KUMPULAN MAKALAH, SKRIPSI, & TIPS DAN TRIK

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Showing posts with label planning. Show all posts
Showing posts with label planning. Show all posts
FUNGSI DAN PRINSIP MANAJEMEN PENDIDIKAN

FUNGSI DAN PRINSIP MANAJEMEN PENDIDIKAN

Manajemen sebagai suatu proses sosial, meletakkan bobotnya pada interaksi orang-orang, baik orang-orang yang berada di dalam maupun di luar lembaga-lembaga formal, atau yang berada di atas maupun di bawah posisi operasional seseorang. Selain itu juga manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Peningkatan kualitas pendidikan bukanlah tugas yang ringan, karena tidak hanya berkaitan dengan permasalahan teknis, tetapi mencakup berbagai persoalan yang rumit dan kompleks, sehingga menuntut manajemen pendidikan yang lebih baik. Sayangnya, selama ini aspek manajemen pendidikan pada berbagai tingkat dan satuan pendidikan belum mendapat perhatian yang serius, sehingga seluruh komponen sistem pendidikan kurang berfungsi dengan baik. Lemahnya manajemen pendidikan juga memberikan dampak terhadap efisiensi internal pendidikan yang terlihat dari jumlah peserta didik yang mengulang dan putus sekolah.

A. Fungsi-Fungsi Manajemen

Sampai saat ini, masih belum ada konsensus di antara baik praktisi maupun para teoritisi mengenai apa yang menjadi fungsi-fungsi manajemen. Sering pula disebut unsur-unsur manajemen.

Secara umum, manajemen dapat dibagi menjadi 10 bagian, yaitu:

1. Forecasting

Forecasting atau prevoyance (Prancis) adalah kegiatan meramalkan, memproyeksikan atau mengadakan taksiran terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi sebelum suatu rencana yang lebih pasti dapat dilakukan.

Misalnya, suatu akademi meramalkan jumlah mahasiswa yang akan melamar belajar di akademi tersebut. Ramalan tersebut menggunakan indikator-indikator, seperti jumlah lulusan SLTA dan lain sebagainya.

2. Planning termasuk Budgeting

Planning sendiri berarti merencanakan atau perencanaan, terdiri dari 5, yaitu :

a. Menetapkan tentang apa yang harus dikerjakan, kapan dan bagaimana melakukannya.

b. Membatasi sasaran dan menetapkan pelaksanaan-pelaksanaan kerja untuk mencapai efektivitas maksimum melalui proses penentuan target.

c. Mengumpulkan dan menganalisa informasi

d. Mengembangkan alternatif-alternatif

e. Mempersiapkan dan mengkomunikasikan rencana-rencana dan keputusan-keputusan.[1]

Bisa juga dirumuskan secara sederhana, misalnya perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai sesuatu hasil yang diinginkan. Pembahasan yang agak kompleks merumuskan perencanaan sebagai penetapan apa yang harus dicapai. Selain itu juga dalam fungsi perencanaan sudah termasuk di dalamnya penetapan budget.

Lebih tepatnya lagi bila planning dirumuskan sebagai penetapan tujuan, policy, prosedur, budget, dan program dari sesuatu organisasi.

3. Organizing

Dengan ini dimaksudkan pengelompokan kegiatan yang diperlukan yakni penetapan susunan organisasi serta tugas dan fungsi-fungsi dari setiap unit yang ada dalam organisasi. Dapat pula dirumuskan sebagai keseluruhan aktivitas manajemen dalam mengelompokkan orang-orang serta penetapan tugas, fungsi, wewenang, serta tanggung jawab masing-masing dengan tujuan terciptanya aktivitas-aktivitas yang berdaya guna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Pengorganisasian terdiri dari :

a. Menyediakan fasilitas-fasilitas perlengkapan, dan tenaga kerja yang diperlukan untuk penyusunan rangka kerja yang efisien.

b. Mengelompokkan komponen kerja ke dalam struktur organisasi secara teratur.

c. Membentuk struktur wewenang dan mekanisme koordinasi.

d. Merumuskan dan menentukan metode serta prosedur.

e. Memilih, mengadakan latihan dan pendidikan tenaga kerja dan mencari sumber-sumber lain yang diperlukan.

4. Staffing atau Assembling Resources

Istilah staffing diberikan Luther Gulick, Harold Koontz dan Cyril O’Donnell[2]. Sedangkan assembling resources dikemukakan William Herbert Newman.[3] Kedua istilah itu cenderung mengandung arti yang sama; pen-staf-an dan staffing merupakan salah satu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia pada suatu organisasi dan pengembangannya sampai dengan usaha agar petugas memberi daya guna maksimal kepada organisasi.

5. Directing atau Commanding

Merupakan fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha memberi bimbingan, saran, perintah-perintah atau instruksi-instruksi kepada bawahan dalam pelaksanaan tugas masing-masing bawahan tersebut, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan benar-benar tertuju kepada tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Directing atau commanding merupakan fungsi manajemen yang dapat berfungsi bukan hanya agar pegawai melaksanakan atau tidak melaksanakan suatu kegiatan, tetapi dapat pula berfungsi mengkoordinasi kegiatan berbagai unsur organisasi agar dapat efektif tertuju kepada realisasi tujuan yang telah ditetapkan.

6. Leading

Istilah leading yang merupakan salah satu fungsi manajemen, dikemukakan oleh Louis A. Allen[4] yang dirumuskan sebagai pekerjaan yang dilakukan oleh seorang manajer yang menyebabkan orang-orang lain bertindak. Pekerjaan leading, meliputi 5 macam kegiatan, yaitu :

a. Mengambil keputusan

b. Mengadakan komunikasi agar ada bahasa yang sama antara manajer dan bawahan

c. Memberi semangat inspirasi dan dorongan kepada bawahan supaya mereka bertindak

d. Memilih orang-orang yang menjadi anggota kelompoknya

e. Memperbaiki pengetahuan dan sikap-sikap bawahan agar mereka trampil dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[5]

7. Coordinating

Salah satu fungsi manajemen untuk melakukan berbagai kegiatan agar tidak terjadi kekacauan, percekcokan, kekosongan kegiatan, dengan jalan menghubung-hubungkan, menyatupadukan dan menyelaraskan pekerjaan-pekerjaan bawahan sehingga terdapat kerjasama yang terarah dalam usaha mencapai tujuan bersama atau tujuan organisasi. Usaha yang dapat dilakukan untuk mencapai maksud, antara lain :

a. Dengan memberi instruksi

b. Dengan memberi perintah

c. Mengadakan pertemuan-pertemuan dalam mana diberi penjelasan-penjelasan

d. Memberi bimbingan atau nasihat

e. Mengadakan coaching

f. Bila perlu memberi teguran.[6]

8. Motivating

Motivating atau pendorongan kegiatan merupakan salah satu fungsi manajemen berupa pemberian inspirasi, semangat dan dorongan kepada bawahan, agar bawahan melakukan kegiatan secara suka rela sesuai apa yang dikehendaki oleh atasan tersebut.

9. Controlling

Controlling atau pengawasan, sering disebut pengendalian, adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian dan sekaligus bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang sedang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud tercapai tujuan yang sudah digariskan.

10. Reporting

Reporting atau pelaporan adalah salah satu fungsi manajemen berupa penyampaian perkembangan atau hasil kegiatan atau pemberian keterangan mengenai segala hal yang bertalian dengan tugas dan fungsi-fungsi kepada pejabat yang lebih tinggi baik secara lisan maupun secara tulisan.

Sedangkan fungsi pokok manajemen pendidikan dibagi 4 macam:

1. Perencanaan

Perencanaan program pendidikan sedikitnya memiliki dua fungsi utama, yaitu :

a. Perencanaan merupakan upaya sistematis yang menggambarkan penyusunan rangkaian tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi atau lembaga dengan mempertimbangkan sumber-sumber yang tersedia atau sumber-sumber yang dapat disediakan.

b. Perencanaan merupakan kegiatan untuk mengerahkan atau menggunakan sumber-sumber yang terbatas secara efisien, dan efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2. Pelaksanaan

Pelaksana merupakan kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien, dan akan memiliki nilai jika dilaksanakan dengan efektif dan efisien.

3. Pengawasan

Pengawasan dapat diartikan sebagai upaya untuk mengamati secara sistematis dan berkesinambungan; merekam; memberi penjelasan, petunjuk, pembinaan dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat; serta memperbaiki kesalahan, dan merupakan kunci keberhasilan dalam keseluruhan proses manajemen.

4. Pembinaan

Pembinaan merupakan rangkaian upaya pengendalian secara profesional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya sehingga rencana untuk mencapai tujuan dapat terlaksana secara efektif dan efisien.[7]

Ada beberapa pendapat tentang fungsi-fungsi manajemen yang dikemukakan oleh beberapa penulis, yaitu :

1. Louis A. Allen : Leading, planning, organizing, controlling

2. Prajudi Atmosukirjo : planning, organizing, directing atau actuating, controlling.

3. John Robert Beishline : perencanaan, organisasi, komando kontrol

4. Henry Fayol : planning, organizing, coordinating, commanding, controlling.

5. Luther Gullich : planning, organizing, staffing, directing, coordinating, reporting, budgeting.

6. George R. Terry : planning, organizing, actuating, controlling.[8]

B. Prinsip-prinsip Manajemen Pendidikan

Henry Fayol mengemukakan prinsip-prinsip manajemen yang dibagi menjadi 14 bagian, yaitu :

1. Division of work

Merupakan sifat alamiah, yang terlihat pada setiap masyarakat. Bila masyarakat berkembang maka bertambah pula organisasi-organisasi baru menggantikan organisasi-organisasi lama. Tujuan daripada pembagian kerja adalah menghasilkan pekerjaan yang lebih banyak dan lebih baik dengan usaha yang sama.

2. Authority and Responsibility

Authority (wewenang) adalah hak memberi instruksi-instruksi dan kekuasaan meminta kepatuhan.

Responsibility atau tanggung jawab adalah tugas dan fungsi-fungsi yang harus dilakukan oleh seseorang pejabat dan agar dapat dilaksanakan, authority (wewenang) harus diberikan kepadanya.

3. Discipline

Hakekat daripada kepatuhan adalah disiplin yakni melakukan apa yang sudah disetujui bersama antara pemimpin dengan para pekerja, baik persetujuan tertulis, lisan ataupun berupa peraturan-peraturan atau kebiasaan-kebiasaan.

4. Unity of command

Untuk setiap tindakan, seorang pegawai harus menerima instruksi-instruksi dari seorang atasan saja. Bila hal ini dilanggar, wewenang (authority) berarti dikurangi, disiplin terancam, keteraturan terganggu dan stabilitas mengalami cobaan, seseorang tidak akan melaksanakan instruksi yang sifatnya dualistis.

5. Unity of direction

Prinsip ini dapat dijabarkan sebagai : “one head and one plan for a group of activities having the same objective”, yang merupakan persyaratan penting untuk kesatuan tindakan, koordinasi dan kekuatan dan memfokuskan usaha.

6. Subordination of individual interest to general interest

Dalam sebuah perusahaan kepentingan seorang pegawai tidak boleh di atas kepentingan perusahaan, bahwa kepentingan rumah tangga harus lebih dahulu daripada kepentingan anggota-anggotanya dan bahwa kepentingan negara harus didahulukan dari kepentingan warga negara dan kepentingan kelompok masyarakat.

7. Remuneration of Personnel

Gaji daripada pegawai adalah harga daripada layanan yang diberikan dan harus adil. Tingkat gaji dipengaruhi oleh biaya hidup, permintaan dan penawaran tenaga kerja.

Di samping itu agar pemimpin memperhatikan kesejahteraan pegawai baik dalam pekerjaan maupun luar pekerjaan.

8. Centralization

Masalah sentralisasi atau disentralisasi adalah masalah pembagian kekuasaan, pada suatu organisasi kecil sentralisasi dapat diterapkan, akan tetapi pada organisasi besar harus diterapkan disentralisasi.

9. Scalar chain

Scalar chain (rantai skalar) adalah rantai daripada atasan bermula dari authority terakhir hingga pada tingkat terendah.

10. Order

Untuk ketertiban manusia ada formula yang harus dipegang yaitu, suatu tempat untuk setiap orang dan setiap orang pada tempatnya masing-masing.

11. Equity

Untuk merangsang pegawai melaksanakan tugasnya dengan kesungguhan dan kesetiaan, mereka harus diperlakukan dengan ramah dan keadilan. Kombinasi dan keramahtamahan dan keadilan menghasilkan equity.

12. Stability Of Tonure Of Personnel

Seorang pegawai membutuhkan waktu agar biasa pada suatu pekerjaan baru dan agar berhasil dalam mengerjakannya dengan baik.

13. Initiative

Memikirkan sebuah rencana dan meyakinkan keberhasilannya merupakan pengalaman yang memuaskan bagi seseorang. Kesanggupan bagi berfikir ini dan kemampuan melaksanakan adalah apa yang disebut inisiatif.

14. Ecsprit de Corps

“Persatuan adalah kekuatan”. Para pemimpin perusahaan harus berbuat banyak untuk merealisir pembahasan itu.

C. Hubungan Masing-masing Fungsi

Hubungan antara fungsi-fungsi manajemen antara yang satu dengan lain adalah saling kait mengaitkan. Dengan kata lain saling mempengaruhi satu sama lain. Seperti, organizing dan staffing, merupakan 2 fungsi manajemen yang erat hubungannya yaitu berupa penyusunan wadah legal untuk menampung berbagai kegiatan yang harus dilaksanakan pada suatu organisasi, dan staffing berhubungan dengan penetapan orang-orang yang akan memangku masing-masing jabatan yang ada dalam organisasi tersebut.[9]

Meskipun demikian, fungsi perencanaan merupakan landasan fungsi manajemen yang lain dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan fungsi pengawasan. Fungsi pengawasan tidak dapat dilaksanakan tanpa adanya perencanaan, begitu pula sebaliknya.

KESIMPULAN

Fungsi manajemen bukan hanya terdiri dari fungsi pokok dan umum, tetapi ada beberapa penulis yang berpendapat tentang fungsi manajemen yang pada intinya adalah sama. Selain prinsip manajemen yang dikemukakan oleh Henry Fayol dibagi menjadi 14. Dan hubungan masing-masing fungsi sebenarnya saling kait mengait dan tidak pernah berdiri sendiri, dengan kata lain saling mempengaruhi.

DAFTAR PUSTAKA

E. Mulyasa, MBS: Konsep, Strategi, dan Implementasi, Bandung: Rosdakarya, 2005.

Harold Koontz & Cyrill O’Donnell, Principles of Manajemen to Analysis Manajerial Function, Tokyo: Kogakusha Company, Ltd., Asian Student.

Iwa Sukiswa, Dasar-Dasar Umum Manajemen Pendidikan, Bandung: Tarsito, 1986.

Louis A. Allen, Karya Manajemen, terj. J.M.A Tuhuteru, Jakarta: PT. Pembangunan.

M. Manulang, Dasar-Dasar Manajemen, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1963.

William Herbert Newman, Administrative Action, New York: Prentice Hall Inc. Englewood Cliffs, 1957.



[1] Iwa Sukiswa, Dasar-Dasar Umum Manajemen Pendidikan, Bandung: Tarsito, 1986, hlm. 16-17.

[2] Harold Koontz & Cyrill O’Donnell, Principles of Manajemen to Analysis Manajerial Function, Tokyo: Kogakusha Company, Ltd., Asian Student.

[3] William Herbert Newman, Administrative Action, New York: Prentice Hall Inc. Englewood Cliffs, 1957.

[4] Louis A. Allen, Karya Manajemen, terj. J.M.A Tuhuteru, Jakarta: PT. Pembangunan, hlm. 68-69.

[5] M. Manulang, Dasar-Dasar Manajemen, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1963, hlm. 23.

[6] Ibid.

[7] E. Mulyasa, MBS: Konsep, Strategi, dan Implementasi, Bandung: Rosdakarya, 2005, hlm. 20-21.

[8] M. Manulang, op.cit., hlm. 19.

[9] Ibid., hlm. 22.



MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

PENDAHULUAN

Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan diluar sekolah. Manusia tidak akan bisa melakukan pembangunan sebagai tuntutan di era kemajuan ini bila tanpa dibekali dengan pendidikan yang memadai sebab pendidikan merupakan kunci utama untuk mencerdaskan masyarakat di bangsa ini. Karena fungsi pendidikan adalah menghilangkan segala sumber penderitaan rakyat dari kebodohan dan ketertinggalan. Diasumsikan bahwa orang yang berpendidikan akan terhindar dari kebodohan dan juga kemiskinan, karena dengan modal ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang diperolehnya melalui proses pendidikan ia mampu mengatasi berbagai problema kehidupan yang dihadapinya.

Sebagai suatu sistem, pendidikan nasional haruslah dikelola dengan tepat agar sebagai subsistem dari pembangunan nasional tujuan SISDIKNAS seperti yang diminta dalam pasal 4 UU no. 2 th 1989 dapat tercapai secara efektif dan efisien. Karena dalam kehidupan suatu negara pendidikan memegang peranan yang amat penting dalam menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Untuk itulah manajemen yang bagus sangat dibutuhkan untuk membentuk suatu lembaga pendidikan yang bermutu.

PEMBAHASAN

A. Manajemen

1. Pengertian Manajemen

Secara umum manajemen didefinisikan sebagai kemampuan atau ketrampilan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan tertentu melalui atau dengan cara menggerakkan orang lain. Manajemen adalah kekuatan utama dalam organisasi mengatur atau mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan sub-sub sistem dan menghubungkannya dengan lingkungan. Manajemen merupakan suatu proses dimana sumber-sumber yang semula tidak berhubungan satu dengan yang lainnya lalu diintegerasikan menjadi suatu sistem menyeluruh untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.

2. Prinsip-Prinsip Manajemen

Secara umum, ada 6 prinsip manajemen yaitu Planning [perencanaan], Organizing [pengorganisasian], Coordinating [peng-koordinasian], Communicating [pengomunikasian], Supervising [pengawasan] dan Evaluating [penelitian].

a) Planning (Perencanaan)

Saat kita memasuki abad ke-21, para pembuat kebijakan pada umumnya dan para perencana serta administrator pendidikan pada khususnya terus dituntut untuk mengenali pelbagai faktor yang membentuk masyarakat secara keseluruhan dan berdampak panjang dan konsisten. karena dalam membuat suatu kebijakan perlu adanya perencanaan yang matang, ditakutkan bila suatu kegiatan yang dilakukan tanpa adanya perencanaan yang matang akan mengalami kendala yang berat atau mungkin gagal ditengah jalan.

Perencanaan pendidikan dalam arti yang dinamis merupakan proses kegiatan di dalam manajemen pendidikan yang menyangkut berbagai kegiatan antara lain :

1) Penentuan sasaran yang hendak dicapai

2) Pengalokasian dana

3) Penggunaan tenaga (daya)

4) Pengorganisasian (pewadahan)

5) Metode dan sistem

6) Efisiensi dan efektivitas untuk mencapai sasaran

7) Pengetahuan ruang dan waktu

8) Penilaian terhadap hasil usaha

9) Penentuan langkah / aktivitas selanjutnya.

Hakikat perencanaan pendidikan adalah suatu proses penyiapan informasi dalam bentuk seperangkat alternatif (kemungkinan-kemungkinan) untuk membantu pembuatan keputusan bagi pembentukan kebijaksanaan manajemen dan tindakan administratif. Sedangkan arti perencanaan pendidikan dalam rumusan tradisional adalah merupakan suatu metode untuk melaksanakan desain atas kisi-kisi pokok (master blueprint) yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan definisi perencanaan pendidikan secara komprehensif adalah suatu proses untuk menghasilkan informasi yang handal dalam bentuk alternatif urutan tindakan, bersamaan dengan konsekuensi-konsekuensi daripada alternatif-alternatif tersebut, untuk membantu pembuatan keputusan oleh pihak-pihak yang berkaitan dengan perumusan kebijaksanaan pendidikan dan administrasi.

Syarat-syarat yang harus diperhatikan adalah :

1) Perencanaan tugas harus didasarkan atas tujuan yang jelas

2) Bersifat sederhana, realistis dan praktis

3) Terperinci, memuat segala uraian dan klasifikasi kegiatan dan rangkaian tindakan sehingga dipedomani dan dijalankan.

4) Memiliki fleksibilitas sehingga mudah disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

5) Terdapat pertimbangan antara bermacam-macam bidang yang akan digarap dalam perencanaan itu menurut urgensinya masing-masing.

6) Diusahakan adanya penghematan tenaga, waktu dan biaya serta penggunaan sumber daya dan dana yang sebaik-baiknya.

7) Diusahakan agar tidak terjadi duplikasi/ulangan pelaksanaan.

b) Organizing (Pengorganisasian)

Pengorganisasian merupakan aktifitas menyusun dan membentuk hubungan-hubungan kerja antara orang-orang sehingga terwujud suatu kesatuan usaha dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Di dalam pengorganisasian terdapat adanya tugas-tugas, wewenang dan tanggung jawab secara terperinci menurut bidang-bidang dan bagian-bagian sehingga tercapai tujuan yang telah ditetapkan.

Yang harus diperhatikan dalam pengorganisasian antara lain bahwa, pembagian tugas, wewenang dan tanggung-jawab hendaknya disesuaikan dengan pengalaman, bakat, minat, pengetahuan dan kepribadian masing-masing orang yang di perlukan dalam menjalankan tugas. Secara singkat dapat dikatakan bahwa pengorganisasian ialah aktivitas menyusun dan membentuk hubungan kerja sehingga terwujud kesatuan usaha dalam mencapai maksud dan tujuan pendidikan.

Suatu sistem organisasi pendidikan yang lengkap dan menyeluruh memiliki sub sistem, yakni strategi, operasi dan koordinasi. Komponen-komponen ini terdapat pada tiap jenjang pendidikan, baik pada tingkat program maupun pada tingkat kelembagaan pendidikan.

Pengorganisasian program pendidikan nasional terdiri dari tiga jenjang, yakni tingkat pusat, tingkat propinsi dan tingkat kotamadya/kabupaten. Masing-masing jenjang organisasi program pendidikan tersebut mengandung ketiga komponen [strategi, operasi dan koordinasi].

c) Coordinating (Pengkoordinasian)

Adanya bermacam-macam tugas dan pekerjaan yang dilakukan oleh banyak orang yang memerlukan adanya koordinasi dari seorang pimpinan. Koordinasi yang baik menghindarkan kemungkinan terjadinya persaingan yang tidak sehat ataupun kesimpang-siuran dalam menjalankan tugas dan kewajiban dan sebagainya.

d) Communicating (Pengomunikasian)

Dalam melaksanakan suatu program pendidikan, aktifitas menyebarkan dan menyampaikan gagasan-gagasan dan maksud-maksud keseluruhan organisasi sangat penting. Bentuk komunikasi yang berbeda akan mendatangkan hasil yang berbeda. Misalnya, komunikasi lisan pada umumnya lebih mendatangkan hasil dan pengertian yang jelas daripada secara tertulis.

Menurut sifatnya, komunikasi ada 2 macam yaitu komunikasi bebas dan terbatas. Dalam komunikasi bebas setiap anggota dapat berkomunikasi secara bebas dengan anggota yang lain. Sedangkan dalam komunikasi terbatas setiap anggota hanya dapat berhubungan dengan beberapa anggota tertentu saja. Untuk melaksanakan program atau rencana dalam batas batas-batas tertentu komunikasi bebas lebih baik daripada komunikasi terbatas. Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses yang mempengaruhi sikap dan perbuatan orang-orang dalam struktur organisasi.

Dewasa ini di Indonesia terdapat sejumlah media komunikasi massa yang perkembangannya sudah cukup maju dan dapat menjangkau hampir seluruh pelosok tanah air, media komunikasi massa tersebut adalah surat kabar, majalah, radio dan televisi. Melalui media tersebut, budaya, tradisi, kegiatan, kemajuan dan sebagainya yang telah dicapai oleh suatu golongan masyarakat atau daerah tertentu dapat diketahui oleh masyarakat atau daerah lain. Dengan demikian komunikasi massa dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat, bahkan sampai batas tertentu dapat mengubah sikap masyarakat, sudah tentu disamping nilai-nilai yang positif, media massa dapat pula menimbulkan efek negatif. Tentang efek negatif acara TV beberapa ahli dan hasil penelitian masyarakat; banyak orang yang membuang waktunya antara 4-6 jam tiap hari untuk mengikuti semua acara TV; film-film banyak yang mempertunjukkan kejahatan, pembunuhan, perampokan dan sebagainya. Iklan TV dapat menimbulkan penyakit the gimniees terutama pada anak [penyakit merengek ingin dibelikan].

e) Supervising (Pengawasan)

Setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya pengawasan atau supervision. Pengawas bertanggung-jawab terhadap efektivitas program yang dilaksanakan. Oleh karena itu, dalam pengawasan haruslah diteliti ada atau tidaknya kondisi-kondisi yang akan memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan pendidikan.

Fungsi supervisi yang terpenting adalah :

1) Menentukan kondisi-kondisi atau syarat-syarat yang diperlukan.

2) Memenuhi/mengusahakan syarat-syarat yang diperlukan.

Jadi supervisi sebagai fungsi manajemen pendidikan berarti aktivitas untuk menentukan kondisi-kondisi atau syarat-syarat yang esensial yang dapat menjamin tercapainya tujuan pendidikan.

Tegasnya fungsi supervisi adalah untuk memelihara program pengajaran dengan sebaik-baiknya. Jadi melaksanakan supervisi dalam membantu meningkatkan situasi belajar pada umumnya dan membantu guru, agar ia mengajar lebih baik, sehingga dengan demikian murid dapat mengajar dengan lebih baik lagi.

f) Evaluating (Penelitian)

Untuk mengetahui berhasil tidaknya suatu program diperlukan adanya penilaian atau evaluasi. Sedang alasan/dasar evaluasi dalam pendidikan sebenarnya banyak sekali, namun menurut Sumadi Suryabrata bisa dikelompokkan menjadi tiga kelompok yakni dasar psikologis, didaktis dan administratif.

1. Dasar Psikologis

a. Ditinjau dari anak didik

Anak manusia yang belum dewasa pada umumnya belum mampu memilih ide dan melaksanakannya secara lepas dari pendukung ide tersebut.

b. Ditinjau dari pendidik

Orang tua atau wali murid adalah orang pertama yang mempunyai kepentingan mengenai pendidikan anak-anaknya.

2. Dasar Didaktis

a. Ditinjau dari anak didik

Keberhasilan anak didik dalam mencapai status yang terhormat akan menimbulkan kepuasan sehingga akan berusaha untuk lebih giat belajar lagi.

b. Ditinjau dari segi pendidik

Hasil yang telah dicapai siswa akan segera memberi petunjuk terhadap guru, dalam hal-hal apa ia berhasil dan dalam hal-hal apa ia gagal.

3. Dasar Administratif

Untuk memenuhi berbagai kebutuhan administrasi, maka penilaian mutlak harus dilakukan.

Setiap penilaian berpegang pada rencana tujuan yang hendak dicapai atau dengan kata lain setiap tujuan merupakan kriteria penilaian terhadap pekerjaan seorang guru dalam usaha mendidik dan mengajar muridnya tidak dapat disamakan dengan penilaian tukang jahit dalam menjahit pakaian langganannya atau pekerjaan seorang anemer/ahli bangunan sebuah gedung. Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan didirikan untuk memelihara dan memajukan kebudayaan. Dengan demikian, penelitian tentang efisiensi pendidikan bukan untuk menentukan untung rugi secara finansial, tetapi berhasil atau gagalnya pendidikan harus di ukur dari sudut keuntungan atau kerugian masyarakat.

B. Kepentingan Pendidikan

1. Pengertian Dan Pentingnya Kepemimpinan

Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi. Sutisna merumuskan kepemimpinan sebagai “Proses mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam usaha ke arah pencapaian tujuan dalam situasi tertentu”. Sementara Soepardi mendefinisikan kepemimpinan sebagai “Kemampuan untuk menggerakkan, mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan, menasehati, membimbing, menyuruh, memerintah, melarang dan bahkan menghukum (kalau perlu) serta membina dengan maksud agar manusia sebagai media manajemen mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan administrasi secara efektif dan efisien”. Hal tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan sedikitnya mencakup tiga hal yang paling berhubungan, yaitu adanya pemimpin dan karakteristiknya; adanya pengikut, serta adanya situasi kelompok tempat pemimpin dan pengikut berinteraksi.

Dengan pengertian ini dapat dikatakan bahwa kepemimpinan merupakan inti dari manajemen. Dalam proses pengelolaan kegiatan kerjasama, diperlukan kecakapan khusus untuk menggerakkan orang lain, diperlukan cara yang disebut Human Relation disinilah terletak pentingnya kepemimpinan.

Di dalam Islam, arti pentingnya kepemimpinan antara lain ditandaskan dalam sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi dari Ibnu Umar.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَاْلأِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ أَهْلِِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَاوَمَسْئُولَةٌ, وَالْخَادِمُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ,وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِى مَالٍ أَبِيْهِ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

Artinya :

Dari Ibnu Umar r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Kamu sekalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung-jawaban atas kepemimpinanmu. Seorang imam adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya. Seorang ayah adalah pemimpin dan ia diminta pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya. Seorang Ibu adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya. Seorang pembantu adalah pemimpin dan ia dimintai pertanggung-jawabannya dalam mengurus harta dan kekayaan tuannya. Seorang anak adalah pemimpin dan ia dimintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya dalam menjaga harta benda ayahnya. Kamu sekalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya”. (H.R Ahmadi).

Dari hadits tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa selama manusia masih merupakan makhluk sosial, mereka selalu ingin hidup bersama dalam masyarakat, baik dalam masyarakat yang primitif maupun modern. Masing-masing individu harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah dilakukannya, baik sebagai pemimpin resmi yang diangkat oleh kelompoknya maupun pemimpin alami, seperti dalam keluarga.

2. Fungsi Kepemimpinan Dalam Pendidikan

Menurut Hadari Nawawi, terdapat asumsi kepemimpinan pendidikan.

a) Mengembangkan dan menyalurkan kebebasan berfikir dan mengeluarkan pendapat, baik secara perseorangan maupun kelompok sebagai usaha mengumpulkan data/bahkan dari anggota dalam menetapkan keputusan (decision making) yang mampu memenuhi aspirasi di dalam kelompoknya.

b) Mengembangkan suasana kerjasama yang efektif dengan memberikan penghargaan dan pengakuan terhadap kemampuan orang-orang yang dipimpin sehingga timbul rasa atau sikap percaya diri dan kesediaan menghargai orang lain sesuai dengan kemampuan masing-masing.

c) Mengusahakan dan mendorong terjadinya pertemuan pendapat/buah pikiran dengan sikap harga menghargai sehingga timbul ikut terlibat di kegiatan kelompok/organisasi dan tumbuhnya perasaan bertanggung jawab atas terwujudnya pekerjaan masing-masing sebagai bagian dari pencapaian tujuan.

d) Membantu menyelesaikan masalah-masalah, baik yang dihadapi secara perseorangan maupun kelompok dengan memberikan petunjuk-petunjuk dalam mengatasinya dengan kemampuan sendiri.

3. Syarat dan Ketrampilan Dalam Pendidikan

a) Syarat dan ketrampilan kepemimpinan umum

Terdapat tiga syarat yang setidaknya dimiliki oleh para pemimpin yang diungkapkan oleh Dr. W.A Gerungan :

1) Social Perception (penglihatan atau wawasan sosial)

Yang dimaksud dengan wawasan sosial disini adalah suatu kemampuan untuk melihat dan mengerti gejala-gejala yang timbul di dalam masyarakat atau kehidupan sehari-hari, khususnya mengenai perasaan-perasaan, tingkah laku, keinginan dan kebutuhan sesama anggota kelompok.

2) Ability in Abstrack Thinking (kemampuan berfikir abstrak)

Yang dimaksud disini adalah memiliki otak yang cerdas atau memiliki inteligensi yang tinggi, karena berfikir secara abstrak itu dibutuhkan seorang pemimpin untuk melihat, menafsirkan dan menilai kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam kelompok dan keadaan umum diluar kelompok dalam hubungannya dengan apa yang menjadi tujuan.

3) Emotional Stability (keseimbangan emosi)

Orang yang mudah sekali marah menandakan emosinya tidak mantap dan tidak memiliki keseimbangan emosi. Jangankan menjadi pemimpin orang lain, menenangkan diri sendiri saja tidak mampu. Padahal, seorang pemimpin seyogyanya mampu menciptakan suasana tenang dan aman kepada mereka yang dipimpin. Hal ini hanya mungkin dilakukan apabila sang pemimpin sendiri memiliki sikap tenang dan aman karena memiliki keseimbangan emosional.

Jadi, jelaslah bahwa dalam diri pemimpin harus ada kepribadian yang harmonis, jiwa yang mantap, emosi yang stabil dan keinsyafan yang mendalam akan aspirasi, perasaan. Kebutuhan dan cita-cita para anggota kelompoknya.

b) Syarat dan ketrampilan kepemimpinan pendidikan

Menurut Dr. Hadari Nawawi, untuk menjadi seorang pemimpin dalam lingkungan pendidikan disamping diperlukan persyaratan formal seperti pendidikan atau ijazah juga diperlukan syarat yang lebih bersifat praktis. Syarat-syarat tersebut antara lain :

1. Memiliki kecerdasan atau inteligensi yang cukup baik.

2. Percaya diri dan bersifat membership (ikut memiliki).

3. Cakap bergaul dan ramah tamah

4. Kreatif, penuh inisiatif dan memiliki hasrat/kemampuan untuk maju dan berkembang menjadi lebih baik.

5. Organisasi yang berpengaruh dan berwibawa.

6. Memiliki keahlian atau ketrampilan dalam bidangnya.

7. Suka menolong, memberi petunjuk dan dapat menghukum secara konsekuen dan bijaksana.

8. Memiliki keseimbangan atau kestabilan emosional dan bersifat sadar.

9. Memiliki semangat pengabdian dan kesetiaan yang tinggi.

10. Berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab.

11. Jujur, rendah hati, sederhana dan dapat dipercaya.

12. Bijaksana dan selalu berlaku adil.

13. Disiplin

14. Berpengalaman dan berpandangan luas.

15. Sehat jasmani dan rohani

Dengan terpenuhinya persyaratan dan ketrampilan tersebut, seorang pemimpin diharapkan mampu menjalankan peranan kepemimpinan pendidikan sebagaimana yang di kemukakan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu :

Ing Ngarso Asung Tulodo

Ing Madya Mangun Karsa

Ing (tut) Wuri Handayani.

KESIMPULAN

Begitu pentingnya manajemen dan kepemimpinan dalam setiap aktivitas, termasuk didalamnya aktivitas kependidikan karena sistem manajemen merupakan kunci utama penggerak suatu aktivitas, tanpa adanya manajemen yang bagus, maka suatu organisasi tersebut dikhawatirkan akan mengalami kegagalan, demikian juga bila manajemennya kurang handal dalam melaksanakan sistem manajerialnya, maka sistem manajemen yang baik pun kurang begitu sempurna, atau mungkin timbul kegagalan dalam kepemimpinannya.

Untuk itu antara pembentukan sistem manajemen yang tepat dan kepemimpinan yang bertanggung-jawab terhadap kependidikan diharapkan akan dapat membentuk suatu lembaga pendidikan yang handal dan bermutu.

REFERENSI :

Abu Dohou, Ibtisam dan Fadjar, Malik, H. A. School-Based Management (Manajemen Berbasis Sekolah), tanpa penerbit dan t.th.

Daryanto, H.M, Administrasi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 2001.

Hamalik, Oemar, Manajemen Belajar di Perguruan Tinggi, Sinar Baru, Bandung, t.th.

__________________, Perencanaan dan Manajemen Pendidikan, Mandar Maju, Bandung, 1991.

Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis Kompetisi, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003.

____________________, Manajemen Berbasis Sekolah, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003.

Mustaqim, Psikologi Pendidikan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001.

Sagala, Syaiful, Konsep dan Makna Pembelajaran, Alfabeta, Bandung, 2003.

Sukmadinata, Nana Syaudih, Pengembangan Kurikulum (Teori dan Praktek), Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002.

Thoha, Chabib, dan Mu’thi, Abdul, PBM-PAI di Sekolah, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998.

Tilaar, H.A.R., Manajemen Pendidikan Nasional, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003.