaribu, Pustaka Sufi, Yogyakarta, 2002, hlm. 90