KUMPULAN MAKALAH, SKRIPSI, & TIPS DAN TRIK

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Showing posts with label munasabah. Show all posts
Showing posts with label munasabah. Show all posts
AGAMA DAN HUBUNGAN ANTAR AGAMA

AGAMA DAN HUBUNGAN ANTAR AGAMA

Dalam sebuah masyarakat yang dicirikan oleh kemajemukan agama, tidak ada hal yang sedemikian penting dan mendesak seperti hubungan antarumat beragama.

Berbicara tentang hubungan antar agama, wacana pluralisme agama menjadi perbincangan utama. Pluralisme agama sendiri dimaknai secara berbeda-beda di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia, baik secara sosiologis, teologis maupun etis.

Secara sosiologis, pluralisme agama adalah suatu kenyataan bahwa kita adalah berbeda-beda, beragam dan plural dalam hal beragama. Ini adalah kenyataan sosial, sesuatu yang niscaya dan tidak dapat dipungkiri lagi. Dalam kenyataan sosial, kita telah memeluk agama yang berbeda-beda. Pengakuan terhadap adanya pluralisme agama secara sosiologis ini merupakan pluralisme yang paling sederhana, karena pengakuan ini tidak berarti mengizinkan pengakuan terhadap kebenaran teologi atau bahkan etika dari agama lain.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh M. Rasjidi bahwa agama adalah masalah yang tidak dapat ditawar-tawar, apalagi berganti.[1] Ia mengibaratkan agama bukan sebagai (seperti) rumah atau pakaian yang kalau perlu dapat diganti. Jika seseorang memeluk keyakinan, maka keyakinan itu tidak dapat pisah darinya.[2] Berdasarkan keyakinan inilah, menurut Rasjidi, umat beragama sulit berbicara objektif dalam soal keagamaan, karena manusia dalam keadaan involved (terlibat). Sebagai seorang muslim misalnya, ia menyadari sepenuhnya bahwa ia involved (terlibat) dengan Islam.[3] Namun, Rasjidi mengakui bahwa dalam kenyataan sejarah masyarakat adalah multi-complex yang mengandung religious pluralism, bermacam-macam agama.

A. Tafsir Ayat-ayat Tentang Agama

1. QS. Ali Imran : 19

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللهِ الإِسْلاَمُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ إِلاَّ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْعِلْمُ بَغْياً بَيْنَهُمْ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللهِ فَإِنَّ اللهِ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.

Asbabun Nuzul

Tidak ada

Penjelasan

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللهِ الإِسْلاَمُ

Sesungguhnya, semua agama dan syari’at yang didatangkan para Nabi pada intinya adalah Islam (menyerahkan diri), tunduk dan menurut. Meskipun dalam beberapa kewajiban dan bentuk amal agak berbeda. Orang muslim hakiki adalah orang yang bersih dari kotoran syirik, berlaku ikhlas dalam amalnya, dan disertai keimanan, tanpa memandang dari agama mana dan dalam zaman apa ia berada.

وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ إِلاَّ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْعِلْمُ بَغْياً بَيْنَهُمْ

Orang-orang ahli kitab tidak keluar dari Islam yang dibawa oleh para Nabi mereka sebagaimana yang sudah kami rincikan, sehingga mereka terpecah menjadi beberapa sekte yang saling bermusuhan dalam masalah agama, padahal agama adalah satu. Tidak ada persengketaan atau pertengkaran, kecuali karena kelakuan aniaya dan melewati batas yang dilakukan para pemimpin mereka.

Bila saja tidak ada unsur aniaya dan fanatisme terhadap sebagian lainnya dalam masalah-masalah sekte dan upaya mereka menyesatkan orang-orang yang menentangnya dengan cara menafsirkan nash-nash agama berdasarkan pendapat dan hawa nafsu, serta menakwilkan sebagian atau merubahnya, maka tidak akan terjadi perselisihan antar mereka.

بَيْنَهُمْ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللهِ فَإِنَّ اللهِ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Barang siapa mengingkari ayat-ayat Allah yang menunjukkan kewajiban berpegang teguh pada agama-Nya dan kesatuan serta diharamkannya perselisihan dan perpecahan, juga diharamkan tidak tunduk pada ayat-ayat Allah, maka Allah akan membuka dan menghukum. Sebab Allah Maha Cepat hisabnya. Yang dimaksud ayat-ayat Allah di sini adalah ayat-ayat kebesaran-Nya yang diilustrasikan dengan alam semesta, dalam diri mereka, dan di seluruh penjuru bumi yang luas ini. Termasuk kategori tidak tunduk pada ayat-ayat Allah, yaitu seperti memalingkan arti yang sebenarnya dan menyesuaikan dengan sekte-sekte sesat, bahkan ateis dalam menafsirkan ayat-ayat itu sehingga tidak sesuai lagi dengan ayat-ayat syariat yang diturunkan Allah kepada para Rasul-Nya.

Munasabah

QS. Ali Imran : 19, berhubungan dengan ayat sebelumnya yang menerangkan bahwa Allah menjadikan agama Islam adalah agama yang diridhai-Nya. Sedangkan dalam Islam sendiri mengajarkan tauhid, bahwasanya tiada Tuhan melainkan Dia yang menegakkan keadilan. Dan ayat ini berhubungan dengan ayat sesudahnya yang menerangkan tentang ajaran-ajaran yang terkandung dalam Islam, karena dalam Islam siapa saja yang memeluknya akan mendapatkan petunjuk dan jika mereka berpaling maka berkewajiban kamu (Muhammad) yang menyampaikan ayat-ayat Allah.[4]

2. QS. Al-Baqarah : 133

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَـهَكَ وَإِلَـهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَـهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Adakah kamu hadir ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya."

Asbabun Nuzul

Tidak ada

Penjelasan

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ

Apakah kalian (Yahudi dan Nasrani) tidak percaya kepada Muhammad dan yang mengingkari kenabiannya adalah orang-orang yang pernah menghadiri Ya’qub ketika ia menjelang ajal. Kemudian Islam menyangka bahwa Ya’qub adalah Yahudi atau Nasrani.

Ada suatu riwayat yang menceritakan bahwa orang-orang Yahudi pernah mengatakan kepada Nabi saw, “Tidakkah anda mengetahui bahwa Nabi Ya’qub itu mewasiatkan anak-anaknya agama Yahudi?”.

Ringkasnya, kalian menghadiri peristiwa tersebut. Janganlah kalian menuduh dengan masalah-masalah yang bathil dengan menghubungkannya dengan istilah Yahudi atau Nasrani. Allah hanya mengutus Ibrahim dengan membawa agama yang hanif (Islam) yang diwasiatkan kepada anak-anaknya setelah ia mengakhiri masa hidupnya.

إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي

Artinya, apakah kalian menyaksikan ketika Nabi Ya’qub berkata kepada anak-anaknya, “Apakah yang akan kalian sembah sesudahku?”. Maksud pertanyaan Ya’qub ini hendak membaiat anak-anaknya agar mereka tetap teguh pada pendiriannya di dalam Islam, ajaran tauhid dan segala perbuatan hanya karena Allah, dan untuk mencari ridlo-Nya. Juga menjauhkan diri dari kemusyrikan, seperti menyembah berhala dan lain-lain selain Tuhan. Hal inilah yang dikehendaki Ya’qub kepada putra-putranya, sebagaimana yang tersebut di dalam ayat berikut ini :

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ

“…dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala”. (QS. Ibrahim, 14:35)

قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَـهَكَ وَإِلَـهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَـهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Artinya, anak-anak Ya’qub menjawab, “Kami akan menyembah Tuhan yang telah kami ketahui keberadaan-Nya melalui bukti-bukti yang rasional, dan sekali-kali kami tidak akan berbuat musyrik terhadap-Nya. Kami selalu menyembah-Nya dan kami akan taat, merendahkan diri dan berbakti kepada-Nya dan menghadap kepada-Nya dalam keadaan bagaimanapun juga”. Mereka hidup di suatu periode yang masih menyembah berhala, patung, bintang, margasatwa dan lain-lain selain Allah.

Di sini Nabi Ismail disejajar dengan ayahnya, yakni Ya’qub, padahal Ismail adalah pamannya, bukan ayah mereka. Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits Nabi yang mengatakan :

عَمُّ الرَّجُلِ صِنْوَ أَبِيْهِ

Paman seseorang sama (hukumnya) dengan ayahnya (sendiri)

Ayat ini memberikan petunjuk bahwa agama Allah itu tetap satu. Dan di dalam ajaran Nabi manapun, intinya adalah tauhid atau meng-Esakan Allah, di samping menyerahkan diri kepada-Nya dan taat terhadap petunjuk para Nabi.[5]

Munasabah

QS. Al-Baqarah 133 dengan ayat sebelumnya adalah jika ayat 133 menjelaskan tentang wasiat Nabi Ya’qub kepada anak keturunannya untuk memeluk agama Islam, sedangkan ayat sebelumnya menjelaskan wasiat Nabi Ibrahim kepada anak-anaknya untuk menyembah Tuhan semesta alam. Sedangkan dengan ayat sesudahnya yaitu sunatullah terhadap hamba-hamba-Nya, Ia akan membalas kecuali berdasarkan amal perbuatan mereka sendiri dan tidak akan ditanyakan kecuali amal-amal yang diusahakan oleh mereka sendiri, baik itu pada zaman-zaman nabi yang dahulu ataupun pada zaman Nabi Muhammad sendiri.[6]

3. QS. Al-Hajj : 17

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئِينَ وَالنَّصَارَى وَالْمَجُوسَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا إِنَّ اللهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.

Asbabun Nuzul

Adapun asbabun nuzul ayat 17 ini berhubungan dengan al-Hajj ayat 19 yang diriwayatkan oleh banyak riwayat di antaranya berkenaan dengan ahli kitab yang berebut kebenaran dengan kaum mukminin, dengan berkata “Kami lebih utama dari pada kamu di sisi Allah, kitab kami diturunkan lebih dahulu dan Nabi kami diutus sebelum nabimu”. Berkatalah kaum mukminin, “Kami lebih berhak kepada Allah daripada kamu, kami percaya kepada Muhammad dan kepada nabimu dan semua kitab yang diturunkan Allah”.[7]

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa turunnya ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang dalam perang badar, antara lain Hamzah, Ali, Ubaidah bin al-Harti (dari pihak Islam) berlawanan bersambung nyawa dengan Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah dan al-Walid bin Utbah (dari pihak kafir Quraisy).

Penjelasan

الذين هادو : orang-orang Yahudi

الصابئين : suatu kaum yang menyembah malaikat, shalat menghadap kiblat dan membaca kitab Zabur.

المجوس : sebagaimana dikatakan oleh Qatadah, mereka adalah kaum yang menyembah matahari, bulan dan api.

الذين أشركوا : mereka adalah para penyembah patung

يفصل : mengambil keputusan dengan memenangkan yang haq atas yang bathil

شهيد : Maha Tahu dan Maha Mengawasi segala perkata.[8]

Munasabah

Adapun munasabah ayat ini dengan ayat terdahulu, Allah menjelaskan bahwa Dia memberi petunjuk kepada siapapun yang Dia kehendaki, selanjutnya di dalam ayat ini Dia menjelaskan siapa orang yang Dia beri petunjuk dan siapa yang tidak Dia beri petunjuk, dan akan diberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat.

Adapun munasabah dengan ayat sesudahnya bahwa Allah mengambil keputusan di antara golongan-golongan ini, membalas setiap golongan sesuai dengan perbuatannya, dan menempatkannya pada tempat yang patut baginya, karena tidak sedikitpun di antara keadaan mereka yang tidak dia ketahui, tetapi Dia mengetahui segala perkataan dan mengawasi segala perbuatan mereka.[9]

B. Kedudukan Non-Muslim dalam Al-Qur’an

Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Mumtahanah : 9

إِنَّمَايَنْهَاكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِىالدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىإِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang lalim

Dari ayat di atas menjelaskan bahwa Tuhan hanya melarang kamu berkawan setia dengan orang-orang yang terang-terang memusuhimu, yang memerangi kamu, yang mengusir kamu atau membantu orang-orang yang mengusirmu seperti yang dilakukan musyrikin Makkah. Sebagian mereka berusaha mengusirmu dan sebagian yang lain menolong orang yang mengusirmu.

Adapun orang-orang yang menjadikan musuh-musuh itu sebagai teman setia, menyampaikan kepada mereka rahasia-rahasia yang penting dan menolong mereka, maka merekalah yang dhalim karena menyalahi perintah Allah.[10]

C. Kedudukan Ahli Kitab dalam al-Qur’an

Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Maidah : 51

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

Penjelasan ayat di atas adalah : kata Ibnu Jarir “Allah SWT mencegah para mukmin menjadikan orang Yahudi dan orang Nasrani penolong-penolong dan teman-teman setia bagi orang-orang yang beriman. Tuhan menerangkan bahwa mereka yang menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani penolong dan teman setianya, di pandang membuat pertentangan kepada Allah, Rasul, dan para mukmin. Allah dan Rasul terlepas dari padanya.

Dari penjelasan di atas kita mendapat suatu ketentuan bahwa apabila terjadi kerjasama, bantu membantu dan bersahabat setia, antara dua orang yang berlainan agama untuk kemaslahatan-kemaslahatan dunia, tidaklah masuk yang demikian itu ke dalam larangan ayat ini. Apabila para muslim bersahabat setia dengan sesuatu umat yang tidak Islam, terhadap sesuatu umat yang tidak Islam pula, karena persesuaian maslahat, maka yang demikian itu tidak dilarang. Adapun alasan akan melarang orang muslim berhubungan dengan orang Yahudi dan Nasrani karena orang-orang Yahudi pada waktu itu sangat tinggi solidaritasnya antara sesama mereka.[11]

KESIMPULAN

Keterangan-keterangan di atas memberi gambaran bahwa agama adalah masalah yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, apalagi berganti. Serta kemajemukan agama tidak menghalangi untuk hidup bersama, berdampingan secara damai dan aman. Adanya saling pengertian dan pemahaman yang dalam akan keberadaan masing-masing menjadi modal dasar yang sangat menentukan. Pengalaman-pengalaman Nabi di atas mengandung dimensi moral dan etis. Di antara dimensi moral dan etis agama-agama adalah saling menghormati dan menghargai agama/pemeluk agama lain. Jika masing-masing pemeluk agama memegang moralitas dan etikanya masing-masing, maka kerukunan, perdamaian dan persaudaraan bisa terwujud.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Musthafa al-Maraghy, Tafsir al-Maraghy Juz 3, Semarang: CV. Toha Putra, 1985.

Majalah Al-Djami’ah, Nomor Khusus, Mei 1968 Tahun ke VIII.

Qomaaruddin Shaleh, dkk., Asbabun Nuzul, Bandung: CV. Diponegoro, 1986.

T.M. Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Qur’anul Majid (An-Nuur) Juz 5, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1995.



[1] Argumen ini dikemukakan oleh Prof. Rasjidi dalam satu tulisannya yang disampaikan dalam Pidato Sambutan Musyawarah Antar Agama, 30 November 1967 di Jakarta. Penulis mendapati tulisan ini dari dua sumber, yakni di dalam Majalah Al-Djami’ah, Nomor Khusus, Mei 1968- Tahun ke VIII dan buku karangan Umar Hasyim Toleransi dan Kemerdekaan Beragama dalam Islam sebagai Dasar Menuju Dialog dan Kerukunan Antar Agama.

[2] M. Rasjidi, Al-Djami’ah, Nomor Khusus, Mei 1968 Tahun ke VIII, hlm.35.

[3]Ibid.

[4] Ahmad Musthafa al-Maraghy, Tafsir al-Maraghy Juz 3, Semarang: CV. Toha Putra, 1985, hlm. 211.

[5] Ibid., juz I, hlm. 388-389.

[6] Ibid., hlm. 390.

[7] Qomaaruddin Shaleh, dkk., Asbabun Nuzul, Bandung: CV. Diponegoro, 1986, hlm. 331.

[8] Ahmad Musthafa al-Maraghy, op.cit., Juz 17, hlm. 161.

[9] Ibid., hlm. 160.

[10] T.M. Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Qur’anul Majid (An-Nuur) Juz 5, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1995, hlm. 4045.

[11] Ibid., hlm. 1057.



KONSEP AL-QUR’AN TENTANG HARI AKHIR

KONSEP AL-QUR’AN TENTANG HARI AKHIR

Hari kiamat (يوم القيامة) dipakai untuk mengistilahkan kehidupan setelah kematian. Mereka-mereka yang beragama meyakini kehidupan akhirat sebagai tempat di mana segala perbuatan seseorang di dalam kehidupan dunia ini akan dibalas. Namun tidak sedikit juga orang yang meragukan akan adanya kehidupan akhirat (kehidupan setelah kematian). Mereka-mereka yang meyakini pasti akan mengatakan : meyakini hari kiamat sangat mudah, sama halnya meyakini adanya hari esok setelah hari ini, nanti setelah sekarang, memetik setelah menanam. Dengan meyakini adanya kehidupan akhirat setelah kehidupan di dunia, seseorang akan menjaga dari perbuatan sesuka hatinya, karena ia yakin segala perbuatan dalam kehidupannya sekarang akan dituainya di kemudian hari, yaitu alam sesudah kematian.

QS. al-Waqi’ah 1-12

ŒÎ) ÏMyès%ur èpyèÏ%#uqø9$# ÇÊÈ }§øŠs9 $pkÉJyèø%uqÏ9 îpt/ÏŒ%x. ÇËÈ ×pŸÒÏù%s{ îpyèÏù#§ ÇÌÈ #sŒÎ) ÏM§_â ÞÚöF{$# %w`u ÇÍÈ ÏM¡¡ç0ur ãA$t6Éfø9$# $r¡o0 ÇÎÈ ôMtR%s3sù [ä!$t6yd $}Wu;/ZB ÇÏÈ ÷LäêYä.ur %[`ºurør& ZpsW»n=rO ÇÐÈ Ü=»ysô¹r'sù ÏpuZyJøyJø9$# !$tB Ü=»ptõ¾r& ÏpuZyJøyJø9$# ÇÑÈ Ü=»ptõ¾r&ur ÏpyJt«ô±pRùQ$# !$tB Ü=»ptõ¾r& ÏpyJt«ô±pRùQ$# ÇÒÈ tbqà)Î7»¡¡9$#ur tbqà)Î7»¡¡9$# ÇÊÉÈ y7Í´¯»s9'ré& tbqç/§s)ßJø9$# ÇÊÊÈ Îû ÏM»¨Zy_ ÉOŠÏè¨Z9$# ÇÊËÈ

Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya. Dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya. Maka jadilah ia debu yang beterbangan. Dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan.

Penjelasan :

Al-Waqi’ah termasuk salah satu nama hari kiamat, kiamat dinamai al-Wqai’ah karena hari kiama itu pasti terjadi dan ada. Hal ini seperti firman-Nya dalam surat al-Haqqat : 15

7ͳtBöquŠsù ÏMyès%ur èpyèÏ%#uqø9$# ÇÊÎÈ

Artinya: “Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat”.

Jika Allah menghendaki kejadiannya, tidak ada seorangpun yang dapat mengalihkan atau menolak kejadiannya. Hal ini seperti firman-Nya “Patuhilah seruan Tuhanmu datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya”.

Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman, “Merendahkan dan meninggikan”, yaitu merendahkan beberapa kaum untuk menuju neraka jahanam, walaupun mereka itu adalah orang-orang mulia selagi di dunia, mengangkat kaum yang lain ke martabat yang tinggi, kenikmatan abadi, walaupun mereka itu orang-orang rendahan kala di dunia.

Firman Allah dalam surat al-Zalzalah : 1-3

#sŒÎ) ÏMs9Ìø9ã ÞÚöF{$# $olm;#tø9Î ÇÊÈ ÏMy_t÷zr&ur ÞÚöF{$# $ygs9$s)øOr& ÇËÈ tA$s%ur ß`»|¡RM}$# $tB $olm; ÇÌÈ

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?"

Apabila –dan itu pasti terjadi– bumi digoncangkan dengan goncangannya –yang amat dahsyat yang hanya terjadi sekali dalam kedahsyatan seperti itu–, dan persada bumi diseluruh penjurunya tanpa kecuali –telah mengeluarkan beban-beban berat– yang dikandung –nya, baik manusia yang telah mati maupun barang tambang yang dipendamnya atau apapun selainnya dan ketika itu manusia yang sempat mengalaminya bertanya –dalam hatinya– keheranan: “Apa yang terjadi baginya sehingga dia bergoncang demikian dahsyat dan mengeluarkan isi perutnya?”.

Dalam ayat 7 dijelaskan bahwa manusia pada waktu itu berdiri atas golongan-golongan, yaitu golongan kanan, golongan kiri dan golongan orang yang paling dahulu beriman. “golongan kanan” adalah orang-orang yang menerima buku-buku catatan amal mereka dengan tangan kanan yang menunjukkan mereka ahli surga. Tentulah keadaan mereka sangat baik dan sangat menyenangkan. Dan “golongan kiri” ialah orang-orang yang menerima buku dengan tangan kiri yang menunjukkan bahwa mereka adalah ahli neraka dan akan mendapat siksa dan hukuman yang sangat menyedihkan. Berkenaan dengan ini Mu’adz bin Jabal meriwayatkan:

أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ ص.م تَلاَ هَذِهِ اْلآيَةَ ثُمَّ قَبَضَ بِيَدِهِ قَبْضَتَيْنِ وَقَالَ: هَذِهِ فِى الْجَنَّةِ وَلاَ اُبَالِى وَهَذِهِ فِى النَّارِ وَلاَ اُبَالِى.

“Nabi Besar Muhammad saw, tatkala membaca ayat di atas, beliau menggenggamkan kedua belah tangannya lalu berkata, “Ini (yang digenggam dengan tangan kanan beliau) adalah ahli surga dan tidak perlu aku mempertahankan (yang digenggam dengan tangan kiri beliau) ini adalah ahli neraka dan tidak perlu aku memperhatikan”.

Dalam ayat 10 dijelaskan bahwa orang-orang yang paling dahulu beriman kepada Allah SWT, tidak asing lagi bagi kita pribadi dan kebesarannya serta perbuatan-perbuatan mereka mengagumkan. Dapat diartikan pula bahwa orang-orang yang paling dahulu mematuhi perintah Allah, mereka pulalah yang paling dahulu menerima rahmat Allah.

Ayat ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “assabiqun” ialah mereka yang disebut dalam hadits Siti ‘Aisyah, sebagai berikut :

عَنْ عَائِشَةَ رَضي الله عنها أنّ رسول الله ص.م قال: أَتَدْرُوْنَ مَنِ السَّابِقُوْنَ اِلَى ظِلِّ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ قَالُوا: اَللهُ وَرَسُوْلُهُ اَعْلَمُ. قال: اَلَّذِيْنَ اِذَا اَعْطَوْاالْحَقَّ قَبَلُوْهُ وَاِذَا سُبلُوْا بَذَلُوْهُ وَحَكَمُوا لِلنَّاسِ كَحُكْمِهِمْ ِلاَنْفُسِهِمْ (أخرجه احمد)

“Nabi besar Muhammad saw telah bersabda: “Apakah kamu sekalian tahu siapa yang paling dahulu mendapat rahmat dari Allah pada Hari Kiamat nanti?” mereka (para sahabat) berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Rasulullah bersabda: “Mereka itu adalah orang yang apabila diberi haknya lalu menerimanya dan apabila diminta orang diberikannya. Apabila menjatuhkan hukuman terhadap orang lain sama seperti mereka menjatuhkan hukuman terhadap diri mereka sendiri”.

Sedangkan Al-Auza’i menafsirkan, yang diterimanya dari Ustman bin Abi Saudah, tafsir ayat “orang-orang yang paling dahulu” itulah orang-orang yang paling dekat, di dalam surga yang penuh kesenangan. Tafsirnya ialah orang-orang yang bila datang waktu shalat, dia yang datang paling dahulu ke masjid, jika datang panggilan berperang di jalan Allah, dia pula yang dahulu tampil dengan sikap siaganya yang menghadapi maut. Itulah sebabnya Allah Ta’ala berfirman, “mereka itulah orang-orang yang didekatkan berada dalam surga kenikmatan”, yaitu orang-orang yang didekatkan kepada kasih dan ridha-Nya.

Dalam surat al-Qiyamah : 3-4

Ü=|¡øtsr& ß`»|¡RM}$# `©9r& yìyJøgªU ¼çmtB$sàÏã ÇÌÈ 4n?t/ tûïÍÏ»s% #n?tã br& yÈhq|¡S ¼çmtR$uZt/ ÇÍÈ

“Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna”.

Apa yang ditegaskan dalam ayat sebelumnya tentang Hari Kiamat mestinya disambut dengan pembenaran oleh seluruh makhluk, tetapi ada yang enggan percaya. Mengapa dia enggan? Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang belulangnya yang telah terserak setelah kematiannya? Bukan demikian, sungguh Kami Kuasa menyempurnakan yakni menyusun kembali jari-jemarinya dengan sempurna.

Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat istimewa terhadap pemantapan keimanan pada hari akhir itu. Perhatian yang besar itu dapat kita saksikan dari beberapa hal di bawah ini:

Pertama: Dihubungkannya dengan keimanan kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya, tetapi yang disebut kebaikan ialah seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. (QS. Al-Baqarah: 177)

Kedua: Amat banyak sekali uraian perihal hari kiamat yang disebutkan oleh al-Qur’an, bahkan hampir tidak ada satu suratpun yang tidak memuat pembahasannya. Diuraikan pula hal-hal yang dapat mendekatkan pemahaman untuk jiwa dan kalbu. Kadang-kadang dengan menggunakan keterangan dan kupasan yang nyata, kadang-kadang dengan membuat perumpamaan.

Ketiga: Siapa yang mengikuti isi al-Qur’an dan meneliti betul ayat-ayatnya, tentu ia dapat mengetahui bahwa Allah SWT tidak mengemukakan hari kiamat dengan sebuah nama saja, tetapi menggunakan nama-nama yang berlainan dan setiap nama menunjukkan pengertian yang akan terjadi pada hari yang kesemuanya berupa kesukaran dan kesengsaraan. Misalnya ialah sebagai berikut:

a. Hari kebangkitan (yaumul ba’tsi) sebagaimana firman-Nya: “Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): "Sesungguhnya kamu Telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; Maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya)." (QS. ar-Rum: 56)

b. Hari kiamat (yaumul qiyamah) sebagaimana firman-Nya, “Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam”. (QS. az-Zumar: 60)

c. Saat atau masa (sa’ah) sebagaimana firman-Nya, “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan”. (QS. al-Qamar: 1)

Juga firman-Nya, “Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat)”. (QS. al-Hajj: 1)

d. Akhirat (akhirah) sebagaimana firman-Nya, “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”.

e. Hari pembalasan (yaumudin) sebagaimana firman-Nya, “Allah yang merajai hari pembalasan”. (QS. al-Fatihah: 3)

f. Hari penghitungan (yaumul hisab) sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya diriku kepada Tuhanku dan Tuhanmu semua dari setiap orang yang sombong yang tidak mempercayai hari hisab (perhitungan amal) nanti”. (QS. Ghafir: 27)

g. Kejadian yang menyelubungi (ghasiyah) sebagaimana firman-Nya, “Sudahkah sampai kepadamu berita ghasyiah (kejadian yang menyelubungi)”. (QS. al-Ghasyiah: 1)

h. Peristiwa yang dahsyat (waqi’ah) sebagaimana firman-Nya “Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain)”. QS. al-Waqi’ah: 1-3)

i. Hari bangkit (yaumul khuruj) sebagaimana firman-Nya, “Pada hari mereka mendengar teriakan dengan hak. Itulah hari khuruj (kebangkitan dari kematian)”. (QS. Qaf: 42).

j. Hari penyesalan (yaumul hasrah) sebagaimana firman-Nya, “Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman”. (QS. Maryam: 39)


Sedangkan untuk tanda-tanda Hari Akhir sebagai berikut :

1. Terbelahnya bulan (al-Qamar: 1)

ÏMt/uŽtIø%$# èptã$¡¡9$# ¨,t±S$#ur ãyJs)ø9$# ÇÊÈ

“Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan”.

2. Peperangan dan kekacauan

“Rasulullah saw bersabda: “Al-harj (akan meningkat)”, mereka bertanya “Apakah al-harj itu?” beliau menjawab, “(yaitu) pembunuhan (saling membunuh)”. HR. Bukhari.

3. Kehancuran kota-kota besar: peperangan dan bencana

“Berbagai kota besar akan dihancurkan dan hal ini akan terjadi seolah-olah kota itu tidak pernah ada sebelumnya”. (Al-Mutta al-Hindi, al-Burhan fi alamat al-mahdi akhir al-zaman).

4. Gempa bumi

“As-Sa’ah (hari akhir) tidak akan terjadi hingga gempa bumi akan sangat sering terjadi”. (HR. Bukhari)

5. Kemiskinan

“kekayaan akan beredar di antara orang-orang kaya, tanpa manfaat bagi orang-orang miskin”. (HR. Tirmidzi)

6. Runtuhnya nilai-nilai akhlaq

“Hari kiamat (as-sa’ah) akan datang ketika perzinaan tersebar luas”. (Al-Haythami al-Fitan)

7. Munculnya nabi-nabi palsu

“Hari akhir tidak akan datang sebelum datangnya tiga puluh dajal, masing-masing dirinya mengaku sebagai utusan Allah”. (HR. Abu Daud)

8. Terlihatnya api di timur

“Munculnya sebuah kebakaran besar yang terlihat di timur hingga mencapai dilangit hingga tiga malam. Terlihatnya warna merah yang besar tidak semerah warna fajar lazimnya, dan merebak diantara horizon”. (Al-Muttaqi al-Hindi, p. 22).

9. Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj ke bumi untuk melakukan pengrusakan

10. Matahari terbit dari arah barat dan tenggelam di timur.

Detik-detik kiamat sebagai berikut:

1. Ibu yang menyusu akan meninggalkan anaknya

2. Planet bertabrakan satu sama lain

3. Gunung-gunung berterbangan

4. Iman di hati hilang

5. Tiupan sangkakala pertama dibunyikan, semua makhluk mati kecuali yang diizinkan oleh Allah.

6. Tiupan sangkakala kedua, semua makhluk dihidupkan, dikumpulkan untuk dibalas amalnya.

KESIMPULAN

Hari kiamat adalah hari akhir kehidupan seluruh manusia dan makhluk hidup di dunia yang harus kita percayai kebenaran adanya yang menjadi jembatan untuk menuju kehidupan selanjutnya di akhirat yang kekal dan abadi. Iman kepada hari kiamat adalah rukun iman yang kelima. Hari kiamat diawali dengan tiupan terompet sangkakala oleh malaikat Isrofil untuk menghancurkan bumi beserta seluruh isinya.

Hari kiamat tidak dapat diprediksi kapan akan datangnya karena merupakan rahasia Allah SWT yang tidak diketahui siapapun. Namun dengan demikian kita masih bisa mengetahui kapan datangnya hari akhir/kiamat dengan melihat tanda-tanda yang diberikan oleh Nabi Muhammad saw. Orang yang beriman kepada Allah SWT dan banyak berbuat kebajikan akan menerima imbalan surga yang penuh kenikmatan, sedangkan bagi orang-orang kafir akan masuk neraka untuk disiksa.

Dengan percaya dan beriman kepada hari akhir kita akan didorong untuk selalu berbuat kebaikan, menghindari perbuatan dosa, tidak mudah putus asa, tidak sombong, tidak takabur, karena semua amal perbuatan kita dicatat oleh malaikat yang akan digunakan sebagai bahan referensi apakah kita akan masuk surga atau neraka.

DAFTAR PUSTAKA

Dahlan, Zaini, dkk., Al-Qur’an dan Tafsirnya, Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa, 1991.

Hamka, Tafsir al-Azhar, Surabaya: CV. Karunia, 1981.

Nasib, Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta: Gema Insani Press, cet. 2, 2000.

Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Misbah, Jakarta: Lentera Hati, cet.II, vol. 14, 2004.

_______________, Tafsir al-Misbah, Tangerang: Lentera Hati, cet. III, vol. 15, 2005.

Yunus, Mahmud, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: PT. Al-Ma’arif, 2000.