KUMPULAN MAKALAH, SKRIPSI, & TIPS DAN TRIK

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Tauhid dan Perkembangan Pemikiran


BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG MASALAH.
Sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rsul, sejak itulah kenabian dan kerasulan berakhir. Kenabian dan kerasulan telah berakhir, tetapi risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW adalah risalah sepanjang zaman hingga datangnya hari kiamat nanti. Inti tugas risalah yang di bawa Nabi Muhammad juga para Rasul yang lain adalah tauhid.
Allah Berfirman dalam Surat Al-Anbiya’ : 25
Artinya :
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, Bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku!” (Al-Anbiya’-25)
Tauhid adalah kunci dari makna hidup. Bahkan untuk bertauhid kepada Allah saja manusia dan jin diciptakan. Maka mempelajari tauhid secara berkesinambungan adalah sesuatu yang harus.
Perkembangan pemikiran pun terus berkembang, begitu juga dalam akidah (tauhid). Hasil persepsi maupun ijtihad yang berlainan akhirnya melahirkan beberapa aliran dan ajaran-ajaran yang emnginkawt pengikut masing-masing. Hal tersebut merupakan implikasi dari beragamnya mazhab pada masa itu.
B. Tujuan Penulisan.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulisan makalah ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui sekaligus mempelajari persoalan tauhid secara jelas mulai dari definisi sampai kaitannya dengan ilmu kalam.
2. Mengetahui mazhab-mazhab yang berkembang pada masa ilmu kalam.

BAB II
PEMBAHASAN MASALAH



A. IMAN, TAUHID DAN PERBEDAAN AKIDAH.
Berbicara tentang tauhid tentunya tidak akan lepas dari Iman, karena tauhid sendiri merupakan cabang yang utama dari iaman, yang mana tidak satupun cabang yang lain menjadi sah kecuali sesudah sahnya tauhid tersebut. Menurut pendapat jumhur, iman artinya, “membenarkan dengan hati”, maksudnya menerima segala apa yang dibawa oleh Rasul, “mengikrarkan dengan lisan”, yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat serta “mengamalkan dengan anggota badan” artinya hati mengamalkan dalam bentuk keyakinan, sedang anggota badan mengamalkannya dalam bentuk ibadah-ibadah sesuai dengan fungsinya.
Dalam Iman terdapat cabang dan rukun-rukun. Seperti telah kita ketahui bersama bahwa rukun iman (sesuatu yang menjadi sendi tegaknya iman) ada 6 yaitu : Iman kepada Allah, Para Malaikant, Kitab-Kitab, Para Rasul, hari akhir dan Iman kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk.
Sedangkan cabang-cabang iman menurut Al-Hulaimi, pengarang kitab “Al-Minhaj” terdapat 77 cabang seperti cinta Rasulullah, cinta kepada saudara muslim seperti mencintai diri sendiri, jihad, dll.
Tauhid sendiri secara harfiah memiliki arti mengetahui bahwa sesuatu tu adalah satu, sedangkan menurut Istilah, ilmu tauhid adalah suatu ilmu yang dapat mengetahui keyakinan-keyakinan yang sifatnya agama yang mana keyakinan tersebut di dapat dari pada masa itu berani beranggapan dan berijtihad tentang masalah keyakinan yang pada akhirnya dapat menimbulkan perpecahan diantara umat Islam.
Dalam bidang aqidah ada suatu masalah yang timbul ketika zaman Ali bin abi thalib yang bunyi masalah tersebut adalah “Bagaimana kedudukan orang yang berbuat dosa besar, apakah masih mukmin atau sudah kafir”. Kaum khawarij berijtihad bahwa orang yang berbuat dosa besar itu keluar dari Islam dan karena itu ia adalah kafir. Kaum Murji’ah berijtihad bahwa ia amsih mukmin. Sedangkan menurut ijtihad kaum mutazilah, ia tidak mukmin tidak pula kafir, tetapi muslim.
Dalam bidang akidah ini, selanjutnya timbul lagi masalah. “apakah perbuatan manusia itu ciptakan tuhan, atau ciptaan manusia itu sendiri”. Mengenai masalah ini, ijtihad kaum mu’tazilah dan maturidin samarkan sama, perbuatan manusia terjadi berkat kehendak dan daya yang diciptakan oleh Tuhan dalam diri manusia. Hal ini bertentangan dengan ijtihad Asy’ari dan Al-Bazdawi dari Marudiah Bukhara: Perbuatan manusia adalah ciptaan tuhan, menurut Asya’ri manusia hanya memperoleh perbuatan yang diciptakan oleh Tuhan (Alksb) sedang menurut Al-Bazdawi manusia hanya melakukan perbuatan yang diciptakan oleh Tuhan dan Fi’il manusia.
Mengenai sifat-sifat Tuhan dalam Al-Qur’an yang menggambarkan bentuk jasmani. Asy’ari berijtihad bahwa ayat-ayat yang berkenaan dengan sifat-sifat Tuhan harus diartikan secara harfiah; kursi Tuhan harus diartikan kursi pula, tetapi tidak sma dengan kursi manusia. Sedang menurut ijtihad kaum mu’tazilah, ayat-ayat tersebut harus diambil arti tersiratnya bukan arti tersuratnya. Dengan demikian kursi tuhan berarti kekuasaan Tuhan.
Dalam bidang aqidah seluruh ulama sepakat tentang haramnya taqlid berdasarkan surat Muhammad, ayat ulama ushul, sma sepakat tentang haramnya taqliq dalam akidah, firman Allah SWT surat Muhammad ayat 19: “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. (Qs. Muhammad:19).
Hasil Ijtihad yang berbeda dalam akidah ini melahirkan mazhab ilmu kalam, khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Asyariah dan Maturidiah. Dan ajaran masing-masing aliran ini sama-sama memiliki pengikut yang kuat.
Dalam hal ini sebaiknya harus ada kemampuan untuk menciptakan mazhab ukhuwah dan mazhab ijtihad al-ummat, melalui ijtihad intiqa’I (elektik-selektif), yaitu berusaha mengumpulkan pendapat-pendapat ulama dengan memilih yang paling kuat dan cocok untuk sekarang ini, sambil memahami dan menghormati pendapat yang tidak kita pilih. Karena salah satu sunnah Nabi SAW, adalah menghormati perbedaan ijtihad diantara para sahabatnya.
B. Perkembangan Pemikiran Pada Masa Ilmu Kalam
1. Khawarij.
Khawarij adalah golongan yang keluar dari kelompok pengikut khalifah Ali bin Abi Thalib. Aliran kharajid timbul sebagai protes terhadap “majlis taklim” di danmatul jandal yang merupakan perjanjian damai antara khalifah Al dengan muawiyah bin abi Sufyan pada tahun 37 M.
Aliran Khawarij berpendapat tentang ajaran agama yang amat terkendali mengenai dosa besar yang tidak disertai dengan tabuat dapat mengakibatkan kekafiran. Aliran ini juga berpendapat (tentang masalah imamah) bahwa imam diangkat atas dasar pemilihan siapa saja yang muslim, adil, berilmu dapat menjadi imam, imam tidak harus keturunan Quraisy. Apabila imam tidak menyimpang dari kebenaran, sejalan dengan ketentuan agama Islam, wajib di ta’ati tetapi jika menyimpang dari kebenaran, berlaku tidak adail maka wajib dimaksudkan.
2. Murjiah
Murjiah berarti golongan yang menangguhkan yang di maksudkan ialah menangguhkan pemikiran kepada orang makanya yang melakukan dosa besar kelak di akhirat, disebutkan kepada Allah sendiri yang akan memberi putusan menjadi kafir/ tetap mu’min.
Aliran murjiah adalah aliran yang memberikan reaksi terhadap pendapat aliran khawarij yang mengkafirkan orang yang melakukan dosa besar. Menurut aliran ini dosa besar tidak mengakibatkan kekafiran. Apabila seseorang yang melakukan dosa besar, tetap mukanya. Adapun kita serahkan kepada Allah kelak di akhirat.
3. Mu’tazilah
Aliran Mu’tazilah adalah pengikut dari Abul Husain bin Atha’ yang memisahkan diri dari guru yang bernama hasan basri. Menurut kaum Mu’tazilah sumber pengetahuan paling utama adalah akal, sedangkan wahyu berfungsi mendukung kebenaran akal. Sedangkan wahyu berfungsi mendukung kebenaran akal. Menurut mereka apabila terjadi pertentangan antara ketetapan akal dan ketentuan wahyu maka yang diutamakan adalah “ketetapan akal”. Atas dasar inilah orang berpendapat bahwa timbulnya aliran Mu’tazilah merupakan lahirnya aliran rasionalisme di dalam Islam.
4. Aliran Asyariah
Aliran ini diambil dari nama pendirinya yaitu Syeib Abu Hasan Ali al-asyari. Pada mulanya asyari adalah seorang pengikut aliran Mu’tazilah tetapi pada akhirnya ia keluar dari aliran tersebut (Mu’tazilah) karena Mu’tazilah dianggap bertentangan dengan itiqad dan kepercayaan Nabi Muhammad SAW. Singkatnya, aliran Asyariah merupakan aliran reaksionis dan menentang adanya ajaran-ajaran saset dari aliran theologi Islam yang telah ada. Asyariah merupakan salah satu paham dari ahlus Sunnah Waljamaah.
5. Aliran Maturiqayah
Maturiqiyah juga salah satu paham dari aliran ahlu Sunnah Waljamaah Al-Maturidi sebagai salah satu paham dalam ahlus sunnah waljamaah dalam beberapa segi memiliki persamaan dengan asyariah. Walaupun dalam sisi lain diantara keduanya memiliki pebedaan.
Dalam aliran ini, peranan akal/ rasio memiliki tempat penting dalam memahami ajaran-ajaran agama. Akal menurutnya dapat membantu manusia untuk mendiami adanya Allah/ ia-Esa Allah, sifat dan zat-Nya. Rasio juga dapat digunakan untuk memahami ayat-ayat al-qur’an hal lain yang masuk ruang lingkup teologi.

BAB III
PENUTUP


a. Kesimpulan
Dari pembahsan tersebut dapat penulis simpulan beberapa poin penting, yaitu”
1. Iman dan tauhid begitu erat hubungannya, karena tauhid merupakan bagian/ cabang dari Iman.
2. Iman artinya membenarkan dengan hati mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan anggota badan.
3. Ilmu tauhid adalah suatu ilmu yang dapat mengetahui akidah/ keyakinan yang sifatnya keagamaan (addin) yang dihasilkan dari dalil-dalil yang tetap.
4. Perbedaan ijtihad dan pemahaman tentang akidah (tauhid) pada masa lalu (ketika rasul wafat) menjadi penyebab pecahnya umat Islam yang di tandai dengan lahirnya beberapa aliran seperti Khawarij, Mu’tazilah, Murjiah, asyariah dan lain-lain.
b. Saran
Apabila terdapat hal-hal yang di pandang tidak terjawab oleh tulisan ini atau ada referensi lain yang di pandang lebih meningkatkan kualitas, mohon segera di carilah jalan keluar dan menjadi masukan berarti pada perbaikan selanjutnya.



SILAHKAN DOWNLOAD FILE LENGKAPNYA DISINI
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Kumpulan Makalah / Pendidikan Islam dengan judul Tauhid dan Perkembangan Pemikiran. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://paper-makalah.blogspot.com/2009/10/tauhid-dan-perkembangan-pemikiran.html. Terima kasih!
Ditulis oleh: Udien bae -

1 Komentar untuk "Tauhid dan Perkembangan Pemikiran"

  1. Anonymous21:51

    mantap bro buat tgs gw..

    ReplyDelete

TULIS DISINI....