KUMPULAN MAKALAH, SKRIPSI, & TIPS DAN TRIK

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Showing posts with label kepemimpinan. Show all posts
Showing posts with label kepemimpinan. Show all posts
MODEL/GAYA KEPEMIMPINAN DAN PENERAPANNYA

MODEL/GAYA KEPEMIMPINAN DAN PENERAPANNYA

Pemimpin adalah pribadi yang memiliki ketrampilan teknis, khususnya dalam satu bidang, hingga ia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktifitas.

Kepemimpinan merupakan kegiatan dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan penuh kemauan untuk tujuan kelompok (George Terry). Sedangkan menurut Terry & Rue (1985), kepemimpinan ialah hubungan yang ada dalam diri seorang pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja sama secara sadar dalam hubungan tugas yang diinginkan.

Sanusi (1989), juga mengungkapkan kepemimpinan ialah penyatupaduan dari kemampuan, cita-cita, dan semangat kebangsaan dalam mengatur, mengendalikan, dan mengelola rumah tangga maupun organisasi atau rumah tangga negara. Sedangkan dalam SK BAKN No.27/KEP/1972, kepemimpinan adalah kegiatan untuk meyakinkan orang lain sehingga dapat dikerahkan secara optimal.

Sementara itu, menurut Stogdill (1974) definisi pemimpin adalah fokus dari proses kelompok, penerimaan kepribadian seseorang, seni mempengaruhi perilaku, alat untuk mempengaruhi perilaku, suatu tindakan perilaku, bentuk dari ajakan (persuasi), bentuk dari relasi yang kuat, alat untuk mencapai tujuan, akibat dari interaksi, peranan yang diferensial, dan pembuat struktur.

Dengan demikian, definisi kepemimpinan bahwa berbeda menurut sudut pandang masing-masing. Namun demikian ada kesamaan dan mendefinisikan kepemimpinan yakni mengandung makna mempengaruhi orang lain untuk berbuat seperti yang pemimpin kehendaki. Jadi yang dimaksud kepemimpinan adalah ilmu dan seni mempengaruhi orang atau kelompok untuk bertindak seperti yang diharapkan dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Kepemimpinan merupakan inti dari manajemen, karena kepemimpinan merupakan motor penggerak dari semua sumber-sumber dan alat-alat yang tersedia bagi suatu organisasi. Tugas dasar pemimpin adalah membentuk dan memelihara lingkungan di mana manusia bekerja sama dalam suatu kelompok yang terorganisir dengan baik, menyelesaikan tugas, mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kepemimpinan merupakan aktivitas manajerial yang penting di dalam setiap organisasi khususnya dalam pengambilan kebijakan dan keputusan sebagai inti dari kepemimpinan.

A. Model Kepemimpinan

Plato (427-347) yang dalam bukunya berjudul Republic, membagi tiga gaya kepemimpinan, yaitu 1) filosofer (pemikir), 2) militer (otoriter), dan 3) entrepreneur. Beberapa kepemimpinan yang banyak mempengaruhi perilaku pengikutnya. Gaya kepemimpinan adalah norma perilaku yang oleh seseorang pada saat orang itu mempengaruhi perilaku orang lain.

Berbicara mengenai gaya, sesungguhnya berbicara mengenai ‘modalitas’ dalam kepemimpinan. Gaya kepemimpinan seseorang akan identik dengan tipe kepemimpinan orang yang bersangkutan.

Secara rinci Siagian (1994: 27) membagi lima gaya kepemimpinan yang secara luas dikenal dewasa ini, yaitu :

1. Tipe Otokratik

Pemimpin yang otokratik memiliki serangkaian karakteristik yang dapat dipandang sebagai karakteristik yang negatif.

Di lihat dari persepsinya, seorang pemimpin yang otokratik adalah seorang yang sangat egois. Sikap egoisme tersebut akan memberi tekanan kepada bawahannya. Sehingga kedisiplinan yang tertanam berdasarkan rasa ketakutan, bukan disiplin yang sudah semestinya dijalankan.

Kepemimpinan otokratik mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak harus dipatuhi. Pemimpinnya sangat berambisi untuk merajai situasi, setiap perintah dan bijakan ditetapkan tanpa konsultasi dengan bawahan. Meski pemimpin otokratik selalu berdiri jauh dari kelompoknya, jadi ada sikap menyisihkan diri dan eksklusivisme. Pemimpin otokratik senantiasa ingin berkuasa absolut, tunggal, dan merajai keadaan.

Dalam Veithzal Rivai, sikap-sikap pemimpin otokrat dapat dijabarkan sebagai berikut :

1) Kurang mempercayai anggota kelompoknya

2) Otoriter

3) Hanya dengan imbalan materi sajalah yang mampu mendorong orang untuk bertindak.

4) Kurang toleransi terhadap kesalahan yang dilakukan anggota kelompok

5) Peka terhadap perbedaan kekuasaan

6) Kurang perhatian kepada anggota kelompoknya

7) Memberikan kesan seolah-olah demokratis

8) Mendengarkan pendapat anggota kelompoknya semata-mata hanya untuk menyenangkan

9) Senantiasa membuat keputusan sendiri.

Dengan persepsi, nilai-nilai, sikap dan perilaku demikian, seorang pemimpin yang otokratik dalam praktek akan menggunakan gaya kepemimpinan yang :

1) Menuntut ketaatan penuh dari bawahannya

2) Dalam menegakkan disiplin menunjukkan kekakuan

3) Bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi

4) Menggunakan pendekatan punitif dalam hal terjadinya penyimpangan oleh bawahan

Harus diakui, bahwa hanya efektifitas semata-mata yang diharapkan dari seorang pemimpin dalam mengemudikan jalannya organisasi, tipe otokratik mungkin mampu menyelenggarakan berbagai fungsi kepemimpinannya dengan baik.

Akan tetapi yang dipermasalahkan di sini adalah tekanan yang dirasakan oleh para bawahan, sehingga disiplin ketat berjalan karena rasa takut dari paksaan atasan bukan karena berdasarkan keyakinan bahwa tujuan yang telah ditentukan itu wajar dan layak untuk dicapai.

Maka dari itu, kepemimpinan yang otokratik sangat dikaitkan dengan kekuasaan mengambil tindakan yang punitif. Biasanya, apabila kekuasaan mengambil tindakan punitif itu tidak lagi dimilikinya, ketaatan para bawahan segera mengendor dan disiplin kerjapun segera mengendor.

2. Tipe Paternalistik

Gaya paternalistik adalah gaya kepemimpinan dari pemimpin yang bersifat tradisional, umumnya di masyarakat yang agraris. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti:

1) Kuatnya ikatan primordial,

2) Sistem kekeluargaan,

3) Kehidupan masyarakat yang komunalistik,

4) Peranan adat istiadat yang sangat kuat dalam kehidupan bermasyarakat,

5) Masih dimungkinkannya hubungan pribadi yang intim antara seorang anggota masyarakat dengan anggota masyarakat lainnya.

Salah satu ciri utama dari masyarakat tradisional ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggota kepada seseorang yang dituakan.

Orang yang dituakan, dihormati terutama karena orang yang demikian biasanya memproyeksikan sifat-sifat dan gaya hidup yang pantas dijadikan teladan atau panutan oleh para anggota masyarakat lainnya. Biasanya orang yang dituakan terdiri dari tokoh-tokoh adat, para ulama dan guru.

Para bawahan biasanya mengharapkan seorang pemimpin yang paternialistik, mempunyai sifat tidak mementingkan diri sendiri melainkan memberikan perhatian terhadap kepentingan dan kesejahteraan bawahannya. Akan tetapi, legitimasi kepemimpinannya berarti penerimaan atas perannya yang dominan dalam kehidupan organisasional.

Selain dari itu, Kartini Kartono juga mengungkapkan bahwa tipe kepemimpinan ini merupakan tipe yang kebapakan, dengan sifat-sifat :

1) Dia menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan

2) Dia bersikap terlalu melindungi (overly protective)

3) Jarang bisa memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri

4) Dia hampir-hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif

5) Dia tidak memberikan atau hampir-hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut dan bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan karya kreatifitas mereka sendiri

6) Selalu bersikap maha-tahu dan maha-benar.

Harus diakui bahwa dalam keadaan tertentu pemimpin seperti ini sangat diperlukan. Akan tetapi ditinjau dari segi sifat-sifat negatifnya pemimpin paternalistis kurang menunjukkan elemen kontinuitas terhadap organisasi yang dipimpinnya.

3. Tipe Kharismatik

Seorang pemimpin yang kharismatik adalah seorang pemimpin yang dikagumi oleh banyak pengikut, meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tertentu itu dikagumi.

Pemimpin kharismatik ini memiliki kekuatan energi, daya tarik, dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya.

Sampai saat ini para ahli manajemen belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seorang pemimpin memiliki karisma. Yang diketahui ialah tipe pemimpin seperti ini mempunyai daya tarik yang amat besar, dan karenanya mempunyai pengikut yang sangat besar. Kebanyakan para pengikut menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin seperti ini, pengetahuan tentang faktor penyebab karena kurangnya seorang pemimpin yang karismatis, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supernatural powers), perlu dikemukakan bahwa kekayaan, umur, kesehatan, profil pendidikan dan sebagainya. Tidak dapat digunakan sebagai kriteria tipe pemimpin karismatis.

4. Tipe Laissez Faire

Kepemimpinan Laissez Faire ditampilkan oleh seorang tokoh “Ketua Dewan” yang sebenarnya tidak becus mengurus dan dia menyerahkan semua tanggungjawab serta pekerjaan kepada bawahan atau kepada semua anggotanya.

Seorang pemimpin yang Laissez Faire melihat perannya sebagai “polisi lalu lintas” dengan anggapan para anggota organisasi mengetahui dan cukup dewasa untuk taat kepada peraturan permainan yang berlaku. Seorang pemimpin yang Laissez Faire cenderung memilih peranan yang pasif dan membiarkan organisasi berjalan menurut temponya sendiri tanpa banyak mencampuri bagaimana organisasi harus dijalankan dan digerakkan.

Ada beberapa ciri yang terdapat dalam diri pemimpin tersebut:

1) Tidak yakin pada kemampuan sendiri

2) Tidak berani menetapkan tujuan untuk kelompok

3) Tidak berani menanggung resiko

4) Membatasi komunikasi dan hubungan kelompok

Dapat juga diartikan bahwa pemimpin laissez faire bukanlah seorang pemimpin dalam pengertian yang sebenarnya. Semua anggota yang dipimpinnya bersikap santai-santai, dan bermoto “lebih baik tidak usah bekerja saja”. Mereka menunjukkan sikap acuh tak acuh. Sehingga kelompok tersebut praktis menjadi tidak terbimbing dan tidak terkontrol.

5. Tipe Demokratik

Tipe kepemimpinan demokratis dapat juga disebut sebagai pemimpin yang partisipatif, selalu berkomunikasi dengan kelompok mengenai masalah-masalah yang menarik perhatian mereka dan mereka dapat menyumbangkan sesuatu untuk menyelesaikannya serta ikut serta dalam penetapan sasaran.

Pemimpin tipe ini, menafsirkan kepemimpinannya bukan sebagai diktator, melainkan sebagai pemimpin di tengah-tengah anggota kelompoknya. Hubungan dengan anggota kelompok bukan sebagai majikan dan buruh, tetapi sebagai saudara tua di antara teman-temannya atau sebagai kakak terhadap saudara-saudaranya, ia selalu berpangkal pada kepentingan dan kebutuhan kelompoknya, dan mempertimbangkan kesanggupan serta kemampuan kelompoknya.

Dalam melaksanakan tugasnya, ia mau menerima dan mengharapkan saran-saran dari kelompoknya. Juga kritik-kritik yang membangun dari para anggota diterimanya sebagai umpan balik dan bahan pertimbangan dalam tindakan-tindakan berikutnya.

Adapun ciri pemimpin yang demokrat meliputi :

1) Membuat keputusan bersama dengan anggota kelompok

2) Selalu menjelaskan sebab-sebab keputusan yang dibuat sendiri kepada kelompok

3) Feed back dijadikan sebagai salah satu masukan yang berharga

4) Mengkritik dan memuji secara obyektif.

Jika model kepemimpinan dapat disinonimkan dengan tipe, dari sini dapat dijelaskan sendiri mengenai gaya kepemimpinan, yakni :

a. Pencari kegembiraan

Adalah orang-orang yang mengambil resiko, ketika marah menjadi agresif atau pasif, adalah pendiri dan pencipta, memiliki artikulasi verbal dan banyak bicara, antusias, termotivasi dan suka akan kesenangan, suka menghibur, bersemangat menolong orang lain, terkadang sulit diorganisir dan suka melompat-lompat dari satu aktivitas ke aktivitas lain.

b. Pencari rinci/detail

Adalah orang-orang yang menanyakan bagaimana, akan menanyakan detail secara spesifik, mengukur banyak waktu yang anda gunakan dalam proyek, sensitif dan akurat, perfeksionis, berkonsentrasi pada detail, mengecek keakuratan, mengikuti petunjuk dan standar, menyukai struktur dan pemikir praktis, mematuhi otoritas, bekerja pelan tapi pasti.

c. Pencari hasil

Adalah orang-orang yang bertanya tentang apa dan kapan, membuat pernyataan, memberitahukan orang lain tentang apa yang harus dilakukan, tidak mentolerir kesalahan, tidak memiliki perasaan pada orang lain, menyepelekan saran dari orang lain, berani menghadapi resiko, sanggup berkompetensi, bermain untuk menang, menerima tantangan, percaya diri, terkontrol, tidak suka kelambanan, dan mandiri.

d. Pencari keharmonisan

Adalah orang bertanya mengapa, mempertahankan hubungan, tipe pembimbing/tipe keibuan, memiliki masalah-masalah dunia, kalem (calm), tidak suka mengambil inisiatif, loyal, penuh perhatian, posesif, suka orang lain, tetap tinggal pada satu tempat, penyabar, dan memiliki kehangatan, konsentrasi pada tujuan, pendengar yang baik, pengambil keputusan yang lamban, tidak suka konflik interpersonal, takut akan ketidakharmonisan dan takut salah.

B. Penerapan Tipe Kepemimpinan

Dalam penerapannya, kepemimpinan yang baik justru tidak dihasilkan oleh satu macam tipe kepemimpinan tertentu melainkan oleh kemampuan untuk tahu "kapan" menggunakan tipe kepemimpinan yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang diperlukan.

Semakin terbiasa seorang mengambil posisi play maker, semakin matang gaya kepemimpinannya. Dulu kepemimpinan seseorang terbentuk secara pasif dan alamiah melalui proses panjang. Namun saat ini hal tersebut dapat di konstruksi secara sengaja, apabila diinginkan.

Daniel Goleman, ahli di bidang EQ, melakukan penelitian tentang tipe-tipe kepemimpinan dan menemukan ada 6 (enam) tipe kepemimpinan. Penelitian itu membuktikan pengaruh dari masing-masing tipe terhadap iklim kerja perusahaan, kelompok, divisi serta prestasi keuangan perusahaan. Namun hasil penelitian itu juga menunjukkan, hasil kepemimpinan yang terbaik tidak dihasilkan dari satu macam tipe. Yang paling baik justru jika seorang pemimpin dapat mengkombinasikan beberapa tipe tersebut secara fleksibel dalam suatu waktu tertentu dan yang sesuai dengan bisnis yang sedang dijalankan.

Memang, hanya sedikit jumlah pemimpin yang memiliki enam tipe tersebut dalam diri mereka. Pada umumnya hanya memiliki 2 (dua) atau beberapa saja. Penelitian yang dilakukan terhadap para pemimpin tersebut juga menghasilkan data, bahwa pemimpin yang paling berprestasi ternyata menilai diri mereka memiliki kecerdasan emosional yang lebih rendah dari yang sebenarnya. Pada umumnya mereka menilai bahwa dirinya hanya memiliki satu atau dua kemampuan kecerdasan emosional. Namun yang paling ironi adalah pemimpin yang payah justru menilai diri mereka secara “lebih” berlebihan dengan menganggap bahwa mereka punya 4 (empat) atau lebih kemampuan kecerdasan emosional.

Dilihat dari kacamata psikologis, bahwa orang yang gemar bermain kuasa pada umumnya dahulu di masa kecilnya terlalu dimanja atau terlalu tertekan. Maka setelah dewasa, ketika orang tersebut menjadi pemimpin tidak mampu membuang traumanya. Suasana manja dan tertekan dan sistem resistansinya kemudian menyusup ke bawah sadarnya menjadi program pengontrol bagi sikapnya sehari-hari di kala mereka dewasa. Bentuknya antara lain kompensasi semu, merasa paling bagus, paling hebat, tidak mau disaingi, temperamennya cepat marah, dan sifat-sifat negatif lainnya. Untuk menjaga kehebatannya, jika ada serangan terhadap dirinya, maka serangan itu harus dihancurkan. Dan jika tidak mampu, jangan ditanggapi bahkan pura-pura tidak tahu, supaya kehebatannya tidak tertandingi.

KESIMPULAN

Kepemimpinan adalah suatu pokok dari keinginan manusia yang besar untuk menggerakkan potensi organisasi, kepemimpinan juga salah satu penjelas yang paling populer untuk keberhasilan/kegagalan dari suatu organisasi.

Pada prinsipnya, kepemimpinan tidak hanya berkenan dengan tipe/teori yang ditampilkan oleh pemimpin, karena tidak satu teori/tipe yang dapat diterapkan secara konsisten pada beragam situasi organisasi. Karena itu, penerapan tipe/teori kepemimpinan tidak lebih penting daripada persoalan kemampuan pemimpin memperlakukan semua unsur personel secara manusiawi, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu dan berkualitas sesuai dengan standar yang dipersyaratkan.

DAFTAR PUSTAKA

Siagian, Sindang P., Teori dan Praktek Kepemimpinan, Jakarta: Rineka Cipta, 1994.

Rivai, Veithzal, Kiat Memimpin dalam Abad ke-21, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.

Kartono, Kartini, Pemimpin dan Kepemimpinan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005.

Yusuf, Musfirotun, Manajemen Pendidikan Sebuah Pengantar, cetakan khusus.

Abror, Abd. Rahman, Kepemimpinan Pendidikan Bagi Perbaikan dan Peningkatan Pengajaran, terjemahan dari “Leadership for Improving Instruction”, Yogyakarta: Nur Cahaya, 1984.



KEPEMIMPINAN DAN ORGANISASI PENDIDIKAN

KEPEMIMPINAN DAN ORGANISASI PENDIDIKAN

Kepemimpinan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam manajemen. Memahami dan mengenal berbagai aspek manajemen pendidikan merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Karena seorang pemimpin di samping tugas pokoknya mengatur atau memimpin, ia juga berfungsi sebagai manajer pendidikan. Perilaku pemimpin yang positif dapat mendorong kelompok dalam mengarahkan dan memotivasi individu untuk bekerja sama dalam kelompok, dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi.

Sesuai dengan judulnya, Kepemimpinan dan Organisasi Pendidikan, makalah ini memberikan gambaran dasar (basic) tentang konsep manajemen. Dan juga mungkin bermanfaat bagi para pembaca yang berminat untuk mempelajari aspek-aspek manajemen pendidikan.

A. Pengertian Kepemimpinan dan Organisasi Pendidikan

Kepemimpinan adalah terjemahan dari bahasa Inggris leadership yang berasal dari kata leader. Kata leader muncul pada tahun 1300-an, sedangkan kata leadership muncul belakangan sekitar tahun 1700-an. Dalam definisi secara luas, kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi serta mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.

Pengorganisasian dapat diartikan juga sebagai keseluruhan proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas, tanggungjawab dan wewenang sedemikian rupa, sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan.

Kerjasama itulah yang menetapkan adanya eksistensi organisasi, tanpa adanya kerja sama, walaupun orang itu berkumpul bersama, bukanlah organisasi. Berbagai definisi dikemukakan oleh pakar organisasi, antara lain :

1. Prof. Dr. S.P. Siagian

Organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk tujuan bersama, bukanlah dalam persekutuan. Dalam hal ini selalu terdapat hubungan antara seorang/kelompok yang disebut pimpinan dan seorang/kelompok orang yang disebut bawahan.

2. Chester I. Barnard

Organisasi adalah suatu sistem tentang aktivitas-aktivitas kerja sama dua orang atau lebih, sesuatu yang tak berwujud dan bersifat pribadi, sebagian besar mengenai hubungan-hubungan.

3. James D. Mooney

Organisasi itu adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai sesuatu tujuan bersama.

Dari definisi-definisi tersebut dapat kita lihat, bahwa para pakar melihat organisasi dari berbagai pandangan, seperti : James D. Mooney dan John D. Millet melihat organisasi sebagai kumpulan orang. Sedangkan Chester I. Barnard, Herbert A. Simon dan Fermont A. Kast, dan James Rosenweig melihat organisasi dari sistem kerja sama, sistem hubungan atau sistem sosial.

B. Peran Kepemimpinan dalam Organisasi Kependidikan

Adapun peran kepemimpinan adalah sebagai suatu pengorganisasian yang merupakan susunan prosedur, tata kerja, tata laksana, dan hal-hal yang mengatur organisasi itu agar bisa berjalan lancar. Melalui pengorganisasian diatur pembagian kerja, hubungan kerja, struktur kerja dan pendelegasian wewenang.

Selain itu dalam kehidupan organisasi kepemimpinan adalah bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan. Tetapi untuk merumuskan apa yang dimaksud fungsi kepemimpinan adalah sama sulitnya memberikan definisi tentang kepemimpinan itu sendiri.

Kesulitan ini terjadi sebab kepemimpinan menarik perhatian para pakar untuk menelitinya, sehingga melahirkan penelitian kepemimpinan yang berbeda-beda, hampir sebanyak mereka para pakar yang melakukan penelitian. Masing-masing hasil penelitian berdiri sendiri tidak saling terkait sesuai dengan latar belakang konsep yang dimiliki oleh para pakar. Timbullah berbagai macam pendekatan di bidang kepemimpinan, lahirlah pendekatan sifat, perilaku, situasi dan pendekatan kontingensi. Walaupun demikian, untuk lebih memahami fungsi kepemimpinan lebih lanjut perlu lebih dulu mempelajari makna yang terkandung dalam definisi.

Ada beberapa definisi tentang pemimpin yang mana dari definisi-definisi tersebut mengandung indikasi bahwa serangkaian tugas yang perlu dilaksanakan oleh seorang pemimpin, adalah :

1. Membangkitkan kepercayaan dan loyalitas bawahan

2. Mengkomunikasikan gagasan kepada orang lain

3. Dengan berbagai cara mempengaruhi orang lain

4. Seorang pemimpin adalah seorang besar yang dikagumi dan mempesona dan dibanggakan.

Sedang dari definisi berikutnya memberikan indikasi bahwa :

1. Seorang pemimpin berfungsi sebagai orang yang mampu menciptakan perubahan secara efektif di dalam penampilan kelompok

2. Seorang pemimpin berfungsi menggerakkan orang lain sehingga secara sadar orang lain tersebut mau melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.

Fungsi menurut pendapat kedua pakar adalah sebagai berikut :

1. James A.F. Stoner

Berpendapat bahwa seorang pemimpin mempunyai 2 fungsi pokok, yaitu :

a. Task related atau problem solving function, dalam fungsi ini pemimpin memberikan saran dalam pemecahan masalah serta memberikan sumbangan informasi dan pendapat.

b. Group maintenance function atau social function meliputi pemimpin membantu kelompok beroperasi lebih lancar, pemimpin memberikan persetujuan atau melengkapi anggota kelompok yang lain.

2. Selznick yang disitir oleh Richard H. Hall dalam bukunya yang berjudul Organization Structure and Process (1982).

Ada empat macam tugas penting seorang pemimpin:

a) Mendefinisikan misi dan peranan organisasi (involves the definition of the institutional organizational mission and role)

b) Seorang pemimpin adalah pengejawantahan tujuan organisasi (the institutional embodiment of purpose)

c) Mempertahankan keutuhan organisasi (to defend the organization’s integration)

d) Mengendalikan konflik internal yang terjadi di dalam organisasi (the ordering of internal conflict).

C. Tipologi Kepemimpinan

Menurut Siagian, tipologi kepemimpinan meliputi :

Tipe Otokratis. Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut : menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi; mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi; menganggap bawahan sebagai alat semata-mata; tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat; terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya; dalam tindakan penggerakkannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.

Tipe Militeristis. Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut: dalam menggerakkan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan; dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya; senang pada formalitas yang berlebih-lebihan; menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan; sukar menerima kritikan dari bawahannya; menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.

Tipe Paternalistis. Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa; bersikap terlalu melindungi (overly protective); Jarang bisa memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil inisiatif; jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya; dan sering bersikap maha tahu.

Tipe Karismatik. Hingga sekarang ini para ahli manajemen belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar, dan karenanya para umumnya mempunyai pengikut yang sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural power). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F. Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng’.

Tipe Demokratis. Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia adalah makhluk yang termulia di dunia; selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan; ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain; selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya; dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah. Namun, karena pemimpin yang demikian adalah yang paling ideal, alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis.

KESIMPULAN

Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjasama dengan menggunakan kekuasaan.

Fungsi kepemimpinan hendaknya diartikan seperti motto Ki Hadjar Dewantara, yaitu di depan menjadi teladan, di tengah membina kemauan, di belakang menjadi pendorong atau memberi daya.

Dalam praktiknya, gaya kepemimpinan berkembang menjadi beberapa tipe atau tipologi kepemimpinan. Menurut Siagian, yaitu menjadi tipe otokratis, tipe militeristis, tipe paternalistis, tipe karismatik dan tipe demokratis yang semuanya bisa saling berkaitan.

DAFTAR PUSTAKA

Atmodiwirio, Soebagio, Manajemen Pendidikan Indonesia, Jakarta: PT. Ardadizya, 2005.

Fatah, Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004.

Nurkholis, Manajemen Berbasis Sekolah, Jakarta: PT. Grasindo, 2003.

Sumidjo, Wahyo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2001.



MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

PENDAHULUAN

Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan diluar sekolah. Manusia tidak akan bisa melakukan pembangunan sebagai tuntutan di era kemajuan ini bila tanpa dibekali dengan pendidikan yang memadai sebab pendidikan merupakan kunci utama untuk mencerdaskan masyarakat di bangsa ini. Karena fungsi pendidikan adalah menghilangkan segala sumber penderitaan rakyat dari kebodohan dan ketertinggalan. Diasumsikan bahwa orang yang berpendidikan akan terhindar dari kebodohan dan juga kemiskinan, karena dengan modal ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang diperolehnya melalui proses pendidikan ia mampu mengatasi berbagai problema kehidupan yang dihadapinya.

Sebagai suatu sistem, pendidikan nasional haruslah dikelola dengan tepat agar sebagai subsistem dari pembangunan nasional tujuan SISDIKNAS seperti yang diminta dalam pasal 4 UU no. 2 th 1989 dapat tercapai secara efektif dan efisien. Karena dalam kehidupan suatu negara pendidikan memegang peranan yang amat penting dalam menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Untuk itulah manajemen yang bagus sangat dibutuhkan untuk membentuk suatu lembaga pendidikan yang bermutu.

PEMBAHASAN

A. Manajemen

1. Pengertian Manajemen

Secara umum manajemen didefinisikan sebagai kemampuan atau ketrampilan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan tertentu melalui atau dengan cara menggerakkan orang lain. Manajemen adalah kekuatan utama dalam organisasi mengatur atau mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan sub-sub sistem dan menghubungkannya dengan lingkungan. Manajemen merupakan suatu proses dimana sumber-sumber yang semula tidak berhubungan satu dengan yang lainnya lalu diintegerasikan menjadi suatu sistem menyeluruh untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.

2. Prinsip-Prinsip Manajemen

Secara umum, ada 6 prinsip manajemen yaitu Planning [perencanaan], Organizing [pengorganisasian], Coordinating [peng-koordinasian], Communicating [pengomunikasian], Supervising [pengawasan] dan Evaluating [penelitian].

a) Planning (Perencanaan)

Saat kita memasuki abad ke-21, para pembuat kebijakan pada umumnya dan para perencana serta administrator pendidikan pada khususnya terus dituntut untuk mengenali pelbagai faktor yang membentuk masyarakat secara keseluruhan dan berdampak panjang dan konsisten. karena dalam membuat suatu kebijakan perlu adanya perencanaan yang matang, ditakutkan bila suatu kegiatan yang dilakukan tanpa adanya perencanaan yang matang akan mengalami kendala yang berat atau mungkin gagal ditengah jalan.

Perencanaan pendidikan dalam arti yang dinamis merupakan proses kegiatan di dalam manajemen pendidikan yang menyangkut berbagai kegiatan antara lain :

1) Penentuan sasaran yang hendak dicapai

2) Pengalokasian dana

3) Penggunaan tenaga (daya)

4) Pengorganisasian (pewadahan)

5) Metode dan sistem

6) Efisiensi dan efektivitas untuk mencapai sasaran

7) Pengetahuan ruang dan waktu

8) Penilaian terhadap hasil usaha

9) Penentuan langkah / aktivitas selanjutnya.

Hakikat perencanaan pendidikan adalah suatu proses penyiapan informasi dalam bentuk seperangkat alternatif (kemungkinan-kemungkinan) untuk membantu pembuatan keputusan bagi pembentukan kebijaksanaan manajemen dan tindakan administratif. Sedangkan arti perencanaan pendidikan dalam rumusan tradisional adalah merupakan suatu metode untuk melaksanakan desain atas kisi-kisi pokok (master blueprint) yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan definisi perencanaan pendidikan secara komprehensif adalah suatu proses untuk menghasilkan informasi yang handal dalam bentuk alternatif urutan tindakan, bersamaan dengan konsekuensi-konsekuensi daripada alternatif-alternatif tersebut, untuk membantu pembuatan keputusan oleh pihak-pihak yang berkaitan dengan perumusan kebijaksanaan pendidikan dan administrasi.

Syarat-syarat yang harus diperhatikan adalah :

1) Perencanaan tugas harus didasarkan atas tujuan yang jelas

2) Bersifat sederhana, realistis dan praktis

3) Terperinci, memuat segala uraian dan klasifikasi kegiatan dan rangkaian tindakan sehingga dipedomani dan dijalankan.

4) Memiliki fleksibilitas sehingga mudah disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

5) Terdapat pertimbangan antara bermacam-macam bidang yang akan digarap dalam perencanaan itu menurut urgensinya masing-masing.

6) Diusahakan adanya penghematan tenaga, waktu dan biaya serta penggunaan sumber daya dan dana yang sebaik-baiknya.

7) Diusahakan agar tidak terjadi duplikasi/ulangan pelaksanaan.

b) Organizing (Pengorganisasian)

Pengorganisasian merupakan aktifitas menyusun dan membentuk hubungan-hubungan kerja antara orang-orang sehingga terwujud suatu kesatuan usaha dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Di dalam pengorganisasian terdapat adanya tugas-tugas, wewenang dan tanggung jawab secara terperinci menurut bidang-bidang dan bagian-bagian sehingga tercapai tujuan yang telah ditetapkan.

Yang harus diperhatikan dalam pengorganisasian antara lain bahwa, pembagian tugas, wewenang dan tanggung-jawab hendaknya disesuaikan dengan pengalaman, bakat, minat, pengetahuan dan kepribadian masing-masing orang yang di perlukan dalam menjalankan tugas. Secara singkat dapat dikatakan bahwa pengorganisasian ialah aktivitas menyusun dan membentuk hubungan kerja sehingga terwujud kesatuan usaha dalam mencapai maksud dan tujuan pendidikan.

Suatu sistem organisasi pendidikan yang lengkap dan menyeluruh memiliki sub sistem, yakni strategi, operasi dan koordinasi. Komponen-komponen ini terdapat pada tiap jenjang pendidikan, baik pada tingkat program maupun pada tingkat kelembagaan pendidikan.

Pengorganisasian program pendidikan nasional terdiri dari tiga jenjang, yakni tingkat pusat, tingkat propinsi dan tingkat kotamadya/kabupaten. Masing-masing jenjang organisasi program pendidikan tersebut mengandung ketiga komponen [strategi, operasi dan koordinasi].

c) Coordinating (Pengkoordinasian)

Adanya bermacam-macam tugas dan pekerjaan yang dilakukan oleh banyak orang yang memerlukan adanya koordinasi dari seorang pimpinan. Koordinasi yang baik menghindarkan kemungkinan terjadinya persaingan yang tidak sehat ataupun kesimpang-siuran dalam menjalankan tugas dan kewajiban dan sebagainya.

d) Communicating (Pengomunikasian)

Dalam melaksanakan suatu program pendidikan, aktifitas menyebarkan dan menyampaikan gagasan-gagasan dan maksud-maksud keseluruhan organisasi sangat penting. Bentuk komunikasi yang berbeda akan mendatangkan hasil yang berbeda. Misalnya, komunikasi lisan pada umumnya lebih mendatangkan hasil dan pengertian yang jelas daripada secara tertulis.

Menurut sifatnya, komunikasi ada 2 macam yaitu komunikasi bebas dan terbatas. Dalam komunikasi bebas setiap anggota dapat berkomunikasi secara bebas dengan anggota yang lain. Sedangkan dalam komunikasi terbatas setiap anggota hanya dapat berhubungan dengan beberapa anggota tertentu saja. Untuk melaksanakan program atau rencana dalam batas batas-batas tertentu komunikasi bebas lebih baik daripada komunikasi terbatas. Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses yang mempengaruhi sikap dan perbuatan orang-orang dalam struktur organisasi.

Dewasa ini di Indonesia terdapat sejumlah media komunikasi massa yang perkembangannya sudah cukup maju dan dapat menjangkau hampir seluruh pelosok tanah air, media komunikasi massa tersebut adalah surat kabar, majalah, radio dan televisi. Melalui media tersebut, budaya, tradisi, kegiatan, kemajuan dan sebagainya yang telah dicapai oleh suatu golongan masyarakat atau daerah tertentu dapat diketahui oleh masyarakat atau daerah lain. Dengan demikian komunikasi massa dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat, bahkan sampai batas tertentu dapat mengubah sikap masyarakat, sudah tentu disamping nilai-nilai yang positif, media massa dapat pula menimbulkan efek negatif. Tentang efek negatif acara TV beberapa ahli dan hasil penelitian masyarakat; banyak orang yang membuang waktunya antara 4-6 jam tiap hari untuk mengikuti semua acara TV; film-film banyak yang mempertunjukkan kejahatan, pembunuhan, perampokan dan sebagainya. Iklan TV dapat menimbulkan penyakit the gimniees terutama pada anak [penyakit merengek ingin dibelikan].

e) Supervising (Pengawasan)

Setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya pengawasan atau supervision. Pengawas bertanggung-jawab terhadap efektivitas program yang dilaksanakan. Oleh karena itu, dalam pengawasan haruslah diteliti ada atau tidaknya kondisi-kondisi yang akan memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan pendidikan.

Fungsi supervisi yang terpenting adalah :

1) Menentukan kondisi-kondisi atau syarat-syarat yang diperlukan.

2) Memenuhi/mengusahakan syarat-syarat yang diperlukan.

Jadi supervisi sebagai fungsi manajemen pendidikan berarti aktivitas untuk menentukan kondisi-kondisi atau syarat-syarat yang esensial yang dapat menjamin tercapainya tujuan pendidikan.

Tegasnya fungsi supervisi adalah untuk memelihara program pengajaran dengan sebaik-baiknya. Jadi melaksanakan supervisi dalam membantu meningkatkan situasi belajar pada umumnya dan membantu guru, agar ia mengajar lebih baik, sehingga dengan demikian murid dapat mengajar dengan lebih baik lagi.

f) Evaluating (Penelitian)

Untuk mengetahui berhasil tidaknya suatu program diperlukan adanya penilaian atau evaluasi. Sedang alasan/dasar evaluasi dalam pendidikan sebenarnya banyak sekali, namun menurut Sumadi Suryabrata bisa dikelompokkan menjadi tiga kelompok yakni dasar psikologis, didaktis dan administratif.

1. Dasar Psikologis

a. Ditinjau dari anak didik

Anak manusia yang belum dewasa pada umumnya belum mampu memilih ide dan melaksanakannya secara lepas dari pendukung ide tersebut.

b. Ditinjau dari pendidik

Orang tua atau wali murid adalah orang pertama yang mempunyai kepentingan mengenai pendidikan anak-anaknya.

2. Dasar Didaktis

a. Ditinjau dari anak didik

Keberhasilan anak didik dalam mencapai status yang terhormat akan menimbulkan kepuasan sehingga akan berusaha untuk lebih giat belajar lagi.

b. Ditinjau dari segi pendidik

Hasil yang telah dicapai siswa akan segera memberi petunjuk terhadap guru, dalam hal-hal apa ia berhasil dan dalam hal-hal apa ia gagal.

3. Dasar Administratif

Untuk memenuhi berbagai kebutuhan administrasi, maka penilaian mutlak harus dilakukan.

Setiap penilaian berpegang pada rencana tujuan yang hendak dicapai atau dengan kata lain setiap tujuan merupakan kriteria penilaian terhadap pekerjaan seorang guru dalam usaha mendidik dan mengajar muridnya tidak dapat disamakan dengan penilaian tukang jahit dalam menjahit pakaian langganannya atau pekerjaan seorang anemer/ahli bangunan sebuah gedung. Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan didirikan untuk memelihara dan memajukan kebudayaan. Dengan demikian, penelitian tentang efisiensi pendidikan bukan untuk menentukan untung rugi secara finansial, tetapi berhasil atau gagalnya pendidikan harus di ukur dari sudut keuntungan atau kerugian masyarakat.

B. Kepentingan Pendidikan

1. Pengertian Dan Pentingnya Kepemimpinan

Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi. Sutisna merumuskan kepemimpinan sebagai “Proses mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam usaha ke arah pencapaian tujuan dalam situasi tertentu”. Sementara Soepardi mendefinisikan kepemimpinan sebagai “Kemampuan untuk menggerakkan, mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan, menasehati, membimbing, menyuruh, memerintah, melarang dan bahkan menghukum (kalau perlu) serta membina dengan maksud agar manusia sebagai media manajemen mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan administrasi secara efektif dan efisien”. Hal tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan sedikitnya mencakup tiga hal yang paling berhubungan, yaitu adanya pemimpin dan karakteristiknya; adanya pengikut, serta adanya situasi kelompok tempat pemimpin dan pengikut berinteraksi.

Dengan pengertian ini dapat dikatakan bahwa kepemimpinan merupakan inti dari manajemen. Dalam proses pengelolaan kegiatan kerjasama, diperlukan kecakapan khusus untuk menggerakkan orang lain, diperlukan cara yang disebut Human Relation disinilah terletak pentingnya kepemimpinan.

Di dalam Islam, arti pentingnya kepemimpinan antara lain ditandaskan dalam sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi dari Ibnu Umar.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَاْلأِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ أَهْلِِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَاوَمَسْئُولَةٌ, وَالْخَادِمُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ,وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِى مَالٍ أَبِيْهِ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

Artinya :

Dari Ibnu Umar r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Kamu sekalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung-jawaban atas kepemimpinanmu. Seorang imam adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya. Seorang ayah adalah pemimpin dan ia diminta pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya. Seorang Ibu adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya. Seorang pembantu adalah pemimpin dan ia dimintai pertanggung-jawabannya dalam mengurus harta dan kekayaan tuannya. Seorang anak adalah pemimpin dan ia dimintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya dalam menjaga harta benda ayahnya. Kamu sekalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya”. (H.R Ahmadi).

Dari hadits tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa selama manusia masih merupakan makhluk sosial, mereka selalu ingin hidup bersama dalam masyarakat, baik dalam masyarakat yang primitif maupun modern. Masing-masing individu harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah dilakukannya, baik sebagai pemimpin resmi yang diangkat oleh kelompoknya maupun pemimpin alami, seperti dalam keluarga.

2. Fungsi Kepemimpinan Dalam Pendidikan

Menurut Hadari Nawawi, terdapat asumsi kepemimpinan pendidikan.

a) Mengembangkan dan menyalurkan kebebasan berfikir dan mengeluarkan pendapat, baik secara perseorangan maupun kelompok sebagai usaha mengumpulkan data/bahkan dari anggota dalam menetapkan keputusan (decision making) yang mampu memenuhi aspirasi di dalam kelompoknya.

b) Mengembangkan suasana kerjasama yang efektif dengan memberikan penghargaan dan pengakuan terhadap kemampuan orang-orang yang dipimpin sehingga timbul rasa atau sikap percaya diri dan kesediaan menghargai orang lain sesuai dengan kemampuan masing-masing.

c) Mengusahakan dan mendorong terjadinya pertemuan pendapat/buah pikiran dengan sikap harga menghargai sehingga timbul ikut terlibat di kegiatan kelompok/organisasi dan tumbuhnya perasaan bertanggung jawab atas terwujudnya pekerjaan masing-masing sebagai bagian dari pencapaian tujuan.

d) Membantu menyelesaikan masalah-masalah, baik yang dihadapi secara perseorangan maupun kelompok dengan memberikan petunjuk-petunjuk dalam mengatasinya dengan kemampuan sendiri.

3. Syarat dan Ketrampilan Dalam Pendidikan

a) Syarat dan ketrampilan kepemimpinan umum

Terdapat tiga syarat yang setidaknya dimiliki oleh para pemimpin yang diungkapkan oleh Dr. W.A Gerungan :

1) Social Perception (penglihatan atau wawasan sosial)

Yang dimaksud dengan wawasan sosial disini adalah suatu kemampuan untuk melihat dan mengerti gejala-gejala yang timbul di dalam masyarakat atau kehidupan sehari-hari, khususnya mengenai perasaan-perasaan, tingkah laku, keinginan dan kebutuhan sesama anggota kelompok.

2) Ability in Abstrack Thinking (kemampuan berfikir abstrak)

Yang dimaksud disini adalah memiliki otak yang cerdas atau memiliki inteligensi yang tinggi, karena berfikir secara abstrak itu dibutuhkan seorang pemimpin untuk melihat, menafsirkan dan menilai kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam kelompok dan keadaan umum diluar kelompok dalam hubungannya dengan apa yang menjadi tujuan.

3) Emotional Stability (keseimbangan emosi)

Orang yang mudah sekali marah menandakan emosinya tidak mantap dan tidak memiliki keseimbangan emosi. Jangankan menjadi pemimpin orang lain, menenangkan diri sendiri saja tidak mampu. Padahal, seorang pemimpin seyogyanya mampu menciptakan suasana tenang dan aman kepada mereka yang dipimpin. Hal ini hanya mungkin dilakukan apabila sang pemimpin sendiri memiliki sikap tenang dan aman karena memiliki keseimbangan emosional.

Jadi, jelaslah bahwa dalam diri pemimpin harus ada kepribadian yang harmonis, jiwa yang mantap, emosi yang stabil dan keinsyafan yang mendalam akan aspirasi, perasaan. Kebutuhan dan cita-cita para anggota kelompoknya.

b) Syarat dan ketrampilan kepemimpinan pendidikan

Menurut Dr. Hadari Nawawi, untuk menjadi seorang pemimpin dalam lingkungan pendidikan disamping diperlukan persyaratan formal seperti pendidikan atau ijazah juga diperlukan syarat yang lebih bersifat praktis. Syarat-syarat tersebut antara lain :

1. Memiliki kecerdasan atau inteligensi yang cukup baik.

2. Percaya diri dan bersifat membership (ikut memiliki).

3. Cakap bergaul dan ramah tamah

4. Kreatif, penuh inisiatif dan memiliki hasrat/kemampuan untuk maju dan berkembang menjadi lebih baik.

5. Organisasi yang berpengaruh dan berwibawa.

6. Memiliki keahlian atau ketrampilan dalam bidangnya.

7. Suka menolong, memberi petunjuk dan dapat menghukum secara konsekuen dan bijaksana.

8. Memiliki keseimbangan atau kestabilan emosional dan bersifat sadar.

9. Memiliki semangat pengabdian dan kesetiaan yang tinggi.

10. Berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab.

11. Jujur, rendah hati, sederhana dan dapat dipercaya.

12. Bijaksana dan selalu berlaku adil.

13. Disiplin

14. Berpengalaman dan berpandangan luas.

15. Sehat jasmani dan rohani

Dengan terpenuhinya persyaratan dan ketrampilan tersebut, seorang pemimpin diharapkan mampu menjalankan peranan kepemimpinan pendidikan sebagaimana yang di kemukakan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu :

Ing Ngarso Asung Tulodo

Ing Madya Mangun Karsa

Ing (tut) Wuri Handayani.

KESIMPULAN

Begitu pentingnya manajemen dan kepemimpinan dalam setiap aktivitas, termasuk didalamnya aktivitas kependidikan karena sistem manajemen merupakan kunci utama penggerak suatu aktivitas, tanpa adanya manajemen yang bagus, maka suatu organisasi tersebut dikhawatirkan akan mengalami kegagalan, demikian juga bila manajemennya kurang handal dalam melaksanakan sistem manajerialnya, maka sistem manajemen yang baik pun kurang begitu sempurna, atau mungkin timbul kegagalan dalam kepemimpinannya.

Untuk itu antara pembentukan sistem manajemen yang tepat dan kepemimpinan yang bertanggung-jawab terhadap kependidikan diharapkan akan dapat membentuk suatu lembaga pendidikan yang handal dan bermutu.

REFERENSI :

Abu Dohou, Ibtisam dan Fadjar, Malik, H. A. School-Based Management (Manajemen Berbasis Sekolah), tanpa penerbit dan t.th.

Daryanto, H.M, Administrasi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 2001.

Hamalik, Oemar, Manajemen Belajar di Perguruan Tinggi, Sinar Baru, Bandung, t.th.

__________________, Perencanaan dan Manajemen Pendidikan, Mandar Maju, Bandung, 1991.

Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis Kompetisi, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003.

____________________, Manajemen Berbasis Sekolah, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003.

Mustaqim, Psikologi Pendidikan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001.

Sagala, Syaiful, Konsep dan Makna Pembelajaran, Alfabeta, Bandung, 2003.

Sukmadinata, Nana Syaudih, Pengembangan Kurikulum (Teori dan Praktek), Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002.

Thoha, Chabib, dan Mu’thi, Abdul, PBM-PAI di Sekolah, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998.

Tilaar, H.A.R., Manajemen Pendidikan Nasional, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003.