KUMPULAN MAKALAH, SKRIPSI, & TIPS DAN TRIK

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

METODE RESITASI

METODE RESITASI


A.    PENGERTIAN DAN DASAR METODE RESITASI
Ada beberapa pengertian metode resitasi atau definisi yang dikemukakan oleh para ahli antara lain sebagai berikut:
1.      Menurut Nana Sudjana:
Tugas atau resitasi tidak sama dengan pelajaran rumah tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas dapat merangsang anak untuk lebih aktif belajar baik secara individual maupun kelompok.[1]
2.      Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain:
Metode Penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Masalah tugas yang diberikan siswa dapat dilakukan di kelas, di halaman sekolah, di laboratorium, di perpustakaan, di bengkel, di rumah siswa atau dimana saja asal tugas itu dapat dikerjakan.[2]
3.      Menurut Mulyani dan Johan Permana. H:
 Metode pemberian tugas atau penugasan diartikan sebagai suatu cara interaksi belajar mengajar yang ditandai dengan adanya tugas dari guru yang dikerjakan peserta didik di sekolah ataupun di rumah secara perorangan atau kelompok[3]
Berdasarkan uraian di atas pengertian metode pemberian tugas adalah suatu cara dari guru dalam proses belajar mengajar untuk mengaktifkan siswa dalam belajar baik di sekolah maupun di rumah dan untuk dipertanggung jawabkan kepada guru.
Dalam Al-Qur’an prinsip metode resitasi dapat dipahami dari ayat yang berbunyi:
bÎ) $uZøŠn=tã ¼çmyè÷Hsd ¼çmtR#uäöè%ur ÇÊÐÈ #sŒÎ*sù çm»tRù&ts% ôìÎ7¨?$$sù ¼çmtR#uäöè% ÇÊÑÈ
”Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu”. (QS. Al-Qiyamah [75]: 17-18)[4]

Al-Maraghi menafsirkan potongan ayat tersebut di atas sebagai berikut:
قرأناه: اى قرأة جبريل عليك، فاتبع قرأنه: اى فاستمع قرأته وكررها حتى يرسخ فى نفسك. [5]
Qara’nahu : dimaksudkan adalah Jibril membacakannya kepadamu
Fattabi’ qur’anah : maksudnya maka dengarkanlah bacaan dan ulang-ulangilah agar ia mantap dalam dirimu.[6]
Ayat tersebut merupakan bentuk pembelajaran al-Qur’an ketika malaikat Jibril memberikan wahyu (al-Qur’an) kepada Nabi Muhammad saw dengan membacakannya, maka Nabi Muhammad saw diperintahkan untuk mengulanginya, sehingga Nabi hafal dan bacaan tersebut dapat membekas dalam dirinya.

B.     KELEBIHAN DAN KEKURANGAN METODE RESITASI
1.      Kelebihan Metode Resitasi
Ada beberapa kelebihan metode resitasi menurut para ahli antara lain:
a.       Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain kelebihannya:
1)      Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktifitas belajar individual ataupun kelompok.
2)      Dapat mengembangkan kemandirian siswa diluar pengawasan guru.
3)      Dalam membina tanggung jawab dan disiplin siswa.
4)      Dapat mengembangkan kreatifitas siswa.[7]
b.      Menurut Mulyani:
1)      Metode pemberian tugas dapat membuat siswa aktif belajar.
2)      Tugas lebih merangsang siswa untuk lebih banyak, baik waktu dikelas maupun diluar kelas atau dengan lain, baik siswa dekat dengan guru maupun jauh dengan guru.
3)      Metode ini dapat mengembangkan kemandirian siswa yang diperlukan dalam kehidupannya.
4)      Tugas lebih meyakinkan tentang apa yang akan dipelajari dari guru, lebih memperdalam, memperkaya, atau memperluas pandangan tentang apa yang dipelajari.
5)      Tugas dapat membina kebiasaan siswa untuk mencari dan mengelola sendiri informasi dan komunikasi.
6)      Metode ini dapat membuat siswa bergairah dalam belajar karena kegiatan-kegiatan belajar dapat dilakukan dengan berbagai variasi sehingga tidak membosankan.
7)      Metode ini dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa.
8)      Metode ini dapat mengembangkan kreatifitas siswa.[8]
2.      Kekurangan Metode Resitasi
Ada beberapa kekurangan metode Resitasi antara lain :
a)      Siswa sulit dikontrol, apakah benar dia yang mengerjakan tugas ataukah orang lain.
b)      Khusus untuk tugas kelompok, tidak jarang yang aktif mengerjakan dan menyelesaikannya adalah anggota tertentu saja, sedangkan anggota lainnya tidak berpartisipasi dengan baik.
c)      Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa.
d)     Sering memberikan tugas yang menonton (tak bervariasi) dapat menimbulkan kebosanan siswa.[9]
e)      Seringkali anak didik melakukan penipuan dimana anak didik hanya menitu hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri.
f)       Terkadang tugas itu dikerjakan orang lain tanpa pengawasan.[10]
Dari pengertian diatas tampak bahwa pelaksanaan metode ini banyak menuntut hakekat siswa sebab anak selalu dituntut oleh guru untuk belajar sendiri baik itu untuk materi yang sudah diterangkan ataupun yang belum diterangkan.
C.    Langkah-langkah Metode Resitasi
Ada langkah-langkah yang harus diikuti dalam penggunaan metode pembelajaran tugas antara lain :
  1. Fase Pemberian Tugas
Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan :
a.       Tujuan yang akan dicapai
b.      Jenis tugas jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut
c.       Sesuai dengan kemampuan siswa
d.      Ada petunjuk atau sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa
e.       Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.
Dalam fase ini tugas yang diberikan kepada setiap anak didik harus jelas dan petunjuk-petunjuk yang diberikan harus terarah.
  1. Langkah Pelaksanaan Tugas
a.       Diberikan bimbingan atau pengawasan oleh guru
b.      Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja
c.       Diusahakan atau dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang lain
d.      Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang dia peroleh dengan baik dan sistematik
Dalam fase ini anak didik belajar (melaksanakan tugas) sesuai tujuan dan petunjuk-petunjuk guru.
  1. Fase Mempertanggungjawabkan Tugas
a.       Laporan siswa baik lisan atau tertulis dari apa yang telah dikerjakannya
b.      Ada tanya jawab diskusi kelas
c.       Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun non tes atau cara lainnya
Dalam fase ini anak didik mempertanggungjawabkan hasil belajarnya baik berbentuk laporan lisan maupun tertulis. [11]
Karena tugas yang dikerjakan pada akhirnya akan dipertanggung jawabkan maka siswa akan terdorong untuk mengerjakan secara sungguh-sungguh. Dengan metode ini sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu lebih mendalam.
D.    Pelaksanaan Metode Resitasi
Tugas dapat dilaksanakan dalam berbagai kegiatan belajar baik perorangan atau kelompok. Adapun pelaksaan yang ditempuh dalam metode ini antara lain:
1.      Pendahuluan:
Pada langkah ini perlu mempersiapkan mental murid untuk menerima tugas yang akan diberikan kepada mereka pada pelajaran inti, Untuk itu perlu memberikan kejelasan tentang suatu bahan pelajaran yang dilaksanakan dengan metode ini, diberikan contoh-contoh yang serupa dengan tugas jika keterangan telah cukup.
2.      Pelajaran inti:
Guru memberika tugas, murid melaporkan hasil kerja mereka sementara gurumengadakan koreksi terhadap tugas-tugas tersebut, da bila ditemukan kesalahan maka perlu diadakan diskusi.
3.      Penutup:
Pada langkah ini murid bersama guru mengecek kebenaran sementara murid disuruh mengulangi tugas itu kembali.[12]
E.     Penerapan Metode Resitasi dalam embelajaran Pendidikan Agama Islam
Pembelajaran pendidikan agama Islam adalah suatu proses yang bertujuan untuk membantu peserta didik dalam belajar agama Islam.[13]
Dalam proses belajar mengajar penggunaan satu metode mengajar untuk segala macam tujuan belajar tentunya tidak efektif . Berbeda tujuan, berbeda cara mencapainya. Dalam pembelajaran pendidikan agama Islam dapat menggunakan berbagai macam metode, antara lain metode resitasi atau metode pemberian tugas.
Metode pemberian tugas adalah metode interaksi edukatif dimana murid diberi tugas khusus (sesuai dengan bahan pelajaran) diluar jam-jam pelajaran. Dalam pelaksanaannya murid-murid dapat mengerjakan tugasnya tidak hanya dirumah, tetapi dapat dikerjakan diperpus, laboratorium, dan lainnya kemudian dipertanggungjawabkan kepada guru.[14]
Dalam pendidikan agama Islam, metode interaksi ini sering digunakan, terutama dalam hal-hal yang bersifat praktis misalnya, setelah selesai pelajaran berwudhu (di sekolah) murid-murid ditugaskan untuk melihat, memperhatikan dan menirukan orangtuannya atau orang-orang lain dirumah atau masjid yang sedang berwudhu, kemudian melaporkannya kepada guru di sekolah pada jam pelajaran berikutnya. Atau contoh lain, menjelang hari raya idul fitri guru menerangkan tentang masalah zakat fitrah, kemudian murid ditugaskan untuk membentuk amil zakat yang melaksanakan tugas mengumpulkan zakat fitrah dan membagikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Sesuai pelaksanaan tugas ini mereka harus membuat laporan pertanggungjawaban pelaksanaan tugasnya kepada guru.[15]


[1] Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru, 1989), hlm. 81.
[2] Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), edisi revisi, hlm. 85.
[3] Mulyani. S dan Johar Permana, Strategi Belajar Mengajar, (JATENG: DEPDIKBUD Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 1999), hlm. 151.
[4] Arief Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 165.
[5] Ahmad Musthofa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Jilid 29, (Beirut: Dar al-Maraghi, t.th.,), hlm. 150.
[6] Ahmad Musthofa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, terjemahan, (Semarang: Toha Putra, 1989), hlm. 244.
[7] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, op. cit, hlm. 87.
[8] Mulyani, op. cit, hlm. 152
[9] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, loc. cit.,  
[10] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. 198.  
[11] Syaiful Bahri Djamarah,dan Aswan Zain, op. cit, hlm. 86
                [12] Arief Armai, op.cit, hlm. 167
[13] Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Misaka Galiza, 2003), hlm. 13
[14] Zuhirini, dkk, loc. cit
[15] Zuhairini, dkk, op. cit, hlm.84
PENGARUH PENERAPAN METODE RESITASI TERHADAP KEMANDIRIAN PESERTA DIDIK DALAM BELAJAR PAI

PENGARUH PENERAPAN METODE RESITASI TERHADAP KEMANDIRIAN PESERTA DIDIK DALAM BELAJAR PAI


Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Gurulah yang menciptakan guna membelajarkan anak didik. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar perpaduan dua unsur manusiawi ini lahirlah interaksi edukatif yang memanfaatkan bahan sebagai mediumnya. Disana semua komponen pengajaran diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan.
Kegiatan belajar mengajar harus selalu ditingkatkan seefektif dan seefisien mungkin. Dengan banyak kegiatan pendidikan disekolah dalam usaha meningkatkan mutu dan frekuensi isi pelajaran, maka sangat menyita waktu siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar tersebut. Guru perlu menggunakan jam tambahan, sebab bila hanya menggunakan seluruh jam pelajaran yang ada untuk tiap mata pelajaran, hal itu tidak akan mencukupi tuntutan tiap mata pelajaran yang diharuskan, yang tercantum dalam kurikulum. Seperti halnya dalam mata pelajaran PAI yang menyangkut multi dimensional, apalagi dalam peljaran PAI waktu yang disediakan disekolah sangat terbatas. Oleh karena itu dengan metode resitasi maka dapat mengatasi problem kekurangan jam pelajaran.
Selain dapat mengatasi kekurangan jam pelajaran, pemberian tugas juga berpengaruh kepada anak didik, yaitu terbinanya kemandirian, bertanggungjawab, sarana menggairahkan siswa untuk belajar.
Penerapan metode resitasi memiliki kebaikan sebagai teknik penyajian ialah karena siswa mendalami dan mengalami sendiri pengetahuan yang dicarinya, maka pengetahuan itu akan tinggal lama didalam jiwanya. Pada kesempatan ini siswa juga dapat mengembangkan daya berfikir sendiri, daya inisiatif, daya kreatif, tanggungjawab dan juga melatih berdiri sendiri.
Kemandirian belajar seseorang adalah suatu bentuk belajar yang berpusat pada kreasi siswa dari kesempatan dan pengalaman penting siswa sehingga ia mampu, percaya diri, memotivasi diri dan sanggup belajar setiap waktu.
Kemandirian belajar siswa perlu diupayakan dan dilatih tanpa adanya latihan siswa tidak mampu mandiri dalam melakukan kegiatan belajar secara sendiri kemandirian dapat dicapai jika seorang anak diberi makin banyak dan makin banyak kesempatan untuk menjelajahi, mencoba, dan mengontrol kesalahan-kesalahan sendiri.
Dengan metode resitasi sebenarnya mempunyai tujuan yang utama yaitu melatih siswa untuk berdiri sendiri (mandiri) disamping memupuk inisiatif, merangsang motivasi, dan memperoleh pengalaman yang terintegrasi karena tugas maka siswa akan terdorong untuk mengajarkan secara sungguh-sungguh. Dengan metode ini siswa melaksanakan latihan-latihan selama sesuatu dapat lebih mendalam. Dengan pengertian lain, resitasi yang diberikan guru dapat merangsang siswa untuk aktif belajar. Hal ini terjadi, karena siswa memperoleh pengetahuan serta ketrampilan siswa di sekolah melalui kegiatan-kegiatan diluar sekolah. Dengan demikian siswa dapat mengembangkan daya berpikir, daya kreatif, tanggung jawab dan melatih kemandirian.
Dengan kemandirian dalam kegiatan belajarnya siswa akan mampu memotivasi diri, percaya diri dan siswa siap untuk belajar setiap saat baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Pentingnya nilai dari metode resitasi bukan terletak pada hasil tugasnya melainkan dari proses pengalaman kerja dalam pelaksanaan tugasnya karena pengalaman itulah yang diperlukan murid untuk kehidupan selanjutnya.
PENGARUH INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PAI

PENGARUH INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PAI


Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal, maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik.[1] Guru dalam interaksi belajar mengajar diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan (proses belajar mengajar). Setiap proses belajar mengajar guru harus merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai.[2]
Interaksi belajar mengajar di sini dimaksudkan sebagai kegiatan pelaksanaan, bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan melalui hubungan timbal balik, prosesnya dilakukan dengan tenang dan menyenangkan, hal tersebut tentunya menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif proses pembelajaran dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlibat aktif, baik mental, fisik maupun sosial.[3] Adapun untuk mendorong terjadinya interaksi, sedikitnya perlu memperhatikan dua hal yaitu:
1.       Pertanyaan yang diberikan oleh guru hendaknya dijawab oleh seorang peserta didik, tetapi seluruh peserta didik diberi kesempatan singkat untuk mendiskusikan jawabannya bersama teman dekatnya.
2.       Guru hendaknya menjadi dinding pemantul, jika ada peserta didik yang bertanya janganlah dijawab langsung, tetapi dilontarkan kembali kepada seluruh peserta didik untuk didiskusikan.[4] Dengan cara tersebut akan menjadikan peserta didik aktif dalam pembelajaran.
Dengan adanya dorongan tersebut dimaksudkan untuk memperoleh tujuan berdasarkan kompetensi yang telah ditentukan sebelumnya, dan adanya keaktifan dari peserta didik akan terjadi saling bertukar informasi antara peserta didik dan antar peserta didik dengan guru mengenai topik yang dibahas, untuk mencapai kesepakatan, kesamaan, kecocokan dan keselarasan pikiran mengenai apa yang dipelajari.[5]
Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan hasil. Dari segi proses dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidaknya sebagian besar (75%) peserta didik secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial, dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi. Semangat yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri. Sedangkan dari segi hasil proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri peserta didik seluruhnya atau setidaknya sebagian besar (75%). Lebih lanjut proses pembelajaran dikatakan berhasil atau berkualitas apabila masukan merata, menghasilkan output yang banyak dan bermutu tinggi, serta sesuai dengan kebutuhan, perkembangan masyarakat dan pembangunan.[6]
Untuk memperoleh hasil yang maksimal baik proses pembelajaran maupun hasil proses pembelajaran. Guru secara tidak langsung harus memahami individu setiap anak didik, karena setiap anak didik mempunyai minat dan kebutuhan sendiri-sendiri, sehingga untuk memperoleh hasil belajar yang optimal proses interaksi belajar mengajar harus disesuaikan dengan minat dan kebutuhan siswa. Setiap perbuatan, termasuk perbuatan belajar didorong oleh sesuatu atau beberapa motif yang timbul dari dalam diri individu siswa. Motif atau biasa juga disebut dorongan atau kebutuhan merupakan sesuatu tenaga yang berbeda pada diri individu siswa untuk mencapai tujuan yang diinginkan.[7] Kebutuhan dalam kegiatan belajar akan berhasil atau baik kalau siswa tekun mengerjakan tugas, ulet dalam memecahkan masalah dan hambatan secara mandiri, siswa harus mampu mempertahankan pendapatnya, kalau siswa yakin   dan dipandang cukup rasional.
Bahkan lebih lanjut siswa harus peka dan responsif terhadap berbagai masalah umum, dan bagaimana memikirkan pemecahannya. Untuk menumbuhkan sikap-sikap diatas dibutuhkan pesan serta guru dalam memberikan motivasi eksternal, sehingga interaksi mengajar akan memperoleh hasil yang maksimal.
Jadi dengan adanya motivasi belajar dalam diri siswa pelaksanaan interaksi belajar mengajar akan berjalan sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menunjang motivasi belajar dibutuhkan kondisi belajar kondusif baik metode, strategi belajar mengajar dan penilaian yang sesuai dengan karakter peserta didik. Dengan adanya motivasi belajar dalam interaksi belajar mengajar diharapkan akan terbentuk manusia yang berkualitas tinggi, baik mental, moral maupun fisik. Hal ini berarti kalau tujuannya bersifat afektif psikomotorik, tidak cukup hanya diajarkan dengan modul atau sumber yang mengandung nilai kognitif, namun perlu penghayatan yang disertai pengalaman nilai-nilai kognitif, afektif, yang dimanifestasikan dalam perilaku sehari-hari.

KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.       Interaksi belajar mengajar adalah peristiwa hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam suatu pembelajaran yang bertujuan membantu pribadi anak mengembangkan potensi sesuai dengan cita-citanya serta hidupnya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat dan negara.
2.       Motivasi belajar PAI adalah segala sesuatu yang menggerakkan, mendorong, mengarahkan dan mengantarkan perilaku siswa supaya selalu bersemangat dalam belajar khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, dalam upaya mencapai tujuan yang dikehendaki.
3.       Interaksi belajar mengajar dan motivasi belajar PAI adalah peristiwa hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam suatu pembelajaran yang bertujuan membantu pribadi anak, mengembangkan potensi sesuai dengan cita-citanya yang mana hal inilah yang dapat mendorong, menggerakkan dan mengarahkan mereka untuk selalu bersemangat dalam mencapai tujuan dari apa yang mereka lakukan baik itu timbul dari dalam maupun dari luar dirinya. Interaksi antara pengajar dengan warga belajar diharapkan merupakan proses motivasi. Maksudnya bagaimana dalam proses interaksi itu pihak pengajar mampu memberikan dan mengembangkan motivasi serta reinforcement kepada siswa agar dapat melakukan kegiatan belajar secara optimal. Artinya jika interaksi antara guru dengan siswa terjadi secara efektif, maka motivasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam akan semakin meningkat pula.
Jadi, terdapat pengaruh antara interaksi belajar mengajar terhadap motivasi belajar PAI siswa.



[1] E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep Karakteristik Implementasi dan Inovasi, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004), cet.V, hlm. 100.
[2] E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan,  (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 40-41.
[3] E. Mulyasa, Kurikulum…..  op. cit., hlm. 101.
[4] E. Mulyasa, Menjadi Guru …, op. cit., hlm. 77.
[5] E. Mulyasa,  Implementasi Kurikulum 2004, Panduan Pembelajaran KBK, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 129.
[6] E. Mulyasa,  Kurikulum…., op. cit., hlm. 101-102.
[7] R. Ibrahim dan Nana Syaodih S, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), cet. 11, hlm. 26-28.