Fakta 5 : Kedele mengandung zat yang dapat menggangu keseimbangan hormon wanita.
Kedele mengandung isoflavon yang pada satu sisi dikatakan sangat baik bagi kesehatan seperti banyak publikasi yang mungkin sudah anda ketahui, namun disisi lain isoflavon juga mempunyai efek negative bagi keseimbangan hormone pada wanita.
Sejak tahun 1950, peneliti telah mengidentifikasi bahwa isoflavon kedele sebagai sumber fitoestrogen. Efek estrogenic dari kedele potensinya 1/500 dari estrogen yang secara alami mengalir didalam tubuh kita.
Kedele dapat bersaing sebagai estrogen didalam tubuh, sehingga mengurangi efek estrogen alami tubuh dan dalam waktu bersamaan kelebihan konsumsi kedele dapat menimbulkan menumpuknya hormone mirip estrogen, yang mengakibatkan kelebihan hormon.
Dominasi estrogen (kelebihan estrogen) dibanding progesteron menurut Dr. Jonh R. Lee M. D, pengarang buku What Your Doctor May Not Tell You About Premenopause, dapat menyebabkan penyakit seperti menstruasi tidak teratur, ketidaksuburan , kista, endometriosis, dan myoma.
Studi pada hamster menunjukkan isoflavon yang terdapat pada kedele dapat mempercepat waktu puber pada binatang pengerat tersebut.
Studi lain memperlihatkan 45 mg isoflavon yang dikonsumsi selama 1 bulan dari isolat protein kedele menyebabkan perubahan hormonal pada wanita. Dan tahun 1992, pelayanan kesehatan di Swiss memperkirakan 100 mg protein kedele bersifat estrogenik yang sama dengan pil kontrasepsi.
Studi secara in vitro memperlihatkan bahwa isoflavon dapat menghambat sintesa estradiol dan hormon streoid lainnya, dan masalah reproduksi, kemandulan, penyakit tioroid dan penyakit liver yang terkait dengan konsumsi isoflavon telah diselidiki pada beberapa hewan meliputi tikus, harimau cheetah, babi dan domba.
Fakta 6 : Kedele sebagai pil kontrasepsi pada bayi.
Bayi –bayi yang memperoleh formula hanya dari susu kedele dapat juga memperoleh isoflavon, dan diperkirakan tingkat serum estrogennya 13.000-22.0000 kali lebih besar dari pada bayi yang memperoleh susu dari formula susu biasa.
Menurut Irvine dalam New Zealand Medical Journal, diperikirakan 25 % anak di USA menerima formula kedele, lebih tinggi dibandingkan negara barat lainnya. Dan diperkirakan bayi yang diberi hanya dari formulasi kedele memperoleh estrogen (berdasar berat badan) sekurang-kurangnya setara dengan 5 pil kontrasepsi sehari.
Pada Juli 1996, Departemen Kesehatan Inggris memberi peringatan bahwa fitoestrogen yang ditemukan pada formula bayi berbahan dasar kedele berpengaruh tidak baik bagi kesehatan bayi. Bila hal tersebut dibiarkan maka dapat menganggu keseimbangan hormon nantinya, makanya formulasi kedele diberikan kepada bayi seharusnya hanya oleh ahli kesehatan setelah mempertimbangkan berbagai hal.
Fakta 7 : Kedele merusak Sperma
Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Lynn Fraser dari King's College London, menyatakan bahwa kedele mengandung senyawa genistein yang dapat merusak gerakan sel sperma yang tengah berenang menuju sel telur. Keberadaan genistein dalam jumlah kecil sekalipun tetap berbahaya. Senyawa ini memiliki kemampuan membakar sperma.
Dari hasil penelitian tesebut Fraser menyarankan agar wanita yang menginginkan kehamilan untuk tidak makan kedele pada hari-hari suburnya. Genistein dijelaskan Fraser terdapat dalam setiap produk makanan dari kedele. ''Termasuk susu kedele dan sejumlah makanan kemasan untuk vegetarian.
Fraser melakukan penelitian tersebut di laboratorium terhadap sperma manusia. Senyawa genistein dipaparkannya pada sperma dalam piringan sediaan. Senyawa tersebut dengan cepat memicu reaksi sperma dalam jumlah besar.
''Sperma terlihat memiliki kekuatan untuk membuahi sel telur.'' Namun dalam kehidupan nyata, kekuatan itu baru muncul saat sperma sudah berada di dalam sel telur selama beberapa jam. Itu pun setelah sperma merampungkan perjalanan jauhnya berenang menuju sel telur. ''Keberadaan genistein di sekitar dan di dalam rahim akan membuat sperma matang terlampau cepat hingga akhirnya menggagalkan pembuahan.
Kecepatan reaksi genistein terlihat berbeda pada tikus. Diperlukan konsentrasi genistein dalam dosis yang lebih tinggi untuk memicu reaksi pada tikus. ''Sementara, pada manusia, dosis yang sangat kecil saja sudah berbahaya.
Fraser sendiri terkejut dengan temuannya. Ia tidak menyangka manusia begitu sensitif terhadap senyawa kedele itu. ''Sayangnya, sampai sekarang belum diketahui level amannya bagi manusia.
Fraser mengungkapkan penelitiannya ini tidak ditujukan untuk membuat orang berhenti mengonsumsi kedele. Namun, wanita yang tengah berusaha memiliki keturunan dianjurkannya tidak memakan pangan dari kedele di masa ovulasinya. ''Menghindari kedele mungkin tidak akan menambah kesuburan tetapi langkah ini menyediakan sedikit peluang tambahan untuk bisa hamil.
Fakta 7 : Kedele juga ada yang merupakan produk transgenik
Dari laporan SIGI di liputan 6 SCTV (23.10.2006) , bahwa data resmi menyebutkan Indonesia setiap tahun mengonsumsi kedelai transgenik asal AS sebanyak 1,2 juta ton atau mencapai lebih dari 75 persen total konsumsi kedelai nasional. Bahkan, ada saat seluruh konsumsi kedelai impor Indonesia didatangkan dari AS. Ironisnya, Departemen Pertanian AS menyatakan tak bertanggung jawab terhadap produk transgenik yang beredar ke pasar.
Tanaman transgenik adalah tanaman yang telah direkayasa bentuk maupun kualitasnya melalui penyisipan gen atau DNA binatang, bakteri, mikroba, atau virus untuk tujuan tertentu. Misal, tomat yang disisipi gen ikan agar tahan beku atau kedelai yang disuntik gen bakteri dalam tanah. Transgenik menjadi alternatif agar hasil panen tahan dingin, melimpah, dan tak mempan hama. Bahkan, tanaman direkayasa agar mampu membunuh hama yang menyerang tumbuhan tersebut.
Para aktivis pembela konsumen dan lingkungan mengecam rekayasa genetika seperti itu karena dinilai kebablasan dan melawan kodrat alam. Selain tentu saja tak aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Tak heran jika di sejumlah negara termasuk Indonesia, produk transgenik kerap menuai protes.
Penulis sendiri tidak melarang anda mengkonsumsi produk kedele karena kedele mengandung banyak manfaat, tapi penulis lebih menyarankan anda mengkonsumsi produk kedele yang telah mengalami proses fermentasi seperti miso, tempe dan dikombinasikan dengan makanan lainnya. Khusus bagi mereka yang mempunyai masalah terkait hipotiroid, kemandulan, atau gangguan hormonal alangkah baiknya membatasi produk kedele yang belum mengalami fermentasi seperti tahu, tofu, isolat protein kedele, formula kedele atau susu kedele.Dan akan lebih baik kalau produk tersebut bukan berasal dari produk tansgenik.
Penulis : Hendri Priadi , praktisi nutrisi , Jakarta
Daftar bacaan :
1. Van Rensburg et al., "Nutritional status of African populations predisposed to esophageal cancer", Nutrition and Cancer, vol. 4, 1983, pp. 206-216; Moser, P.B. et al., "Copper, iron, zinc and selenium dietary intake and status of Nepalese lactating women and their breastfed infants", American Journal of Clinical Nutrition 47:729-734, April 1988; Harland, B.F. et al., "Nutritional status and phytate: zinc and phytate X calcium: zinc dietary molar ratios of lacto-ovovegetarian Trappist monks: 10 years later", Journal of the American Dietetic Association 88:1562-1566, December 1988.
2. El Tiney, A.H., "Proximate Composition and Mineral and Phytate Contents of Legumes Grown in Sudan", Journal of Food Composition and Analysis (1989) 2:6778.
3. Ologhobo, A.D. et al., "Distribution of phosphorus and phytate in some Nigerian varieties of legumes and some effects of processing", Journal of Food Science 49(1):199-201, January/February 1984.
4. Sandstrom, B. et al., "Effect of protein level and protein source on zinc absorption in humans", Journal of Nutrition 119(1):48-53, January 1989; Tait, Susan et al., "The availability of minerals in food, with particular reference to iron", Journal of Research in Society and Health 103(2):74-77, April 1983.
5. Phytate reduction of zinc absorption has been demonstrated in numerous studies. These results are summarised in Leviton, Richard, Tofu, Tempeh, Miso and Other Soyfoods: The 'Food of the Future' - How to Enjoy Its Spectacular Health Benefits, Keats Publishing, Inc., New Canaan, CT, USA, 1982, p. 1415.
6. Mellanby, Edward, "Experimental rickets: The effect of cereals and their interaction with other factors of diet and environment in producing rickets", Journal of the Medical Research Council 93:265, March 1925; Wills, M.R. et al., "Phytic Acid and Nutritional Rickets in Immigrants", The Lancet, April 8,1972, pp. 771-773.
7. Ishizuki Y, Hirooka Y, Murata Y, Togashi K., “The effects on the thyroid gland of soybeans administered experimentally in healthy subjects” Nippon Naibunpi Gakkai Zasshi 1991 May 20 67:5 622-9
8. Divi, R.L. et al., "Anti-thyroid isoflavones from the soybean", Biochemical Pharmacology (1997) 54:1087-1096.
9. Cassidy, A. et al., "Biological Effects of a Diet of Soy Protein Rich in Isoflavones on the Menstrual Cycle of Premenopausal Women", American Journal of Clinical Nutrition (1994) 60:333-340.
10. Setchell, K.D. et al., "Isoflavone content of infant formulas and the metabolic fate of these early phytoestrogens in early life", American Journal of Clinical Nutrition, December 1998 Supplement, 1453S-1461S.
11. Irvine, C. et al., "The Potential Adverse Effects of Soybean Phytoestrogens in Infant Feeding", New Zealand Medical Journal May 24, 1995, p. 318.
12. Keung, W.M., "Dietary oestrogenic isoflavones are potent inhibitors of B-hydroxysteroid dehydrogenase of P. testosteronii", Biochemical and Biophysical Research Committee (1995) 215:1137-1144; Makela, S.I. et al., "Estrogen-specific 12 B-hydroxysteroid oxidoreductase type 1 (E.C. 1.1.1.62) as a possible target for the action of phytoestrogens", PSEBM (1995) 208:51-59.
13. Setchell, K.D.R. et al., "Dietary oestrogens - a probable cause of infertility and liver disease in captive cheetahs", Gastroenterology (1987) 93:225-233; Leopald, A.S., "Phytoestrogens: Adverse effects on reproduction in California Quail," Science (1976) 191:98-100; Drane, H.M. et al., "Oestrogenic activity of soya-bean products", Food, Cosmetics and Technology (1980) 18:425-427; Kimura, S. et al.,
14. Setchell, K.D. et al., "Isoflavone content of infant formulas and the metabolic fate of these early phytoestrogens in early life", American Journal of Clinical Nutrition, December 1998 Supplement, 1453S-1461S.
15. Lynn R. Fraser et al - Effects of estrogenic xenobiotics on human and mouse spermatozoa, Hum. Reprod. Advance Access published online on February 3, 2006
16. Sigi-Liputan 6 SCTV, Bahaya Tidak Unsur Transgenik, www.liputan6.com