KUMPULAN MAKALAH, SKRIPSI, & TIPS DAN TRIK

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Showing posts with label Dosa. Show all posts
Showing posts with label Dosa. Show all posts
AKHLAQ DALAM ISLAM

AKHLAQ DALAM ISLAM

I. PENDAHULUAN

Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting sekali, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dan bangsa. Sebab jatuh bangunnya, jaya hancurnya, sejahtera rusaknya suatu bangsa dan masyarakat, tergantung kepada bagaimana akhlaknya. Apabila akhlaknya baik (berakhlak), akan sejahteralah lahir batinnya, akan tetapi apabila akhlaknya buruk (tidak berakhlak), rusaklah lahirnya dan batinnya.

Seseorang yang berakhlak mulia, selalu melaksanakan kewajiban-kewajibannya, memberikan hak yang harus diberikan kepada yang berhak, dia melakukan kewajibannya terhadap dirinya sendiri, yang menjadi hak dirinya, terhadap Tuhannya, yang menjadi hak Tuhannya, terhadap makhluk yang lain, terhadap sesama manusia, yang menjadi hak manusia lainnya, terhadap makhluk hidup lainnya, yang menjadi haknya, terhadap alam dan lingkungannya dan terhadap segala yang ada secara harmonis, dia akan menempati martabat yang mulia dalam pandangan umum. Dia mengisi dirinya dengan sifat-sifat terpuji, dan menjauhkan dirinya dari sifat-sifat yang tercela, dia menempati kedudukan yang mulia secara obyektif, walaupun secara materiil keadaannya sangat sederhana.

II. PEMBAHASAN

A. Definisi Akhlak

Ada banyak sekali definisi mengenai akhlak yang dikemukakan oleh para ahli ilmu akhlaq. Sekalipun begitu, pengertian akhlaq tetap terpaku pada satu titik point yaitu tingkah laku.

Akhlak menurut arti bahasa sama dengan adab, sopan santun, budi pekerti atau juga etika. Dalam suatu ayat dijelaskan:[1]

هيئة راسخو تصدر عنها الافعال بسهولة ويسر من غير حاجة الى فكر (العرفات: 19)

Artinya:

Akhlak adalah daya yang telah bersemi dalam jiwa seseorang sehingga dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan yang mudah tanpa dipikir dan direnungkan.

Menurut pengertian para ilmu akhlaq, akhlaq ialah suatu keadaan jiwa seseorang yang menimbulkan terjadinya perbuatan-perbuatan seseorang dengan mudah.

Dengan demikian, bila perbuatan, sikap dan pemikiran seseorang itu baik, niscaya jiwa dan akhlaknya baik pula. Sebaliknya jika perbuatan, sikap dan pemikirannya buruk, niscaya jiwa dan akhlaqnya buruk pula.[2]

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengemukakan bahwa akhlaq adalah “daya kekuatan (sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong perbuatan-perbuatan yang spontan tanpa memerlukan pertimbangan pikiran. Jika tindakan spontan itu baik menurut pandangan akal dan agama, maka tindakan itu disebut akhlaq yang baik (mahmudah), sebaliknya, jika buruk disebut akhlaq tercela (madzmumah).

Dari definisi-definisi di atas dapat dijelaskan bahwa ukuran akhlaq bukan dilihat dari segi lahiriyah saja, tetapi yang lebih penting adalah dari segi batiniyah, yakni dorongan hati, sabda Nabi :

“Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu terdapat sekerat daging, jika ia baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh itu. Ingatlah sekerat daging itu adalah hati”.[3]

Akhlaq dalam Islam sangatlah penting artinya, sebab Nabi Muhammad saw diutus untuk membina akhlaq manusia. Ilmu yang mempelajari akhlaq adalah ilmu akhlaq, yaitu ilmu yang menerangkan tentang kaidah-kaidah baik dan buruk, sifat-sifat terpuji dan tercela.

B. Dasar dan Tujuan Akhlaq

Dasar hukum akhlaq ialah al-Qur’an dan al-Hadits yg mrp dasar pokok ajaran Islam.

1) Al-Qur’an

قَدْ جَاءكُم مِّنَ اللّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلاَمِ وَيُخْرِجُهُم مِّنِ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ (16)

Artinya :

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 15-16)

2) Hadits

Dalam hadits diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari Aisyah ra, ia mengatakan : akhlaq nabiyullah Muhammad saw adalah al-Qur’an.

Hadits ini menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah dasar yang pertama dan utama bagi akhlaq. Sedang Allah SWT mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw sebagai teladan yang baik dalam firman-nya: “Sesungguhnya telah ada pada di Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu”.

Akhlaq merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan. Setiap manusia pasti mempunyai akhlaq. Tujuan akhlak dalam Islam, secara umum ialah terbentuknya pribadi muslim yang luhur budi pekertinya, baik lahir maupun batin, agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat, sedangkan tujuan akhlak secara khusus ada 2:

- Membersihkan diri dari akhlaq tercela

- Menghiasi diri dengan akhlaq terpuji

Selain itu tujuan dari akhlak adalah :[4]

- Mendapatkan ridha dari Allah

- Membentuk kepribadian muslim, maksudnya adalah segala perilaku, baik ucapan, perbuatan, pikiran dan kata hatinya mencerminkan sikap ajaran Islam.

- Mewujudkan perbuatan yang mulia dan terhindarnya perbuatan tercela.

C. Pembagian Akhlak

Berdasarkan sifatnya ada 2:

1. Akhlaq mahmudah/akhlaq terpuji

Akhlaq terpuji merupakan salah satu tanda bagi kesempurnaan iman seseorang. Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin bagian rubu’ munjiyat menerangkan bahwa gejala-gejala hati yang sehat merupakan cermin dari akhlaq terpuji diantaranya:[5]

a. Takut dan berharap kepada Allah

Takut maksudnya bahwa segala perbuatan manusia itu nantinya akan dimintai pertanggungjawabannya, maka dengan pengetahuan itulah seseorang takut kepada Allah, bukan berarti menjauh tetapi sebaliknya, harus berusaha mendekatkan diri kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

b. Taubat dan Nadam

Yaitu kembali ke jalan kebenaran atas dosa-dosa yang telah dilaksanakan dan menyesali atas segala dosa-dosanya itu.

Ada beberapa syarat bagi orang yang bertaubat:[6]

- Menghentikan perbuatan maksiat

- Menyesali dosa-dosa yang telah dilakukan

- Bertekad untuk tidak mengulanginya lagi

- Jika bersalah pada orang lain, maka harus minta maaf terlebih dahulu kepada yang bersangkutan.

- Memperbanyak amal kebaikan.

c. Sabar dan syukur

Sabar yaitu tabah dalam menghadapi segala sesuatu dari Allah. Sabar ada 3 macam :

1) Sabar karena taat kepada Allah yaitu sabar dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dan meningkatkan takwa.

2) Sabar karena maksiat yaitu bersabar diri untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang agama (sabar menahan hawa nafsu)

3) Sabar karena musibah yaitu sabar tatkala ditimpa kemalangan dan ujian, serta cobaan dari Allah.

Sedangkan syukur adalah mengakui kebaikan terhadap apa yang terjadi atau diterima seseorang.

Syukur terdiri atas 3 perkara :

1) Ilmu

2) Keadaan

3) Amal

2. Akhlaq Madzmumah / Akhlaq tercela

a. Kufur, yaitu segala ucapan, perbuatan dan keyakinan mengingkari adanya Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan kafir adalah orangnya. Di antara sebab-sebab menjadi kufur adalah: hilangnya kepercayaan kepada Allah. Tidak mengakui kebenaran atas semua hal, adanya keraguan dalam pikiran dan karena pengaruh lingkungan.

b. Syirik, yaitu kepercayaan terhadap sesuatu selain Allah. Orangnya disebut musyrik. Syirik sangat berbahaya karena dapat menyebabkan pelakunya tidak diampuni dosanya.[7]

c. Riya’ yaitu pamer atau menampilkan diri dalam beramal agar mendapat pujian.

d. Takabur yaitu sombong atas apa yang dimiliki.

e. Hasud yaitu perasan tidak suka atau iri terhadap nikmat yang diterima orang lain kemudian menyebarkan berita bahwa nikmat yang diperoleh orang itu di dapat dengan cara yang tidak wajar.

f. Dendam, yaitu keinginan untuk membalas perbuatan seseorang.

Berdasarkan objeknya, akhlak ada 2:

1. Akhlaq kepada khaliq

Untuk melaksanakan akhlaq terhadap Allah, maka kita harus memperbanyak zikir, tawakal, ridha dan ikhlas, serta melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya.

2. Akhlaq kepada makhluk, terdiri atas :

a. Akhlaq kepada Rasulullah

b. Akhlaq kepada keluarga

c. Akhlaq kepada diri sendiri

d. Akhlaq kepada orang lain

e. Akhlaq kepada lingkungan / alam

III. KESIMPULAN

Agama Islam adalah agama yang sangat mementingkan ajaran akhlaq, dalam kehidupan di dunia ini, manusia bukanlah makhluk individual yang hidup sendirian tetapi manusia juga membutuhkan orang lain atau makhluk sosial. Oleh karena itu, akhlaq karimah mutlak diperlukan dalam perwujudan tatanan hidup yang serasi dan berkesinambungan demi tercapainya kebahagiaan hidup. Akhlak karimah merupakan perwujudan seseorang, yaitu sebagai bukti konkret dari kualitas agama seseorang.

DAFTAR PUSTAKA

KHM. Sukanda Sadeli, Bimbingan Akhlaq yang Mulia, Yayasan Pendidikan Islam Amal Saleh.

Drs. M. Mansyur Amin, dkk., Aqidah dan Akhlaq, Yogyakarta: Kota Kembang, 1991.

A. Zainuddin, S.Ag, dan Muhammad Jamhari, S.Ag. al-Islam 2 : Muamalah dan Akhlaq, Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998.

Drs. Asmaran As, M.A., Pengantar Studi Akhlak, Jakarta: Rajawali Pers, 1992.



[1] KHM. Sukanda Sadeli, Bimbingan Akhlak yang Mulia, Yayasan Pendidikan Islam Amal Saleh, hlm.

[2] A. Zainuddin S.Ag, dan Muhammad Jauhari, Al-Islam 2 Muamalah dan Akhlaq, CV. Pustaka Setia, hlm.

[3] Ibid.,

[4] A. Zainudin S.Ag dan Muhammad Jauhari, S.Ag., op.cit., hal.

[5] Ibid.

[6] Drs. Mazan Alfat, Aqidah Akhlaq, hlm. 74.

[7] Ibid., hlm. 96.




MAGIC, AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN

MAGIC, AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN

I. Pendahuluan

Berbicara soal magis, agama dan ilmu pengetahuan pasti tidak pernah meninggalkan bahasan mengenai sejarah. Asal usul pengetahuan manusia pada awalnya didasarkan pada keyakinan-keyakinan manusia mengenai sesuatu yang ada di luar dirinya. Keterbatasan pola pikir manusia pada zaman dahulu memunculkan suatu konsep pengetahuan mengenai magic atau suatu kekuatan yang memunculkan keajaiban atau sesuatu yang berbau mistik atau tahayul.

Manusia pada zaman itu menalar sesuatu di luar dirinya, contohnya perubahan iklim, cuaca selalu disangkutpautkan dengan keajaiban-keajaiban yang berbau mistis.

II. Pembahasan

a. Magic

Magis sering dikatakan erat hubungannya dengan sihir. Tetapi, menurut Honig, kata tersebut semula berarti imam, sehingga aneh sekali bila magis berhubungan dengan sihir sebab sihir termasuk perbuatan yang sangat tidak baik. Namun magis justru berarti ilmu sihir. Sebenarnya menurut kepercayaan masyarakat primitif pengertian magis lebih luas daripada sihir, karena yang dikatakan magis menurut kepercayaan mereka adalah suatu cara berfikir dan suatu cara hidup yang mempunyai arti lebih tinggi daripada apa yang diperbuat oleh seorang ahli sihir. Orang yang percaya dan menjalankan magis mendasarkan idenya pada dua hal, yaitu:

1. Bahwa dunia ini penuh dengan daya-daya gaib, yang disebut daya-daya alam oleh orang modern.

2. Bahwa daya-daya gaib tersebut dapat digunakan, tetapi penggunaannya tidak dengan akal pikiran melainkan dengan cara yang irrasional.

Dalam masyarakat primitif, kedudukan magis sangat penting. Boleh dikatakan semua upacara keagamaan, sikap hidup orang-orang primitif, terutama sikap rohani mereka, adalah bersifat magis karena magis merupakan segala perbuatan atau abstensi dari segala perbuatan mereka untuk mencapai suatu maksud tertentu melalui kekuatan-kekuatan yang ada di alam gaib, sebagaimana telah disebutkan.[1]

Seorang antropolog yang bernama Evans-Pritchard tentang Azande (1937) merupakan upaya paling awal yang mendeskripsikan keyakinan dan ritus-ritus yang berkaitan dengan magis dan ilmu gaib dalam masyarakat non-Eropa, dengan tanpa prasangka serta sensasionalisme yang tidak semestinya. Pendekatannya dikemukakan secara jelas dalam pengantar bukunya yang menunjukkan bagaimana keyakinan-keyakinan mistik dan ritus membentuk suatu “system ideasional”, dan bagaimana system ini diekspresikan dalam aksi sosial. Dia menganggap tidak ada gunanya mendeskripsikan aspek-aspek lain dari kehidupan sosial Azande. Oleh karena itu penekanannya bersifat intelektual, memfokuskan bagaimana ilmu gaib berkaitan dengan nasib buruk sebagai suatu bentuk penjelasan distereotipkan. Mengapa dia menekankan ilmu gaib dan ilmu sihir? Apakah dia hanya ingin membahas sisi esoteric dan irasional kebudayaan masyarakat pre-literature ? Ada dua jawaban atas pertanyaan ini.

1. Evans-Pritchard menunjukkan bahwa pemikiran masyarakat Azande pada dasarnya adalah rasional. Pemikiran serta aksi mereka didasarkan pada pengetahuanempiris yang cermat. Bahkan perbedaan antara apa yang dia sebut pemikiran “empiris” dan pemikiran “mistis” merupakan tema kunci yang merasuk ke seluruh studinya, dan dia menunjukkan berdampingannya kedua pola pemikiran tersebut dikalangan masyarakat Azande. Meskipun berbeda dengan kita, Azande tidak memiliki konsepsi tentang “tatanan alam”, namun demikian mereka memahami suatu perbedaan antara bekerjanya alam di satu sisi, dan bekerjanya magis, hantu, dan ilmu sihir disisi yang lain.

2. Ada hal penting bahwa agama atau keyakinan terhadap supranatural masyarakat Azande, berbeda dengan masyarakat tetangganya Nuer dan Dinka, sebagian besar dirasuki gagasan tentang abinza dan magis. Hal ini disebutkan oleh Seligman dalam pengantarnya ketika dia mencatat langkanya magis di kalangan Dinka dan Shilluk. Evans-Pritchard menekankan bahwa ilmu gaib adalah faktor yang ada dimana-mana dan lazim dalam kehidupan sosial Azande, masyarakat memperbincangkannya sebagai bagian dari pembicaraan sehari-hari.

Azande adalah masyarakat Sudan yang dalam era pra-kolonial diorganisir ke dalam sejumlah kerajaan yang terpisah-pisah, masing-masing diatur oleh anggota klan aristokratik.keyakinan terhadap spirit-pencipta tertinggi Mbori dan hantu nenek moyang (atoro) adalah hal penting bagi Azande, khususnya dalam konteks domestic. Tetapi keyakinan yang menonjol dalam kebudayaan Azande adalah keyakinan dalam pengobatan (magis) dan ilmu gaib. Secara khusus, ilmu gaib memainkan peran hampir disetiap aktifitas kehidupan sosial.

Hubungan yang kompleks antara common-sense (empiris) dan pemikiran mistis, sebagaimana diakui oleh Evans-Pritchard, adalah persoalan yang menghiasi hampir setiap halaman buku. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dia mendekati magis dan ilmu sihir dari sudut pandang intelektual dan mempertanyakan mengapa masyarakat Azande tidak memahami “ketidak-bergunaan magis mereka”. Dia mengemukakan beberapa alasan yang Pertama, Ilmu sihir dan magis membentuk suatu system yang secara intelektual koheren. Tujuan utama magis lebih untuk memerangi kekuatan magis lain daripada merubah dunia obyektif; oleh karena itu aksinya melampaui pengalaman, ia tidak bisa dengan mudah dipertentangkan dengan pengalaman. Kedua, skeptisme itu diakui dan ditanamkan dan Azande sering meneliti bahwa obat itu tidak berhasil dengan sukses. Tetapi skeptisisme ini hanya mencakup obat-obat dan ahli magis tertentu, dan sebaliknya system magis semakin dikukuhkan. Ketiga, kegagalan ritus dijelaskan dengan banyaknya gagasan mistik; sihir, counter-magis, atau pelanggaran terhadap tabu. Keempat, magis hanya digunakan untuk menghasilkan peristiwa yang dimungkinkan terjadi dalam berbagai kesempatan, dan jarang sekali diminta untuk menghasilkan suatu akibat hanya dengan tindakan magis itu sendiri; magis selalu dibarengi dengan aksi empiris. Seseorang membuat bir dengan metode yang telah terbukti, dan menggunakan obat (magis) hanya untuk mempercepat proses pemasakan. Dia tidak akan bermimpi membuat bir hanya dengan “obat” (magis).[2]

b. Agama

Dalam sosiologi agama, masalah bagaimana dan apa definisi agama berperan besar dalam perkembangan disiplin ini secara keseluruhan. Secara umum, perdebatan tentang definisi agama bisa dilihat dari berbagai sisi dasar konseptual. Misalnya, ada perbedaan mendasar antara perspektif reduksionis dengan non-reduksionis. Perspektif yang pertama cenderung melihat agama sebagai epifenomena, sebuah refleksi atau ekspresi dari sisi yang lebih dasariah dan permanen yang ada dalam perilaku individual dan masyarakat manusia. Penulis-penulis semacam Pareto, Lenin, Freud dan Engels memandang agama sebagai produk atau refleksi mental dari kepentingan ekonomi, kepentingan biologis atau pengalaman ketertindasan kelas.

Implikasi pandangan reduksionis ini adalah kesimpulan yang mengatakan keyakinan-keyakinan religius sama sekali keliru, karena yang diacu adalah kriteria-kriteria saintifik atau positifistik. Oleh karena itu memegang keyakinan religius adalah tindakan irrasional, karena yang dirujuk adalah kriteria logis pemikiran. Implikasi terakhir reduksionisme kaum positifistik adalah bahwa agama dilihat sebagai aktifitas kognitif nalar individual yang satu dan lain sebab telah salah kiprah memahami hakikat kehidupan empiris dan sosial (Goode, 1951).

Salah satu definisi klasik agama yang muncul pada abad 19 adalah “definisi minimum”-nya E.B. Tylor. Dia mengatakan agama sebagai “kepercayaan terhadap hal-hal yang bersifat spiritual”. Agama lahir dari upaya para “filosof primitive” untuk mengerti dan memahami pengalaman-pengalaman mental mereka. Kita dapat lihat tipe definisi ini sangat individualistik, kognitif dan rasionalis, karena tidak khusus diarahkan pada praktek atau symbol-simbol religius dalam kaitannya dengan organisasi sosial, dan definisi semacam ini menerima kriteria sains-sains Barat sebagai kebenaran yang tak bisa diganggu gugat dan satu-satunya landasan rasionalitas.

Maka sejarah sosiologi agama bisa dipandang sebagai gerak teoritis yang melepaskan diri dari reduksionisme positif menuju telaah yang lebih apresiatif terhadap arti penting ritual religius dalam organisasi sosial dan menuju pada satu kesadaran bahwa ternyata sains positifistik bukanlah alat ukur yang tepat untuk menentukan rasionalitas agama. Dalam antropologi, perubahan perspektif ini sering dikaitkan dengan pembuktian yang mengatakan bahwa “masyarakat primitive pun” juga telah membedakan dengan jelas mana yang magis dan mana yang teknologis; magis hanya berperan dalam situasi ketidakpastian dan bahaya (Malinowki, 1948).[3]

Evans-Pritchard mempublikasikan buku trilogy tentang Nuer, yaitu suatu kelompok masyarakat penggembala biri-biri semi-nomadik yang hidup di rawa dan padang rumput di Negara Sudan. Dia kemudian menyatakan bahwa dalam seluruh masyarakat pemikiran keagamaan menimbulkan pengaruh terhadap aturan sosial. Dalam masyarakat Nuer, pengaruh ini terdapat di seluruh level realitas sosial. Sebagai pencipta, roh adalah pelindung seluruh masyarakat; hal itu tergambar dalam roh udara (seperti deng), dia adalah pelindung garis keturunan dan keluarga; tergambar dalam roh alam dan fethis, dia adalah pelindung individu-individu tertentu.

Evans-Pritchard menekankan bahwa agama Nuer pada dasarnya adalah agama duniawi, “sebuah agama dari kehidupan yang padat (abundant life) dan hari-hari yang sesak (fullness of days)” dan bahwa Nuer tidak ingin mengetahui dan juga tidak peduli dengan apa yang terjadi terhadap diri mereka setelah mereka mati. Ini nampak akan menguatkan pernyataan Weber tentang sifat agama kesukuan. Dia juga menunjukkan bahwa suku Nuer memiliki sedikit perhatian terhadap hantu atau roh orang yang telah meninggal, dan sangat berlawanan dengan Azande, mereka sedikit sekali menggunakan obat. Ramalan dan herbalisme dipraktekkan, tetapi menurut Evans-Pritchard bagi masyarakat Nuer semua itu bukan sesuatu yang penting. Menurutnya, mereka menganggap obat sebagai sesuatu yang asing dan aneh. Orientasi pemikiran Nuer selalu “terarah kepada roh”. “Dosa, dengan penderitaan sebagai akibatnya”.[4]

c. Ilmu Pengetahuan

Sampai saat ini, sejarah tentang ilmu merupakan sebuah kisah kesuksesan. Kemenangan-kemenangan ilmu melambangkan suatu proses kumulatif peningkatan pengetahuan dan rangkaian kemenangan terhadap kebodohan dan tahayul dan dari ilmulah kemudian mengalir arus penemuan-penemuan yang berguna untuk kemajuan hidup manusia. Kesadaran yang terjadi dewasa ini tentang adanya masalah-masalah moral yang serius di dalam ilmu mengenai kekerasan-kekerasan eksternal dan paksaan-paksaan pada pengembangannya dan mengenai bahaya-bahaya dalam perubahan teknologis yang tak terkendali menantang para sejarawan untuk melakukan penilaian kembali secara kritis terhadap keyakinan awal sederhana ini.

Di abad ke-19 terdapat adanya pembedaan-pembedaan kekaburan antara ilmu, industri dan filsafat. Para sejarawan menemukan bahwa studi di alam dilaksanakan dalam suatu kerangka asumsi-asumsi tentang dunia yang kini ditolak sebagai kerangka yang bersifat magis dan tahayul.

Pendapat mengenai ilmu di abad tengah simpang siur. Para sejarawan terdahulu memandang ilmu dijaman itu, belum terbebaskan dari beban dogmatis dan tahayul. Sementara sejarawan lainnya mencoba menunjukkan bahwa banyak fakta dan prinsip pokok ilmu modern ditemukan pada waktu itu. Orang terpelajar dijaman dulu tidak semuanya mencoba melaksanakan penelitian ilmiah. Filsafat alamiah dan fakta-fakta khusus dipelajari terutama dalam hubungannya dalam agama juga untuk menjelaskan teks-teks al kitab yang penuh kiasan.

Di antara ilmu dan agama pernah dibungkam secara aneh. Contohnya, teori Darwin tentang seleksi alamnya. Dan orang akan ragu untuk berbicara lebih jauh. Seperti yang begitu banyak dilakukan nenek moyang kita tentang apa-apa yang ragu diantara ilmu dan agama. Sebagai hal yang tak terhindarkan. Memang benarlah bahwa segelintir penulis pendukung masih merasa kesulitan untuk memutuskan isu-isu seperti apakah eksistensi kehidupan pada dunia lain akan memerlukan penetapan kembali adanya kejatuhan dalam dosa dan penebusan yang diajarkan agama.

Satu-satunya cabang ilmu yang masih mampu mendorong perdebatan teologis dengan penuh semangat, sampai sekarang adalah ilmu-ilmu humaniora ketimbang ilmu-ilmu alamiah. Implikasi-implikasi psikologi Freudian terhadap doktrin rahmat dan kegunaan obat-obat bius yang menimbulkan khayalan untuk menghasilkan pengalaman-pengalaman kuasi-mistik adalah topic-topik diskusi yang hangat dimasa kini bukan lagi evolusi, astrofisika dan geologi histories.[5]

III. Kesimpulan

Dari paparan makalah diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya definisi dari agama itu sangat banyak sekali dan berbeda-beda pendapat, berarti semuanya itu kembali kepada diri kita masing-masing. Setiap individu pasti mempunyai pendapat yang berbeda-beda, tergantung dari pengalaman religius yang pernah dilakukan. Apalagi kehidupan di dunia ini terdapat suatu kekuatan yang selalu menyelimuti kita dan semua kekuatan itu bersifat empiris&mistis. Dan agama tentu saja yang bisa meyakinkan kita tentang hal-hal yang gaib. Ilmu pengetahuan selalu mencari dan ingin membuktikan bahwa hal-hal yang bersifat mistis dan tahayul itu tidak benar. Para sejarawan terdahulu memandang ilmu dijaman itu, belum terbebaskan dari beban dogmatis dan tahayul. Tetapi, itulah kehidupan yang ada di dunia ini, semuanya kembali kepada kita saja. So, percayalah terhadap apa yang kita yakini keberadaannya. Apalagi kita mempunyai agama, ya to??



DAFTAR PUSTAKA

Ali, H.A Mukti, Agama-agama di Dunia, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press. 2000.

Morris, Brian, Antropologi Agama, Yogyakarta: Haikhi Grafika. 2007.

Ravertz, Jerome R, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2004.

Turner, Bryan S., Agama&Teori Sosial, Yogyakarta: Ijang Grafika. Cet II. 2006.



[1]H.A Mukti Ali, Agama-agama di Dunia, IAIN Sunan Kalijaga Press. Yogyakarta. 2000. hlm. 48-51

[2] Brian Morris, Antropologi Agama, Haikhi Grafika. Yogyakarta. 2007. hlm. 241

[3] Bryan S. Turner, Agama&Teori Sosial, Ijang Grafika. Yogyakarta. Cet II. 2 006. hal, 415 – 416

[4] Brian Morris, hlm. 244-246

[5] Jerome R Ravertz, Filsafat Ilmu, Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2004. hlm.18




DOSA-DOSA BESAR

DOSA-DOSA BESAR

I. PENDAHULUAN
Kualifikasi manusia di dalam al-Qur’an itu terdapat dua golongan. Golongan yang pertama merupakan golongan orang-orang yang selamat (orang-orang yang beruntung), golongan ini merupakan golongan orang yang senantiasa berbuat baik, golongan yang senantiasa beribadah kepada Tuhan YME, yang senantiasa menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Golongan ini tertera dalam al-Qur’an seperti : al-Muhlisin, al-Mu’minin, al-Muttaqien, dan sebagainya. Golongan yang kedua merupakan golongannya orang-orang rugi atau orang-orang yang tidak beruntung, golongan ini merupakan golongan yang senantiasa berbuat kemungkaran, kemaksiatan, kedholiman, dan sebagainya.
Dari kedua kualifikasi tersebut, tentunya bisa disimpulkan bahwa orang-orang yang mendapat kebahagiaan yaitu orang-orang yang senantiasa berbuat baik (ma’ruf), sedangkan orang-orang yang mendapat siksaan yaitu orang-orang senantiasa berbuat dosa (kemungkaran). Dari sini kita seharusnya selektif, agar masuk golongan orang-orang yang selamat tentunya harus berani menjauhi segala perbuatan dosa (kemungkaran) lebih-lebih dosa-dosa besar.


II. PEMBAHASAN
Banyak hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim yang membicarakan mengenai dosa-dosa besar, diantaranya:
حَدِّثُنااحمد بن سعيد الهمد انيّ حديثنا ابن وهب عن سليمان بن بِلَلٍ عن ثور بن زيد عن أبىالغيث عن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِنَاتِ.
Terjemah :
Abu Hurairah r.a berkata : Nabi Saw bersabda: Tinggalkanlah tujuh dosa yang dapat membinasakan. Sahabat bertanya: Apakah itu ya Rasulullah? Jawab Nabi Saw : 1. Syirik mempersekutukan Allah, 2. Berbuat sihir (tenung), 3. Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, 4. Makan harta riba, 5. Makan harta anak yatim, 6. Melarikan diri dari perang pada saat berperang, 7. Dan menuduh wanita mu’minat yang sopan (berkeluarga) dengan zina. (HR. Bukhari Muslim).
حَدِيثُ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَ لاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلاَثًا، قالوا يارسول الله، قال: اْلإِشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ، وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا، فَقَالَ، أَلاَ وَقَوْلُ الزُّوْنِ، قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ.
Terjemah :
Abu Bakrah r.a berkata: Nabi Saw bersabda: Sukakah aku beritahukan kepadamu dosa-dosa yang besar? Pertanyaan ini diulang tiga kali. Jawab sahabat : Baiklah ya Rasulullah. Maka Nabi bersabda : 1. Syirik mempersekutukan Allah, 2. Durhaka terhadap kedua ayah bunda. Nabi Saw tadinya menyandar tiba-tiba duduk dan bersabda: 3. Ingatlah, dan kata-kata dusta, tipuan, lalu mengulang yang ketiga ini beberapa kali sehingga kami (sahabat) berkata : semoga berhenti (diam)”.
Al-Bukhari mentakhrijkan hadits ini dalam “Kitab Persaksian” bab tentang apa yang dikatakan dalam saksi palsu.
حَدِيثُ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ :قال سئل رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عن الْكَبَائِرِ قَالَ الشِّرْكُ بِاللهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ. {اخرجه البخارى : 52- كتاب الشهادات : باب ماقيل في سهاددة الزور}.
Terjemahan:
Anas r.a berkata: ketika Nabi Saw ditanya tentang dosa-dosa besar, maka jawabannya : Syirik mempersekutukan Allah, dan durhaka terhadap kedua ayah bunda, dan membunuh jiwa (manusia) dan saksi palsu.
Al-Bukhari mentakhrij hadits ini dalam “Kitab Persaksian” bab tentang apa yang diketahui dalam saksi palsu.
Hadits yang pertama secara kualitas bagus atau sohih karena diriwayatkan oleh kedua imam besar, yaitu Imam Bukhari Muslim, asbabul nuzulnya yaitu ada sahabat yang melarikan diri dari medan perang. Sedangkan hadits yang kedua dan ketiga secara kualitas sohih karena diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dan sudah diakui kebenarannya. Dari ketiga hadits ini terhadap sedikit persamaan, yaitu ketiganya membicarakan syirik, hanya saja hadits pertama terdiri dari 7 item, sedangkan hadits kedua tiga item, sedangkan hadits yang terakhir empat item (sub pokok bahasan).
Syirik, seperti yang dikatakan Ibnu Qoyyim yaitu : menjadikan sekutu bagi Allah, mencintainya sebagaimana ia mencintai Allah. Ini merupakan syirik yang mengandung penyamaan tuhan-tuhan orang musyrik dengan Tuhan semesta alam. Perbuatan syirik sangat dimurka oleh Allah. Sihir merupakan ilmu yang di dalamnya terdapat unsur ilmu hitam, ia percaya terhadap kekuatan gaib. Ilmu ini banyak dimiliki oleh para dukun, padahal dalam hadits Bukhari Muslim dikatakan “orang yang mendatangi dukun dan ia percaya maka ia akan dimasukkan neraka”.
Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak. Janganlah sampai diantara kita membunuh jiwa (manusia) tanpa alasan nyata kebenarannya, karena akibat-akibatnya dunia luas dan langit dengan segala penjurunya akan menjadi sempit dan orang tersebut akan dimasukkan neraka dengan penuh murka dari Tuhan. Makan harta riba, Riba secara bahasa maknanya tambahan, sedangkan secara istilah syara’ adalah akad yang terjadi dengan penukaran yang tertentu, tidak diketahui sama atau tidaknya menurut aturan syara’, atau terlambat menerimanya.
Firman Allah Swt:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ الرِّبَا أَضْعَافاً مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُواْ اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ {ال عمران:130}
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”. (Ali Imran : 130).
Makan harta anak yatim, Anak yatim itu titipan umat untuk disantuni, dididik, sehingga mereka merasa sama seperti waktu masih memiliki orang tua. Mereka mesti diarahkan, agar memperoleh masa depan yang lebih baik. Jangan sekali-kali menghardik anak yatim.
Allah berfirman:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ {1} فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ {2}
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim”.
Melarikan diri dari medan peperangan merupakan perbuatan pengecut yang di murka Allah, padahal Islam mengajarkan umatnya untuk berani melawan musuh, menanamkan sifat pemberani (saja’ah).
Menuduh wanita mu’minat yang sopan (berkeluarga) dengan zina merupakan dosa besar, dan mewajibkan hukum dera. Orang merdeka di dera delapan puluh kali dan hamba empat puluh kali dera dengan beberapa syarat yang akan dibahas kemudian. Firman Allah surat an-Nur ayat 4 yang artinya: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera”. Durhaka kepada kedua ayah bunda, alangkah naifnya sebagai anak yang berani (durhaka) kepada orang tuanya yang membesarkan dengan susah payah. Ada ungkapan “bahwa ridhonya Allah terletak pada ridhonya kedua orang tua”. Dusta merupakan dosa besar tetapi masyarakat memandang remeh mengenai hal ini, padahal dusta merupakan ciri-ciri orang munafik.
Dalam yang mendakwa hendaknya mengajukan saksi, maka jika yang mendakwa mempunyai saksi yang cukup, dakwaannya hendaklah diterima oleh hakim; berarti dia menang dalam perkaranya, begitu pula sebaliknya. Namun sebagai saksi harus memenuhi kriteria atau syarat-syarat sebagai saksi; kalau tidak terpenuhi berarti saksi tersebut palsu dan dakwaannya tidak bisa diterima alias gagal.

III. KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas pemakalah menyimpulkan ada dosa-dosa besar yang harus kita jauhi, karena dosa-dosa tersebut akan menjadikan fatal dalam kehidupan kita, baik di dunia maupun akhirat. Dosa-dosa tersebut antara lain:
1. Syirik
2. Sihir
3. Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak
4. Makan harta riba
5. Makan harta anak yatim
6. Melarikan diri dari medan perang
7. Menuduh wanita baik-baik berbuat zina
8. Durhaka kepada kedua orang tua



9. Dusta atau bohong
10. Saksi palsu.


DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Fuad Abdul Baqi, al-Lu’lu wal Marjan, “Himpunan Hadits Shahih yang Disepakati Bukhari Muslim”, Semarang: PT. Bina Ilmu, 1995.
Muh. Fuad Abdul Baqi, Terjemahan al-Lu’lu wal Marjan, “Koleksi yang Disepakati oleh Bukhari Muslim”, Semarang: al-Ridha, 1993.
Dr. Yusuf Qardhawi, Fikih Prioritas Urutan Amal Yang Terpenting dari Yang Penting, Jakarta: Gema Insani Press, 1996.
Al-Faqih Abu Laits Samarqandi, Tanbihul Ghafilin Pembangunan Jiwa Moral Umat, Surabaya: Darul Ulya, 1993.
H. Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, Bandung: PT. Sinar Baru, 2003.
Drs. Moh. Zuhri, Terjemah Juz ‘Amma, Jakarta: PT. Pustaka Amani, 1979.

DOSA-DOSA BESAR DAN TAUBAT

DOSA-DOSA BESAR DAN TAUBAT

A. PENDAHULUAN
Hadits merupakan sumber hukum kedua setelah al-Qur’an, sudah seharusnya kita mempelajarinya, sebagaimana fungsi hadits sebagaimana fungsi hadits sebagai penjelas al-Qur’an, dalam hadits memuat gejala penjelasan tentang suatu hal yang dirasa mujmal atau sulit dipahami.
Dalam al-Qur’an telah dijelaskan berbagai macam dosa besar dan keharusan kita untuk bertaubat serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Dosa besar merupakan sesuatu dosa yang dalam al-Qur’an sudah diancam hukuman yang sangat berat dan tidak mendapat ampunan dari Allah, sebagai muslim kewajiban kita adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya sebagai wujud dari keimanan dan ketakwaan kita.

B. PEMBAHASAN
1. Dosa-Dosa Besar
a. Pengertian dosa-dosa Besar
Dosa besar adalah perbuatan-perbuatan yang oleh al-Qur’an dan as-Sunah diancam dengan siksaan yang sangat berat. Ancaman siksaan yang berat itu ialah ancaman untuk dimasukkan neraka, memperoleh laknat dari Allah.
b. Macam-macam dosa besar
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ {اجرخه البخارى في كتاب الوصايا}
Artinya : “Dari Abi Hurairah Nabi Muhammad bersabda jauhilah kamu sekalian 7 perkara yang merusak, sahabat bertanya wahai Rasulullah dan itu apa, rasul menjawab : menyekutukan Allah, sihir, membunuh orang yang telah diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, memakan riba, makan harta bendanya anak yatim, berpaling pada hari pertempuran (lari), menyangka seorang perempuan mukmin berzina.”
Berdasarkan hadits diatas ada 7 macam dosa besar yang harus kita hindari, yaitu :
1) Menyekutukan Allah, sebagaimana kita yakini Allah mempunyai sifat yang berbeda dengan makhluk-Nya, adalah suatu dosa besar jika kita menyekutukannya.
2) Sihir, merupakan perbuatan yang merugikan orang lain dan lebih percaya kepada yang lain dari pada Allah.
3) Membunuh orang karena menghilangkan hak seseorang untuk hidup kecuali jika kita membunuh dengan suatu alasan yang dibenarkan syarat
4) Memakan riba, seseorang yang memakan riba ia telah mengambil sesuatu yang bukan haknya sekaligus merugikan orang lain
5) Memakan harta benda anak yatim hal tersebut termasuk perbuatan yang dilaknat oleh Allah.
6) Berpaling pada hari pertempuran, atau lari dari pertempuran, agama telah menganjurkan pada kita untuk berjihad, menjadi seorang syuhada.
7) Menyangka seorang perempuan mukmin berzina.
Adapun dosa besar menurut hadits Anas adalah :
أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْكَبَائِرِ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَقَوْلُ الزُّورِ{اجرخه البخارى في كتاب الشهادات}
Dari Anas r.a Nabi Muhammad ditanya dari dosa-dosa besar, Nabi Muhammad menjawab menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, membunuh orang dengan tidak benar dan saksi yang palsu.
Dosa-dosa besar menurut hadits diatas adalah :
1) Syirik kepada Allah
Syirik yaitu menserikatkan Allah baik mengenai dzat-Nya, sifat-Nya dengan sesuatu atau makhluk-Nya, syirik yang demikian oleh para ulama disebut syirik akbar atau syirik iqtiqady, perbuatan syirik ini mempunyai daya mengeluarkan seseorang dari golongan pemeluk agama dan mengekalkannya di neraka, karena dosanya tidak memperoleh ampunan dari Allah.
Di samping syirik akbar disebut syirik ashghar atau amaly yaitu mengerjakan sesuatu amal bukan karena Allah, tetapi karena manusia, syirik ini tidak sampai mengeluarkan orang yang bersangkutan dari golongan agama.
Pembagian syirik yang lain adalah syirik jali, yaitu syirik secara terang-terangan, contohnya menyembah pohon, patung dan sebagainya, yang kedua yaitu syirik khofi atau syirik secara samar-samar yaitu meminta pertolongan kepada selain Allah, contohnya pergi ke dukun agar dekat jodohnya.
Adapun cara untuk menghindari perbuatan syirik diantaranya selalu berpedoman kepada ajaran al-Qur’an, menjauhi orang-orang yang berbuat syirik dan memupuk iman yang ada dihati.
2) Durhaka kepada orang tua
Yang dimaksud durhaka kepada orang tua adalah bermakiat kepada kedua orang tua, namun jika seorang anak enggan melaksanakan perintah kedua orang tuanya supaya menserikatkan Allah ia tidak mendurhakai kedua orang tuanya, walaupun pada lahirnya ia bermaksiat, sebab perintah kedua orang tuanya adalah perintah yang bertentangan dengan syariat.

3) Membunuh seseorang tanpa alasan yang dibenarkan
Allah menciptakan makhluk-Nya dengan segala hal dan kewajiban-Nya, termasuk hak untuk hidup, maka seseorang diharamkan untuk membunuh orang lain.
4) Saksi palsu
Islam mengajarkan kepada kita agar selalu bersifat jujur, karena dengan kejujuran itulah hidup kita akan tenang dan tentram, tidak dikejar-kejar rasa takut.
Sebuah kesaksian palsu dapat merugikan orang lain, orang yang seharusnya bersalah bebas dan yang seharusnya tidak bersalah menjadi terpidana.
Dalam al-Qur’an telah banyak ayat yang senantiasa mengajarkan pada kita untuk mengatakan apa yang kita ketahui diantaranya Ash-Shaf ayat 2
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لاَ تَفْعَلُونَ {الصف : 2}
Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan
Atau sabda Rasulullah SAW
قُلِ الْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًا {رواه البخارى ومسلم}
Artinya : “katakan yang benar sekalipun itu pahit”
2. Taubat
a. Pengertian taubat
Taubat adalah meminta maaf atau mohon ampun kepada Allah dari perbuatan dosa yang telah kita lakukan.
Adapun cara bertaubat diantaranya :
1) Harus menghentikan maksiat
2) Harus menyesal atas perbuatan yang telah dilakukan
3) Maksimal bersungguh-sungguh tidak mengulangi perbuatan tersebut
4) Meminta maaf kepada orang yang bersangkutan, apabila dosanya sesama manusia.
b. Anjuran untuk beristighfar
عَنْ أَبِى بُرْدَةَ عَنْ رَجُلٍ مِنَ الْمُهَاجِرِيْنَ يَقُوْ لُ سَمِعْتُ النبي صلى الله عليه وسلم يقول يَاآيُهَـاالنَّاسُ تُوْبُوْا إِلَىاللهِ وَاسْتَغْفِرُوْ هُ فَإِنِّى اَتُوْبَ اِلَىالله وَاسْتَغْفِرُهُ فيِ كُلِّ يَوْمِ مِائَةَ اَوْ اَكْثَرَ مِنْ مِائَةَ مَرَّةِ {رواه احمد في مسند الكوفين}
Artinya : “Dari Abi Burdah dari seorang laki-laki dari sebagian sahabat Muhajirin beliau mengatakan kami telah mendengar Nabi Muhammad bersabda “Wahai ingatlah manusia, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah dan mohonlah pengampunan kami sekalian kepada-Nya, maka sesungguhnya kami bertaubat kepada Allah dan kami mohon pengampunan kepada-Nya pada tiap hari 100 kali atau lebih”
Manusia adalah insan yang tempatnya salah dan lupa, banyak kesalahan yang kita lakukan, baik secara sengaja maupun tidak, kita sadari atau tidak. Sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah segera minta maaf, oleh sebab itu menurut hadits di atas kita dianjurkan untuk beristighfar 100 kali atau lebih.
Membiasakan hidup dengan senantiasa zikir kepada Allah, akan membawa ketenangan hari serta terjaga dari sikap dan tutur kata yang buruk, karena lisan kita telah terbiasa berkata yang baik, yaitu kalimat thayyibah dan hati kita senantiasa mengakui kesalahan dan kelemahan kita, sehingga kita menjadi orang yang rendah.
c. Bertaubat kepada Allah
َبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
Artinya : “Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW bersabda : Allah yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Aku menurut dugaan hambaku kepadaku, dan Aku bersamanya ketika ia ingat kepadaku, Demi Allah, sungguh Allah lebih suka kepada taubat hamba-Nya daripada salah seorang diantaramu yang menemukan barangnya yang hilang di padang. Barang siapa yang mendekatkan diri kepadaku sejengkal, maka Aku mendekatkannya sehasta, dan barangsiapa mendekatkan diri padaku sehasta, maka Aku mendekatkan diri padanya satu depa, dan barang siapa yang mendekatkan diri kepadaku dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari.
Adapun maksud dari hadits di atas adalah Allah selalu bersama hamba-Nya dengan rahmat, pertolongan, petunjuk, dan pemeliharaan kepedulian, dan barang siapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan taat, Allah akan memberinya rahmat, taufiq dan pertolongan. Jika ia menambah dalam bertaat maka Allah menambah taufiq dan rahmat-Nya. Jika hamba datang dengan berjalan dan segera bertaat maka Allah akan melimpahkan rahmat yang amat banyak.
Allah menyukai hamba-Nya yang bertaubat meskipun taubat tersebut terlambat.
عَنْ عَبْدِ اللهِ عُمَرَ عَنِ النَّبي صلىالله عليه وسلم إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَقْبَلَ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَالَمْ يُغَر غرً {اخرجه ابن ماجه في كتاب الزهد}
Artinya : “Dari Abdillah bin Umar dari Nabi SAW bersabda sesungguhnya Allah yang maha tinggi, dan agung, pasti akan menerima taubat-Nya seorang hamba selagi hamba itu belum sekarat.
Dari hadits tersebut nyatalah bahwa Allah adalah maha pengampun, Allah mengampuni dosa hamba-Nya yang bertaubat sekalipun taubat tersebut terlambat asalkan belum sekarat.

C. KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan :
1. Menurut Abu Hurairah dosa-dosa besar itu ada 7 macam
2. Menurut Anas dosa besar itu ada 4 macam
3. Kita dianjurkan untuk senantiasa beristighfar dan mengingat Allah
4. Allah gembira terhadap hamba-Nya yang bertaubat
5. Allah menerima taubat seorang hamba selagi ia belum sekarat.

D. PENUTUP
Manusia akan sulit untuk terhindar dari dosa kecil sekalipun sebaik-baiknya orang yang berdosa adalah segera memohon ampun.


DAFTAR PUSTAKA
Faturrahman, Drs., Haditsun Nabawi, Menara Kudus, 1966.
Zuhri, Muhammad, Drs. Kelengkapan Hadits Qudsi, CV. Toha Putra, Semarang, 1982
As’ad Aliy, Drs., Fathul Mu’in, Menara Kudus, 1979.