KUMPULAN MAKALAH, SKRIPSI, & TIPS DAN TRIK

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts
POLA ASUH DALAM PERSPEKTIF AJARAN ISLAM

POLA ASUH DALAM PERSPEKTIF AJARAN ISLAM

Anak adalah amanat bagi orang tua, hatinya yang suci bagaikan mutiara yang bagus dan bersih dari setiap kotoran dan goresan.[1] Anak merupakan anugerah dan amanah dari Allah kepada manusia yang menjadi orang tuanya. Oleh karena itu orang tua dan masyarakat bertanggungjawab penuh agar supaya anak dapat tumbuh dan berkembang manjadi manusia yang berguna bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya sesuai dengan tujuan dan kehendak Tuhan.
Pertumbuhan dan perkembangan anak dijiwani dan diisi oleh pendidikan yang dialami dalam hidupnya, baik dalam keluarga, masyarakat dan sekolahnya. Karena manusia menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya ditempuh melalui pendidikan, maka pendidikan anak sejak awal kehidupannya, menempati posisi kunci dalam mewujudkan cita-cita “menjadi manusia yang berguna”.
Dalam Islam, eksistensi anak melahirkan adanya hubungan vertikal dengan Allah Penciptanya, dan hubungan horizontal dengan orang tua dan masyarakatnya yang bertanggungjawab untuk mendidiknya menjadi manusia yang taat beragama. Walaupun fitrah kejadian manusia baik melalui pendidikan yang benar dan pembinaan manusia yang jahat dan buruk, karena salah asuhan, tidak berpendidikan dan tanpa norma-norma agama Islam.
Anak sebagai amanah dari Allah, membentuk 3 dimensi hubungan, dengan orang tua sebagai sentralnya. Pertama, hubungan kedua orang tuanya dengan Allah yang dilatarbelakangi adanya anak. Kedua, hubungan anak (yang masih memerlukan banyak bimbingan) dengan Allah melalui orang tuanya. Ketiga, hubungan anak dengan kedua orang tuanya di bawah bimbingan dan tuntunan dari Allah.[2]
Dalam mengemban amanat dari Allah yang mulia ini, berupa anak yang fitrah beragama tauhidnya harus dibina dan dikembangkan, maka orang tua harus menjadikan agama Islam, sebagai dasar untuk pembinaan dan pendidikan anak, agar menjadi manusia yang bertaqwa dan selalu hidup di jalan yang diridhoi oleh Allah SWT., dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun juga keadaannya, pribadinya sebagai manusia yang taat beragama tidak berubah dan tidak mudah goyah.
Mendidik anak-anak menjadi manusia yang taat beragama Islam ini, pada hakekatnya adalah untuk melestarikan fitrah yang ada dalam setiap diri pribadi manusia, yaitu beragama tauhid, agama Islam.
Seorang anak itu mempunyai “dwi potensi”yaitu bisa menjadi baik dan buruk. Oleh karena itu orang tua wajib membimbing, membina dan mendidik anaknya berdasarkan petunjuk-petunjuk dari Allah dalam agama-Nya, agama Islam agar anak-anaknya dapat berhubungan dan beribadah kepada Allah dengan baik dan benar. Oleh karena itu anak harus mendapat asuhan, bimbingan dan pendidikan yang baik, dan benar agar dapat menjadi remaja, manusia dewasa dan orang tua yang beragama dan selalu hidup agamis. Sehingga dengan demikian, anak sebagai penerus generasi dan cita-cita orang tuanya, dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang dapat memenuhi harapan orang tuanya dan sesuai dengan kehendak Allah.[3]
Kehidupan keluarga yang tenteram, bahagia, dan harmonis baik bagi orang yang beriman, maupun orang kafir, merupakan suatu kebutuhan mutlak. Setiap orang yang menginjakkan kakinya dalam berumah tangga pasti dituntut untuk dapat menjalankan bahtera keluarga itu dengan baik. Kehidupan keluarga sebagaimana diungkap di atas, merupakan masalah besar yang tidak bisa dianggap sepele dalam mewujudkannya. Apabila orang tua gagal dalam memerankan dan memfungsikan peran dan fungsi keduanya dengan baik dalam membina hubungan masing-masing pihak maupun dalam memelihara, mengasuh dan mendidik anak yang semula jadi dambaan keluarga, perhiasan dunia, akan terbalik menjadi bumerang dalam keluarga, fitnah dan siksaan dari Allah.
Oleh karena itu dalam kaitannya dengan pemeliharaan dan pengasuhan anak ini, ajaran Islam yang tertulis dalam al-Qur’an, Hadits, maupun hasil ijtihad para ulama (intelektual Islam) telah menjelaskannya secara rinci, baik mengenai pola pengasuhan anak pra kelahiran anak, maupun pasca kelahirannya. Allah SWT memandang bahwa anak merupakan perhiasaan dunia. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an surat al-Kahfi ayat 46;
اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيوةِ الدُّنْيَا ج وَالْبقِيتُ الصّلِحتُ خَيْرٌ عِنْدَ رِبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلاً. {الكهف: 46}
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”.[4] (QS. al-Khafi: 46)

Dalam ayat lain Allah berfirman;
يآيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا قُوْآ اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا…{ التّحريم : 6 }.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ….[5] (QS. at-Tahrim: 6)

Dengan demikian mendidik dan membina anak beragam Islam adalah merupakan suatu cara yang dikehendaki oleh Allah agar anak-anak kita dapat terjaga dari siksa neraka. Cara menjaga diri dari apa neraka adalah dengan jalan taat mengerjakan perintah-perintah Allah.
Sehubungan dengan itu maka pola pengasuhan anak yang tertuang dalam Islam itu dimulai dari:[6]
1.      Pembinaan pribadi calon suami-istri, melalui penghormatannya kepada kedua orang tuanya
2.      Memilih dan menentukan pasangan hidup yang sederajat (kafa’ah).[7]
3.      Melaksanakan pernikahan sebagaimana diajarkan oleh ajaran Islam
4.      Berwudlu dan berdo’a pada saat akan melakukan hubungan sebadan antara suami dan istri
5.      Menjaga, memelihara dan mendidik bayi (janin) yang ada dalam kandungan ibunya.
6.      Membacakan dan memperdengarkan adzan di telinga kanan, dan iqamat ditelinga kiri bayi
7.      Mentahnik anak yang baru dilahirkan. Tahnik artinya meletakkan bagian dari kurma dan menggosok rongga mulut anak yang baru dilahirkan dengannya, yaitu dengan cara meletakkan sebagian dari kurma yang telah dipapah hingga lumat pada jari-jari lalu memasukkannya ke mulut anak yang baru dilahirkan itu. Selanjutnya digerak-gerakkan ke arah kiri dan kanan secara lembut. Adapun hikmah dilakukannya tahnik antara lain; pertama, untuk memperkuat otot-otot rongga mulut dengan gerakan-gerakan lidah dan langit-langit serta kedua rahangnya agar siap menyusui dan menghisap ASI dengan kuat dan alamiah, kedua, mengikuti sunnah Rasul. [8]
8.      Menyusui anak dengan air susu ibu dari usia 0 bulan sampai usia 24 bulan
9.      Pemberian nama yang baik.
Oleh karena itu pada setiap muslim, pemberian jaminan bahwa setiap anak dalam keluarga akan mendapatkan asuhan yang baik, adil, merata dan bijaksana, merupakan suatu kewajiban bagi kedua orang tua. Lantaran jika asuhan terhadap anak-anak tersebut sekali saja kita abaikan, maka niscaya mereka akan menjadi rusak. Minimal tidak akan tumbuh dan berkembang secara sempurna.[9]



[1] Imam Ahmad al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Din, Juz VII, (Beirut: Dar al-Fikr, 1980), hlm. 130.
[2] Bakir Yusuf Barmawi, Pembinaan Kehidupan Beragama Islam Pada Anak, (Semarang: Dina Utama, 1993), hlm. 5.
[3] Ibid. hlm. 5.
[4] Muhammad Noor, dkk.,  Al-Qur’an al-Karim dan Terjemahnya , (Semarang: CV. Toha Putra, 1996), hlm. 238.
[5] Ibid., hlm. 448.
[6] A. Tafsir, dkk., op. cit., hlm. 132-148.
[7] Maksud kafa’ah disini adalah calon suami, sebanding dengan calon istrinya, sama dalam kedudukan, sebanding dalam tingkat sosial dan sederajat dalam akhlak serta kekayaan. Lihat dalam Sayyid Sabiq, Fiqh Sunah, (terj.) Moh. Thalib, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1987), hlm. 36.
[8] Abdullah Nasikh Ulwan, Tarbiyatul al-Aulad fi al-Islam, (Beirut: Dar al-Salam, 1981), hlm. 75.
[9]Abdur Razak Husain, Hak dan Pendidikan Anak Dalam Islam, (Semarang: Fikahati Aneska, t.t.), hlm. 62.
PENGARUH INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PAI

PENGARUH INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PAI


Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal, maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik.[1] Guru dalam interaksi belajar mengajar diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan (proses belajar mengajar). Setiap proses belajar mengajar guru harus merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai.[2]
Interaksi belajar mengajar di sini dimaksudkan sebagai kegiatan pelaksanaan, bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan melalui hubungan timbal balik, prosesnya dilakukan dengan tenang dan menyenangkan, hal tersebut tentunya menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif proses pembelajaran dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlibat aktif, baik mental, fisik maupun sosial.[3] Adapun untuk mendorong terjadinya interaksi, sedikitnya perlu memperhatikan dua hal yaitu:
1.       Pertanyaan yang diberikan oleh guru hendaknya dijawab oleh seorang peserta didik, tetapi seluruh peserta didik diberi kesempatan singkat untuk mendiskusikan jawabannya bersama teman dekatnya.
2.       Guru hendaknya menjadi dinding pemantul, jika ada peserta didik yang bertanya janganlah dijawab langsung, tetapi dilontarkan kembali kepada seluruh peserta didik untuk didiskusikan.[4] Dengan cara tersebut akan menjadikan peserta didik aktif dalam pembelajaran.
Dengan adanya dorongan tersebut dimaksudkan untuk memperoleh tujuan berdasarkan kompetensi yang telah ditentukan sebelumnya, dan adanya keaktifan dari peserta didik akan terjadi saling bertukar informasi antara peserta didik dan antar peserta didik dengan guru mengenai topik yang dibahas, untuk mencapai kesepakatan, kesamaan, kecocokan dan keselarasan pikiran mengenai apa yang dipelajari.[5]
Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan hasil. Dari segi proses dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidaknya sebagian besar (75%) peserta didik secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial, dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi. Semangat yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri. Sedangkan dari segi hasil proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri peserta didik seluruhnya atau setidaknya sebagian besar (75%). Lebih lanjut proses pembelajaran dikatakan berhasil atau berkualitas apabila masukan merata, menghasilkan output yang banyak dan bermutu tinggi, serta sesuai dengan kebutuhan, perkembangan masyarakat dan pembangunan.[6]
Untuk memperoleh hasil yang maksimal baik proses pembelajaran maupun hasil proses pembelajaran. Guru secara tidak langsung harus memahami individu setiap anak didik, karena setiap anak didik mempunyai minat dan kebutuhan sendiri-sendiri, sehingga untuk memperoleh hasil belajar yang optimal proses interaksi belajar mengajar harus disesuaikan dengan minat dan kebutuhan siswa. Setiap perbuatan, termasuk perbuatan belajar didorong oleh sesuatu atau beberapa motif yang timbul dari dalam diri individu siswa. Motif atau biasa juga disebut dorongan atau kebutuhan merupakan sesuatu tenaga yang berbeda pada diri individu siswa untuk mencapai tujuan yang diinginkan.[7] Kebutuhan dalam kegiatan belajar akan berhasil atau baik kalau siswa tekun mengerjakan tugas, ulet dalam memecahkan masalah dan hambatan secara mandiri, siswa harus mampu mempertahankan pendapatnya, kalau siswa yakin   dan dipandang cukup rasional.
Bahkan lebih lanjut siswa harus peka dan responsif terhadap berbagai masalah umum, dan bagaimana memikirkan pemecahannya. Untuk menumbuhkan sikap-sikap diatas dibutuhkan pesan serta guru dalam memberikan motivasi eksternal, sehingga interaksi mengajar akan memperoleh hasil yang maksimal.
Jadi dengan adanya motivasi belajar dalam diri siswa pelaksanaan interaksi belajar mengajar akan berjalan sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menunjang motivasi belajar dibutuhkan kondisi belajar kondusif baik metode, strategi belajar mengajar dan penilaian yang sesuai dengan karakter peserta didik. Dengan adanya motivasi belajar dalam interaksi belajar mengajar diharapkan akan terbentuk manusia yang berkualitas tinggi, baik mental, moral maupun fisik. Hal ini berarti kalau tujuannya bersifat afektif psikomotorik, tidak cukup hanya diajarkan dengan modul atau sumber yang mengandung nilai kognitif, namun perlu penghayatan yang disertai pengalaman nilai-nilai kognitif, afektif, yang dimanifestasikan dalam perilaku sehari-hari.

KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.       Interaksi belajar mengajar adalah peristiwa hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam suatu pembelajaran yang bertujuan membantu pribadi anak mengembangkan potensi sesuai dengan cita-citanya serta hidupnya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat dan negara.
2.       Motivasi belajar PAI adalah segala sesuatu yang menggerakkan, mendorong, mengarahkan dan mengantarkan perilaku siswa supaya selalu bersemangat dalam belajar khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, dalam upaya mencapai tujuan yang dikehendaki.
3.       Interaksi belajar mengajar dan motivasi belajar PAI adalah peristiwa hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam suatu pembelajaran yang bertujuan membantu pribadi anak, mengembangkan potensi sesuai dengan cita-citanya yang mana hal inilah yang dapat mendorong, menggerakkan dan mengarahkan mereka untuk selalu bersemangat dalam mencapai tujuan dari apa yang mereka lakukan baik itu timbul dari dalam maupun dari luar dirinya. Interaksi antara pengajar dengan warga belajar diharapkan merupakan proses motivasi. Maksudnya bagaimana dalam proses interaksi itu pihak pengajar mampu memberikan dan mengembangkan motivasi serta reinforcement kepada siswa agar dapat melakukan kegiatan belajar secara optimal. Artinya jika interaksi antara guru dengan siswa terjadi secara efektif, maka motivasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam akan semakin meningkat pula.
Jadi, terdapat pengaruh antara interaksi belajar mengajar terhadap motivasi belajar PAI siswa.



[1] E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep Karakteristik Implementasi dan Inovasi, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004), cet.V, hlm. 100.
[2] E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan,  (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 40-41.
[3] E. Mulyasa, Kurikulum…..  op. cit., hlm. 101.
[4] E. Mulyasa, Menjadi Guru …, op. cit., hlm. 77.
[5] E. Mulyasa,  Implementasi Kurikulum 2004, Panduan Pembelajaran KBK, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 129.
[6] E. Mulyasa,  Kurikulum…., op. cit., hlm. 101-102.
[7] R. Ibrahim dan Nana Syaodih S, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), cet. 11, hlm. 26-28.
MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

1.     Motivasi Belajar
Motivasi merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia yang erat kaitannya dengan perilaku manusia, oleh karena itu dalam melaksanakan aktivitas perlu disertai dengan motivasi.
a.       Pengertian Motivasi Belajar
Kata motivasi berasal dari bahasa Inggris “motivation” dan merupakan bentuk dari kata “motive” yang berarti “alasan atau yang menggerakkan”.[1]
Adapun secara terminologi, motivasi merupakan suatu tenaga, dorongan, alasan, kemauan dari dalam yang menyebabkan kita bertindak, di mana tindakan itu diarahkan kepada tujuan tertentu yang hendak dicapai.[2]
Clifford T. Morgan dalam buku Introduction to Psychology dikatakan, “Motivation is a general term, it refers to states within the organism, to behavior and to the goals toward which behavior is directed”.[3] Motivasi adalah istilah umum yang menunjukkan pada suatu keadaan, dalam suatu organisme untuk berbuat dan menuju suatu tujuan dimana suatu tingkah laku itu diarahkan.
Menurut Mc. Donald sebagaimana dikutip oleh Wasty Soemanto, bahwa motivasi adalah suatu perubahan tenaga dalam pribadi seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi dalam usaha mencapai tujuan.[4]
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat dirumuskan bahwa motivasi adalah sesuatu daya yang menjadi pendorong seseorang bertindak, di mana rumusan motivasi menjadi sebuah kebutuhan nyata dan merupakan muara dari sebuah tindakan.[5]
Sedangkan pengertian belajar menurut para ahli, di antaranya adalah:
Oemar Hamalik mendefinisikan belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perolehan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.[6]
Arno F. Wittig dalam buku Psychology of Learning dikatakan, “Learning can be defined as any relatively permanent change in a organism behavioral repertoire that occurs as a result of experience”.[7] Belajar menurut Arno dapat didefinisikan sebagai suatu perbuatan yang relatif permanen dalam suatu tingkah laku manusia yang muncul sebagai hasil pengalaman.
Menurut Shaleh Abdul Aziz dan Abdul Aziz Abdul Majid dalam kitab at-Tarbiyah wa Thuruqut Tadris, mendefinisikan belajar adalah:
اِنَّ التَّعَلَّمُ هُوَ تَغْيِيْرُ فِى ذِهْنِ الْمُتَعَلَّمِ يَطْرَأُ عَلَى خَيْرَةٍ سَابِقَةٍ فَيُحْدِثُ فِيْهَا تَغْيِيْرًا جَدِيْدًا. [8]
Belajar adalah perubahan tingkah laku pada hati (jiwa) si pelajar berdasarkan pengetahuan yang sudah dimiliki menuju perubahan baru.

Jadi, secara psikologis bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.[9]
Dari beberapa definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang dapat menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan yang menimbulkan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh siswa dapat tercapai.
b.      Aspek-aspek Motivasi
Menurut pendapat Clifford T. Morgan, yang dikutip oleh Wasty Soemanto, menjelaskan motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek-aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah:
1)     Keadaan yang mendorong tingkah laku (motivating states);
2)     Tingkah laku yang didorong oleh keadaan tersebut (motivated behavior);
3)     Dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut (goals or ends of such behavior).[10]
Menurut Mc. Donald sebagaimana dikutip oleh Akyas Azhari, merumuskan dalam definisi motivasi terdapat tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu:
1)     Bahwa motivasi itu dimulai dengan suatu perubahan tenaga dalam diri seseorang, keadaan ini biasa disebut dengan kebutuhan. Kebutuhan yang merupakan unsur pertama dari motivasi, timbul dari dalam diri siswa akibat merasakan adanya kekurangan dalam dirinya. Dengan kata lain, kekurangan biasanya timbul apabila merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang dirasakan dengan apa yang dimiliki.
2)     Motivasi ditandai oleh dorongan afektif. Mula-mula merupakan ketegangan psikologis, lalu merupakan suasana emosi yang ditimbulkan adanya ketidakseimbangan dalam diri. Suasana emosi ini menimbulkan kelakuan yang berupa motif (dorongan), sehingga upaya untuk mengatasi dan menghilangkan ketidakseimbangan tersebut, atau timbul usaha untuk memenuhi kebutuhan. Dengan demikian, afeksi atau dorongan itu merupakan unsur kedua dari motivasi menunjuk pada tindakan/usaha secara terarah.
3)     Motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi mencapai tujuan pribadi yang termotivasi mengadakan respon-respon yang tertuju ke arah suatu tujuan. Tujuan adalah segala sesuatu yang menghilangkan kebutuhan dan mengurangi dorongan. Artinya tercapai tujuan dapat menghilangkan ketidakseimbangan dan menghentikan atau mengurangi tindakan yang dilakukan karena tercapainya tujuan, berarti pula telah terpenuhinya kebutuhan.[11]
Dari ketiga unsur di atas, motivasi mengandung dua komponen, yaitu komponen dalam (inner component), dan komponen luar (outer component). Komponen dalam ialah perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang, berupa keadaan tidak puas, atau ketegangan psikologis. Komponen luar ialah apa yang diinginkan seseorang, tujuan yang ingin dicapai oleh seseorang. Jadi, komponen dalam ialah kebutuhan-kebutuhan yang ingin dipuaskan, sedangkan komponen luar ialah tujuan yang hendak dicapai untuk memenuhi kebutuhan tersebut.[12]
Dari penjelasan tersebut dapat dimengerti, bahwa motivasi seseorang (siswa) dalam melakukan sesuatu (belajar) karena adanya tiga unsur, yaitu kebutuhan, dorongan dan tujuan yang pasti ada dalam motivasi siswa dalam belajar.
c.       Macam-macam Motivasi Belajar
Berbicara masalah macam-macam motivasi dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Namun pada prinsipnya dilihat dari segi muncul atau timbul dan berkembangnya motivasi dalam diri seseorang terdapat dua macam, yaitu:
1)     Motivasi intrinsik
Pada intinya, motivasi intrinsik merupakan kondisi dari dalam diri seseorang (siswa) yang mendorong, menggerakkan atau membangkitkan siswa untuk melakukan sesuatu, yaitu belajar.
Para ahli mendefinisikan motivasi intrinsik, sebagai berikut:
a)     Menurut Ivor K. Davies, motivasi intrinsik mengacu pada faktor-faktor dari dalam, tersirat baik dalam tugas itu sendiri maupun pada diri siswa.[13]
b)     Menurut Sumadi Suryabrata, motivasi intrinsik yaitu motivasi yang aktif atau berfungsi tidak perlu ada rangsangan dari luar.[14]
c)      Menurut Soetomo, motivasi intrinsik ialah dorongan untuk melakukan suatu tindakan yang mana tujuan yang akan dicapai berada dalam dirinya sendiri.[15]
d)     Menurut Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, motivasi intrinsik yaitu motivasi yang timbul dalam diri seseorang. Maksudnya siswa belajar, karena belajar itu sendiri dipandang bermakna (dapat bermanfaat) bagi dirinya.[16]
Selanjutnya Sardiman AM memandang ada dua hal yang terkandung dalam motivasi intrinsik, seperti:
a)     Mengetahui apa saja yang akan dipelajari, dan
b)     Memahami mengapa hal tersebut patut dipelajari.
Seseorang siswa yang sedang belajar tanpa memahami kedua hal tersebut kegiatan belajarnya akan sulit berhasil. Artinya, tidak akan memperoleh manfaat dari kegiatan belajar yang mereka ikuti dari guru. Secara lebih lanjut memahami kedua hal tersebut berarti pula memahami tujuan belajar. Jadi, motivasi intrinsik adalah keadaan dalam diri siswa yang mendorong, menggerakkan, dan membangkitkan siswa untuk belajar.
2)     Motivasi ekstrinsik
Motivasi belajar seorang siswa tidaklah mesti datang dari dalam dirinya bersifat intrinsik, tetapi ada kalanya semangat belajar siswa ditimbulkan oleh dorongan yang muncul dari luar dirinya yang biasa disebut dengan motivasi ekstrinsik.
Di antara definisi motivasi ekstrinsik yang sudah lazim adalah:
a)     Menurut Nasution, mengemukakan pendapatnya tentang motivasi ekstrinsik bahwa tujuan-tujuan itu terletak di luar perbuatan itu, yakni tidak terkandung di dalam perbuatan itu sendiri.[17]
b)     Menurut Ivor K. Davies, berpendapat bahwa motivasi ekstrinsik itu mengacu pada faktor-faktor dari luar.[18]
c)      Menurut Soetomo, motivasi ekstrinsik ialah dorongan yang datang dari luar diri individu.[19]
Berdasarkan dari ketiga pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi ekstrinsik dapat didefinisikan sebagai segala hal dan keadaan yang datang dari luar diri seseorang (siswa) yang dapat menggerakkan dan mendorong semangat dan keinginannya untuk selalu rajin mengikuti pelajaran. Dalam interaksi belajar mengajar, diharapkan guru selalu mengusahakan timbulnya motivasi pada diri anak, dengan berbagai cara antara lain:
a)     Menciptakan suasana belajar yang positif
b)     Menciptakan keberhasilan belajar
c)      Memberi contoh yang baik dan sesuai dengan perkembangan anak
d)     Memberikan hasil-hasil yang dicapai siswa
e)     Memberi penghargaan atas prestasi yang dicapai siswa.[20]
d.      Fungsi Motivasi Belajar
Secara umum dapat dikatakan bahwa fungsi motivasi adalah mendorong, menggerakkan/menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauan untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu yang ingin dicapai.[21] Setiap kegiatan belajar mengajar sangat diperlukan adanya motivasi. Hasil belajar akan menjadi optimal, jika ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan berhasil pula pelajaran yang diberikan. Jadi, motivasi akan senantiasa menentukan intensitas belajar bagi para siswa.[22]
Perlu ditegaskan, bahwa setiap tindakan motivasi mempunyai tujuan atau bertalian dengan tujuan, makin jelas tujuan yang ingin dicapai, semakin jelas pula bagaimana tindakan memotivasi (tindakan mencapai tujuan dilakukan). Dengan demikian, motivasi itu mempengaruhi adanya kegiatan atau tindakan.[23]
Keberhasilan suatu usaha dalam mencapai tujuan, sangatlah ditentukan oleh kuat atau lemahnya motivasi. Prestasi yang baik akan sulit di dapat tanpa adanya usaha untuk mengatasi permasalahan atau kesulitan. Proses usaha dalam menyelesaikan kesulitan tersebut memberikan dorongan yang sungguh kuat. Dalam Islam secara jelas menerangkan bahwa motivasi dalam usaha untuk mengatasi kesulitan sangatlah berhubungan erat dengan keberhasilan seseorang. Sebagaimana firman Allah dalam surat ar-Ra’d : 11
... إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ .... (الرعد: 11)
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS. Ar-Ra’d : 11)[24]

Dari ayat di atas, bisa diketahui bahwa motivasi memiliki fungsi yang sangat besar dalam mencapai tujuan, yaitu mencapai cita-cita, keberhasilan atau adanya perubahan dalam diri seseorang.
Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi:
1)     Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai motor atau penggerak yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2)     Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3)     Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa saja yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seorang siswa yang ingin pandai, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.[25]
Di samping itu ada juga fungsi-fungsi lain. Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang (siswa) melakukan usaha (belajar) karena adanya motivasi, adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik pula.
Dengan kata lain bahwa, jika proses interaksi belajar mengajar tercipta dengan baik, maka siswa juga akan terdorong untuk melakukan kegiatan belajarnya.
2.     Konsep Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup (way of life).[26]
Sedangkan Pendidikan Agama Islam berdasarkan Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional adalah salah satu bidang studi pendidikan yang bersama-sama dengan pendidikan kewarganegaraan dan bahasa yang menjadi kurikulum wajib di setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan (Pasal 37 ayat 1).[27]
Jadi Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidikan dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk menyakini, memahami dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Di sekolah umum, Pendidikan Agama Islam merupakan satu bidang studi atau unsur pokok keimanan, ibadah, al-Qur’an, akhlak, muamalah, syari’ah dan tarikh dengan satu silabi. Sedangkan di sekolah berciri khas agama Islam, Pendidikan Agama Islam merupakan satu kelompok bidang studi terdiri dari al-Qur’an Hadits, Fiqih, Akidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab yang masing-masing bidang studi memiliki silabi tersendiri.
Sedangkan tujuan umum Pendidikan Agama Islam adalah meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah, berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[28]
Tujuan Pendidikan Agama Islam harus sesuai dengan tujuan hidup manusia, seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an sebagai berikut:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات: 56)
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)[29]

Jadi, tujuan Pendidikan Agama Islam harus mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam. Hal ini dilakukan dalam rangka menuai keberhasilan hidup di dunia bagi peserta yang kemudian akan membuahkan kebaikan di akhirat.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan motivasi belajar Pendidikan Agama Islam adalah gejala psikologis dari dalam jiwa dalam bentuk dorongan pertumbuhan dan perubahan diri seseorang dalam tingkah laku baru berkat pengalaman dan latihan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki serta mendapat kepuasan pada pelajaran Pendidikan Agama Islam.



[1] John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000), cet. XXIV, hlm. 386.
[2] Sumadi Suryobroto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), cet. XII, hlm. 70.
[3] Clifford T. Morgan, Introduction to Psychology, (New York: Mc. Grow Hill Company, 1961), hlm. 187
[4] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan,  (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), hlm. 191.
[5] Akyas Azhari, Psikologi Umum dan Perkembangan, (Jakarta: Teraju, 2004), cet. 1, hlm. 65.
[6] Oemar Hamalik, Metode Belajar dan  Kesulitan-kesulitan Belajar, (Bandung: Tarsito,  1990), hlm. 21
[7] Arno F. Witting, Psychology of Learning, (New York: Mc. Hill Book Company, 1981), hlm. 2
[8] Shaleh Abdul Aziz dan Abdul Aziz Abdul Majid, At-Tarbiyah wa Thuruqut Tadris,  Juz I, (Mesir: Darul Ma’arif, t.th.), hlm. 169.
[9] Slameto, Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Kredit Semester (SKS), (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), cet. 1, hlm. 78.
[10] Wasty Soemanto, op. cit., hlm. 194.
[11] Akyas Azhari, op. cit., hlm. 66-67.
[12] Wasty Soemanto, op. cit., hlm. 195.
[13] Ivor K. Davies, Pengelolaan Belajar, (Jakarta: Rajawali, 1991), cet. 11, hlm. 216.
[14] Sumadi Suryobroto, op. cit., hlm. 99.
[15] Soetomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar, (Surabaya: Usaha Nasional, 1993), cet. 1, hlm. 34.
[16] Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), cet. 1, hlm. 12-13.
[17] S. Nasution, Didaktik Asas-asas Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), eds. 2, hlm. 80.
[18] Ivor K. Davies, loc. cit.
[19] Soetomo, loc. cit.
[20] Ibid., hlm. 34.
[21] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), hlm. 73.
[22] Sardiman A.M., op. cit., hlm. 82-83.
[23] M. Ngalim Purwanto, op. cit., hlm. 73-74.
[24] Departemen Agama RI, op. cit., hlm. 370.
[25] Sardiman A.M., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), cet. IX, hlm. 83.
[26] Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 86.
[27] UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Bandung: Citra Umbara, 2003), hlm. 25.
[28] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan PAI di Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 77.
[29] Departemen Agama RI, op. cit., hlm. 862.