KUMPULAN MAKALAH, SKRIPSI, & TIPS DAN TRIK

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Download Kumpulan Makalah Gratis, Kumpulan Skripsi Gratis, Kumpulan Proposal Skripsi Gratis, Kumpulan Paper Gratis, Kumpulan Kliping Gratis, Kumpulan Makalah Pendidikan, Kumpulan Makalah Teknik Informatika, Kumpulan Makalah Sosiologi, Kumpulan Makalah Ekonomi, Kumpulan Makalah Ilmu Pengetahuan

Showing posts with label Sumber. Show all posts
Showing posts with label Sumber. Show all posts
SUMBER BELAJAR

SUMBER BELAJAR


1.       Pengertian Sumber Belajar
Sumber belajar yang dipakai dalam dunia pendidikan atau latihan adalah suatu sistem yang terdiri dari sekumpulan bahan atau situasi yang dikumpulkan secara sengaja dan dimaksudkan agar siswa mampu belajar secara mandiri.
Berdasarkan susunan kata, sumber belajar belajar berasal dari kata sumber dan belajar. Menurut Poerwadarminta sumber berarti “asal (dalam berbagai arti)”.[1]
Sedangkan kata belajar menurut bahasa berarti “berusaha (berlatih, dan sebagainya) supaya mendapat sesuatu kepandaian”.[2] Secara istilah belajar merupakan “proses orang memperoleh kecakapan, ketrampilan dan sikap”.[3]
Menurut Ahmad Rohani sumber belajar (learning resources) adalah segala macam sumber yang ada di luar diri seseorang (peserta didik) dan yang memungkinkan (memudahkan) terjadinya proses belajar.[4]
Menurut Edgar Dale dalam Rohani, “sumber belajar adalah pengalaman-pengalaman yang pada dasarnya sangat luas, yakni seluas kehidupan yang mencakup segala sesuatu yang dapat dialami, yang dapat menimbulkan peristiwa belajar. Maksudnya adalah perubahan tingkah laku ke arah yang lebih sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan”.[5]
Dengan demikian sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien dalam usaha pencapaian tujuan instruksional.

2.       Manfaat Sumber Belajar
Suatu kegiatan belajar mengajar akan lebih efektif dan efisien dalam usaha pencapaian tujuan instruksional, jika melibatkan komponen sumber belajar secara terencana. Sebab sumber belajar sebagai komponen penting dan sangat besar manfaatnya.
Adapun manfaat dari sumber belajar adalah sebagai berikut:
a.       Memberi pengalaman belajar secara langsung dan konkret kepada peserta didik. Misalnya karyawisata ke objek-objek seperti pabrik, pelabuhan, kebun binatang dan sebagainya.
b.       Dapat menyajikan sesuatu yang tidak mungkin diadakan, dikunjungi, atau dilihat secara langsung dan konkret. Misalnya denah, sketsa, foto, film, majalah dan sebagainya.
c.       Dapat menambah dan memperluas cakrawala sajian yang ada di dalam kelas. Misalnya buku-buku teks, foto, film, nara sumber majalah dan sebagainya.
d.      Dapat memberi informasi yang akurat dan terbaru. Misalnya buku-buku bacaan, encyclopedia, majalah dan sebagainya.
e.       Dapat membantu memecahkan masalah pendidikan (instruksional) baik dalam lingkup mikro maupun makro. Misalnya secara makro: sistem belajar jarak jauh (SBJJ) melalui modul.
f.        Dapat memberi motivasi yang positif, apabila diatur dan direncanakan pemanfaatannya secara tepat.
g.       Dapat merangsang untuk berfikir, bersikap dan berkembang lebih lanjut. Misalnya buku teks, buku bacaan, film dan lain-lain, yang mengandung daya penalaran, sehingga dapat merangsang peserta didik untuk belajar berfikir, menganalisis dan berkembang lebih lanjut. [6]

3.       Ciri-Ciri Sumber Belajar
Telah dikemukakan di atas, bahwa sumber belajar adalah sesuatu daya, kekuatan yang dapat memberi sesuatu yang kita perlukan dalam rangka proses instruksional. Oleh karena itu, apabila suatu daya tidak dapat memberi terhadap apa yang diinginkan sesuai dengan tujuan instruksional, maka daya tersebut tidak dapat disebut sumber belajar.
Misalnya di saat kita membutuhkan guru ahli bidang agama, padahal yang tersedia guru ahli bidang fisika yang tidak dapat dimanfaatkan untuk kegiatan instruksional. Atau ahli bidang fisika dapat sebagai sumber belajar setelah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Oleh karena itu, dalam menggunakan sumber belajar hendaknya digunakan multimedia. Hal ini bertujuan agar dalam pencapaian tujuan instruksional dapat efektif dan efisien.
Secara garis besar sumber belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Sumber belajar harus mampu memberikan kekuatan dalam proses belajar mengajar, sehingga tujuan instruksional dapat tercapai secara maksimal.
b.       Sumber belajar harus mempunyai nilai-nilai instruksional edukatif yaitu dapat mengubah dan membawa perubahan yang sempurna terhadap tingkah laku sesuai dengan tujuan yang ada.
c.       Dengan adanya klasifikasi sumber belajar, maka sumber belajar yang dimanfaatkan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1)      Tidak terorganisasi dan tidak sistematis baik dalam bentuk maupun isi.
2)      Tidak mempunyai tujuan instruksional yang eksplisit.
3)      Hanya dipergunakan menurut keadaan dan tujuan tertentu atau secara insidental.
4)      Dapat dipergunakan untuk berbagai tujuan instruksional.
d.      Sumber belajar yang dirancang (resources by designed) mempunyai ciri-ciri yang spesifik sesuai dengan tersedianya media.[7]

4.       Komponen Sumber Belajar
Komponen sumber belajar sebenarnya merupakan suatu sistem, artinya sumber belajar itu merupakan satu kesatuan yang di dalamnya terdapat berbagai komponen yang saling berhubungan, saling mempengaruhi serta saling melengkapi. Komponen yang dimaksud adalah semua bagian yang ada di dalam sumber belajar, baik yang dirancang maupun yang dimanfaatkan. Bagian-bagian  tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, meskipun kadang-kadang dapat digunakan secara terpisah.
Adapun komponen-komponen sumber belajar sebagai berikut:
a.       Tujuan dan fungsi sumber belajar
Sumber belajar yang dirancang mempunyai tujuan-tujuan instruksional tertentu. Oleh karena itu, tujuan dan fungsi sumber belajar juga dipengaruhi oleh perancang (guru) sumber itu sendiri, serta sangat bergantung kepada karakteristik masing-masing jenis sumber belajar yang dugunakan.
Misalnya seorang guru yang berfungsi sebagai pendidik akan membawakan misinya yang berhubungan dengan pendidikan serta mempunyai tujuan agar para peserta didik (sebagai penerima pesan) dapat mengerti dan memahami pelajaran yang disampaikan. Sehingga dapat dikatakan bahwa setiap sumber belajar selalu mempunyai tujuan baik secara implisit maupun eksplisit. [8]
b.      Bentuk atau keadaan fisik sumber belajar
Kegiatan observasi yang dilakukan di Pusat Sumber Belajar (PSB) yang di dalamnya terdapat banyak komponen, bentuk yang beraneka ragam. Misalnya komponen perpustakaan, laboratorium, ruang observasi untuk micro teaching, ruang  produksi media dan sebagainya merupakan media penunjang dalam pengembangan sistem instruksional. [9]
c.       Pesan
Pesan termasuk komponen dalam sumber belajar, sebab sumber belajar harus mampu membawa pesan yang dapat dimanfaatkan (dipelajari) oleh pemakai (penerima pesan, peserta didik) sehingga mereka memperhatikan dan menangkap isi pesan itu secara efektif dan efisien serta terserap secara maksimal. Pesan sebagai salah satu komponen yang penting[10]
Pesan yang berperan sebagai sumber belajar mengandung 3 (tiga) pengertian, yaitu :
1)      Tanda (kata-kata, gambar) termasuk pemilihan dan urutannya yang menjadi tanggung jawab perancang, diharapkan bermakna bagi suatu sasaran.
2)      Pembawa tanda (macam, gaya, tata letak, pencetakan) yang menjadi tanggung jawab penerbit atau prosedur.
3)      Informasi atau arti yang diterima, yang menjadi tanggung jawab sasaran (audience).
Pesan, sebagai salah satu komponen yang penting dalam sumber belajar, untuk itu perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1)      Kelengkapan isi pesan, kejelasan serta kemutakhiran isi pesan.
2)      Kemudahan penangkapan pesan sesuai dengan kondisi situasi tepat serta kemampuan dan kebutuhan penerima pesan.
3)      Isi pesan cukup sederhana, jelas, lengkap dan mudah ditangkap.[11]
d.      Tingkat kesulitan atau kompleksitas pemakaian sumber belajar
Tingkat kompleksitas sumber belajar berkaitan dengan keadaan fisik dan pesan sumber belajar sejauhamana tingkat kompleksitas perlu diketahui adalah untuk menentukan apakah sumber belajar itu masih dapat dipergunakan mengingat waktu dan biaya yang terbatas dan lain sebagainya.[12]

5.       Klasifikasi Sumber Belajar
AECT (Association for Education Communication and Technology) membedakan sumber belajar menjadi 2 (dua) macam, yaitu :
a.       Sumber belajar yang dirancang (by design) untuk tujuan belajar seperti guru, dosen, pelatih, ruang kuliah (belajar), laboratorium, perpustakaan, bengkel kerja, simulator, modul.
b.       Sumber belajar yang dimanfaatkan (by utilization) yaitu dimanfaatkan untuk tujuan. Misalnya pejabat, tokoh masyarakat, orang ahli di lapangan, pabrik, pasar, rumah sakit, surat kabar, radio, televisi dan sebagainya.[13]
AECT (Association For Education Communication and Technology) juga telah mengklasifikasikan sumber belajar menjadi 6 (enam), yaitu :
a.       Pesan (messages), yaitu informasi yang ditransmisikan (diteruskan) oleh komponen lain dalam bentuk ide, fakta, arti dan data. Termasuk ke dalam kelompok pesan adalah semua bidang studi atau mata pelajaran yang harus diajarkan kepada peserta didik.
b.       Orang (peoples), yaitu manusia yang bertindak sebagai penyimpan, pengolah, penyaji pesan. Dalam kelompok ini msialnya seorang guru, dosen, tutor, peserta didik, tokoh masyarakat atau orang-orang lain yang mungkin berinteraksi dengan peserta didik.
c.       Bahan (materials), yaitu perangkat lunak yang mengandung pesan untuk disajikan melalui penggunaan alat atau pun oleh dirinya sendiri. Berbagai program media termasuk kategori bahan, misalnya transparansi, slide, film, film strip, audio, video, buku, majalah, bahan instruksional terprogram dan sebagainya.
d.      Alat (devices), yaitu perangkat keras yang digunakan untuk penyampaian pesan yang tersimpan dalam bahan. Misalnya, proyektor slide, overhead, video tape, pesawat radio, pesawat televisi dan sebagainya.
Proyektor slide dapat digunakan dengan mengoperasikan secara manual, remote control (dari jarak tertentu), atau secara sunc-tape (operasi secara otomatis bersama dengan suara). Operasi slide dapat pula dengan aminasi (dihidupkan) dengan menggunakan beberapa proyektor yang telah diprogram sedemikian rupa secara otomatis antara operasi disolve-nya, suara dan gambarnya, sehingga menimbulkan kesan hidup.[14] Operasi seperti ini kebanyakan dipergunakan untuk keperluan suatu pertunjukan atau penampilan yang menghendaki adanya suatu impresi dan apresiasi.
e.       Teknik (Techniques), yaitu prosedur atau acuan yang disiapkan untuk menggunakan bahan, peralatan, orang dan lingkungan untuk menyampaikan pesan. Contoh: instruksional terprogram, belajar sendiri, belajar tentang permainan simulasi, demonstrasi, ceramah, tanya jawab dan sebagainya.
f.        Lingkungan (setting), yaitu situasi sekitar dimana pesan disampaikan, lingkungan bisa bersifat fisik (gedung sekolah, kampus, perpustakaan, laboratorium, studio, auditorium, museum, taman) maupun lingkungan non fisik (suasana belajar dan sebagainya).[15]

6.       Pemilihan Sumber Belajar
Untuk memilih sumber belajar yang baik, perlu memperhatikan beberapa kriteria sebagai berikut :
a.       Ekonomis dan murah
Hendaknya dalam memilih sumber belajar mempertimbangkan segi ekonomis dalam arti relatif murah, yakni secara nominal uang atau biaya yang dikeluarkan hanya sedikit.
b.       Praktis dan sederhana
Praktis artinya tidak memerlukan pelayanan dan pengadaan sampingan yang sulit dan langka. Sederhana artinya tidak memerlukan pelayanan khusus yang mensyaratkan keterampilan yang rumit dan kompleks.
c.       Bersifat fleksibel (luwes)
Artinya bahwa sumber belajar ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan instruksional dan dapat dipertahankan dalam berbagai situasi dan pengaruh.
d.      Komponen-komponen sesuai dengan tujuan
Mungkin satu sumber belajar sangat ideal, akan tetapi salah satu, bahkan keseluruhan komponen ternyata justru menghambat instruksional.
7.       Pengembangan Sumber Belajar
Dalam berbagai dimensi kehidupan telah banyak pemecahan masalah yang bersifat rasional dan intelektual, jika dibantu dengan irrasional akan membangkitkan ide-ide baru. Sehubungan dengan hal itu, aspek-aspek emosional dan irasional harus dipahami untuk meningkatkan keberhasilan dalam pemecahan masalah, dan mendongkrak kualitas pembelajaran. Oleh karena itu jika guru mengharapkan pencapaian kualitas pendidikan dan pembelajaran di sekolah secara optimal, perlu diupayakan bagaimana membina diri dan peserta didik untuk memiliki kecerdasan emosi yang stabil dengan memahami diri dan lingkungannya secara tepat.
Beberapa  hal yang perlu diupayakan untuk mengembangkan sumber belajar dalam pembelajaran antara lain: [16]
a.   Menyediakan lingkungan yang kondusif.
b.  Menciptakan iklim pembelajaran yang demokratis.
c.   Mengembangkan sikap empati, dan merasakan apa yang sedang dirasakan oleh peserta didik.
d.  Membantu peserta didik menemukan solusi dalam setiap masalah yang dihadapi.
e.   Melibatkan peserta didik secara optimal dalam pembelajaran, baik secara fisik, sosial, maupun emosional.
f.   Merespon setiap perilaku peserta didik secara positif, dan menghindari respon yang negatif.
g.  Menjadi teladan dalam menegakkan aturan dan disiplin dalam pembelajaran.



[1] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: PN. Balai Pustaka, 1985), hlm. 974.
[2] Ibid., hlm. 108.
[3] Drs. H. Martinis Yamin, M.Pd., Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, (Ciputat: Gaung Persada Press, 2005), hlm. 97.
[4] Drs. Ahmad Rohani, HM., M.Pd., Media Instruksional Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hlm. 102.
[5] Ibid.
[6] Ibid, hlm. 102-103.
[7] Ibid, hlm. 103-104.
[8] Ibid
[9] Ibid.
[10] Ibid.
[11] Ibid.
[12] Drs. Fatah Syukur NC., M.Ag., Teknologi Pendidikan, (Semarang: Rasail bekerja sama dengan Walisongo Press, 2005), hlm. 100.
[13] Drs. Ahmad Rohani, HM., M.Pd., Op. Cit., hlm. 109.
[14] Dr. Nana Sudjana dan Drs. Ahmad Rivai, Media Pengajaran (Penggunaan dan Pembuatannya), (Bandung: CV. Sinar Baru bekerja sama dengan Pusat Penelitian Pengajaran dan Pengembangan Ilmu Lembaga Penelitian IKIP Bandung, 1997), hlm. 115.
[15] Drs. Ahmad Rohani, HM., M.Pd., Op. Cit., hlm. 108-109.
[16] Dr. E. Mulyasa, M.Pd., Menjadi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 162-163.
SUMBER ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

SUMBER ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

A. SUMBER ILMU PENGETAHUAN

Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang diketahui manusia, di samping seni dan agama. Pengetahuan merupakan sumber jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan. Maka perlu diketahui terhadap pengetahuan mana suatu pertanyaan tertentu harus diajukan. Jika orang bertanya : “Apakah yang akan terjadi setelah manusia meninggal?”, maka pertanyaan itu tidak dapat diajukan kepada ilmu, melainkan kepada agama. Sebab, secara ontologis ilmu membatasi diri pada pengkajian obyek yang berada dalam lingkup pengalaman manusia. Sedang agama memasuki pula wilayah penjelajahan yang bersifat transendental yang berada di luar pengalaman manusia. Sehingga setiap jenis pengetahuan memiliki ciri-ciri yang spesifik tentang “apa, bagaimana dan untuk apa” (ontologi, epistemologi dan aksiologi), ketiga hal ini saling berkaitan.

Pengetahuan ilmiah atau ilmu sebagai alat bagi manusia untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya. Pemecahan itu pada dasarnya adalah meramalkan dan mengontrol gejala alam. Di sini timbul persoalan bagi setiap epistemologi pengetahuan, yakni bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar dengan memperhitungkan aspek ontologis dan aksiologisnya. Dan juga mampu meramalkan serta mengontrol sesuatu, maka harus mengetahui “mengapa” sesuatu itu terjadi. Di sini harus menguasai pengetahuan yang menjelaskan peristiwa itu. Maka penelaahan ilmiah diarahkan untuk mendapatkan penjelasan tentang berbagai fenomena alam. Penjelasan ini diarahkan terhadap deskripsi tentang hubungan berbagai faktor yang terkait dalam konstelasi yang menyebabkan timbulnya sebuah fenomena dan proses terjadinya fenomena itu. Seperti, mengapa secangkir kopi diberi gula menjadi manis rasanya, bukan mendeskripsikan betapa manisnya secangkir kopi yang diberi gula itu. Ilmu mencoba mengembangkan dunia empiris dengan mengabstraksikan realitas menjadi beberapa variabel yang terikat dalam sebuah hubungan yang bersifat rasional. Sedang seni mencoba mendeskripsikan sebuah fenomena dengan sepenuh maknanya dan menjadi bermakna bagi pencipta dan yang meresapinya.[1]

Upaya untuk menjelaskan fenomena alam telah dilakukan sejak dahulu kala dengan memperhatikan berbagai kekuatan alam, seperti hujan, banjir, gempa dan sebagainya. Mereka merasa tak berdaya dalam menghadapi yang dianggapnya merupakan kekuatan luar biasa. Kemudian mereka coba dengan mengaitkan dengan makhluk luar biasa pula, dan berkembanglah berbagai mitos tentang para dewa dengan berbagai kesaktian dan perangainya, sehingga muncul dewa-dewa pemarah, pendendam, cinta dan sebagainya. Mereka mengontrol alam sesuai dengan pengetahuannya dengan memberikan berbagai macam sesaji. Perkembangan selanjutnya, mereka mencoba menafsirkan fenomena fisik dengan pengembangan penafsiran tertentu, kemudian mempunyai pegangan tertentu, betapa pun primitifnya. Bukan saja mengerti mengapa sesuatu terjadi, tetapi yang lebih penting adalah agar sesuatu itu tidak terjadi.[2]

Tahap berikutnya, mereka mencoba menafsirkan dunia ini terlepas dari mitos dengan mengembangkan pengetahuan yang mempunyai kegunaan praktis, seperti membuat tanggul. Maka berkembanglah pengetahuan yang berpangkal pada pengalaman berdasarkan akal sehat dengan metode trial and error, yang kemudian menimbulkan pengetahuan yang disebut “applied arts” yang mempunyai kegunaan langsung dalam kehidupan sehari-hari, di samping “fine arts” untuk memperkaya spiritual. Yang terakhir ini lebih berkembang di Timur, karena filsafatnya yang penting adalah berpikir etis yang menghasilkan wisdom.[3]

Betapa pun primitifnya suatu peradaban, masih saja memiliki kumpulan pengetahuan akal sehat,[4] yang sangat penting untuk menemukan berbagai fenomena alam. Maka tumbuhlah rasionalisme yang kritis mempermasalahkan pikiran yang bersifat mitos yang mencoba menemukan kebenaran secara analisis kritis,[5] yang kemudian menimbulkan berbagai pendapat dan aliran filsafat. Rasionalisme dengan sistem pemikiran deduktifnya sering menghasilkan implikasi yang benar dari akurasi logikanya. Tetapi, dapat juga tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan realitas empiriknya. Seperti, Aristoteles menyimpulkan bahwa gigi wanita lebih sedikit dari pria, Bertrand Russell bergumam orang seperti dia yang kawin dua kali seharusnya lebih tahu tentang itu.[6]

Reaksi atas kelemahan rasionalisme itu menimbulkan empirisme yang meyakini bahwa pengetahuan yang benar jika dihasilkan dari sentuhan indrawi, maka berkembanglah cara berpikir yang menjauhi spekulasi teoritis dan metafisis. Bagi David Hume (1711-1776), metafisika adalah hayal dan dibuat-buat bagaikan lidah api yang menjilat. Meskipun empirisme berdasarkan sentuhan indrawi menggunakan sistem berpikir induktif, ternyata tidak lepas dari kelemahan. Yakni, atas dasar apa dapat menghubungkan berbagai fenomena/fakta dalam hubungan kausalitas. Bagaimana hubungan fakta rambut keriting berkorelasi dengan rendahnya intelektual seseorang sebagai hubungan kausalitas.

Untuk mendamaikan dua sistem pemikiran tersebut, maka berkembanglah metode eksperimen yang merupakan jembatan antara penjelasan teoritis dari rasional dengan pembuktian secara empiris. Metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana-sarjana Muslim pada abad keemasan Islam ketika ilmu dan pengetahuan lainnya mencapai puncaknya antara abad IX dan XII M. Eksperimen ini dimulai oleh ahli-ahli kimia yang mungkin semula terdorong oleh tujuan untuk mendapatkan “obat awet muda” dan “rumus membuat emas dari logam biasa” yang lambat laun menjadi paradigma ilmiah.[7] Metode eksperimen ini diperkenalkan di Barat oleh Roger Bacon (1214-1294) kemudian dimantapkan sebagai paradigma ilmiah oleh Francis Bacon (1561-1626). Tegasnya, secara konseptual metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana Muslim dan secara sosiologis dimasyarakatkan oleh Francis Bacon, sekali pun Francis Bacon tidak pernah menyebut pendahulunya. Briffault, dalam bukunya The Making of Humanity yang dinukil oleh M. Iqbal mengakui bahwa bangsa Arab merupakan perintis metode ilmiah. Roger Bacon maupun sesamanya (Francis Bacon) tidak berhak sebagai orang-orang yang telah memperkenalkan metode eksperimental. Roger Bacon tidak lebih daripada seorang rasul ilmu pengetahuan dan metode Muslim ke Eropa Kristiani. Menjelang zaman Bacon, metode eksperimental bangsa Arab tersebut telah tersebar luas dan ditekuni di seluruh benua Eropa.[8] Meskipun demikian, metode eksperimen masih saja merupakan fenomena empiris. Di samping rasionalisme dan empirisme, terdapat cara lain untuk menghasilkan pengetahuan, yakni intuisi dan wahyu.

Intuisi merupakan pengetahuan yang dihasilkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang memikirkan sesuatu masalah secara tiba-tiba menemukan jawabannya dan diyakini atas kebenarannya, namun tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya dapat sampai ke sana. Karena intuisi sangat personal dan tidak bisa diramalkan, maka ia tidak bisa diandalkan untuk menyusun ilmu pengetahuan yang teratur. Ia hanya dapat digunakan sebagai hipotesis bagi analisis berikutnya untuk menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakan. Aktifitas intuitif dan analitik dapat bekerja saling membantu untuk menemukan kebenaran.[9]

Sedang wahyu, merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini didasarkan atas hal-hal yang supernatural (ghaib) dan merupakan pangkal dalam agama. Sehingga suatu pernyataan harus diyakini terlebih dahulu, bisa saja kemudian dikaji dengan metode lain. Secara rasional, umpamanya apakah pernyataan-pernyataan yang dikandungnya bersifat konsisten atau tidak. Sebaliknya, secara empiris dapat dikumpulkan fakta-fakta yang mendukung pernyataan itu atau tidak. Tegasnya, agama dimulai dengan rasa percaya, setelah dikaji kepercayaan itu bisa meningkat atau menurun. Sebaliknya, pengetahuan lain seperti ilmu, bertolak dari rasa tidak percaya (ragu) setelah dikaji secara ilmiah bisa menjadi yakin atau tetap seperti semula.[10]

B. PERSPEKTIF ISLAM

Fundamen dalam pemikiran Islam bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu, termasuk pengetahuan yakni bersumber dari Allah. Sehingga tujuan pengetahuan itu tidak lain adalah kesadaran tentang Allah. Al-Qur’an, wahyu Allah menyatakan dalam sebuah cerita, bahwa awal penciptaan Adam, Allah mengajarkan kepadanya tentang nama benda-benda. Adam sebenarnya merupakan simbol manusia, dan “nama benda-benda” berarti unsur-unsur pengetahuan, baik yang materi ataupun non-materi. Demikian juga wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw mengandung perintah “Bacalah dengan nama Allah”. Perintah ini mewajibkan orang untuk membaca, yakni pengetahuan harus dicari dan diperoleh demi Allah. Ini berarti wawasan tentang Allah Yang Maha Suci merupakan fundamen hakiki bagi pengetahuan.[11]

Keyakinan bahwa al-Qur’an, wahyu Allah sebagai sumber utama bagi pengetahuan lebih komprehensif daripada lainnya. Jika sumber yang lain hanya mengakui secara parsial, tidak demikian bagi al-Qur’an. Al-Qur’an mengakui sumber rasional-deduktif, telah banyak disebutkannya. Seperti “afala ta’qilun”, “afala tubsirun”, dan sebagainya. Al-Qur’an juga mengakui empirisme-induktif, banyak disebutkannya. Seperti penciptaan unta, langit, gunung dan bumi,[12] penciptaan tumbuh-tumbuhan,[13] perintah memperhatikan apa-apa yang ada di langit dan bumi,[14] dan sebagainya. Demikian juga sumber intuisi dan sebangsanya dapat diraih melalui penyucian hati. Para ilmuwan Muslim menekankan perlunya tazkiyah al-nafs untuk memperoleh hidayah Allah, karena sadar atas kebenaran firman-Nya.[15] Kecuali itu, dalam Islam terdapat apa yang disebut ‘ilm al-laduni dan hikmah, yaitu pengetahuan kerohanian dan kebijaksanaan yang diperoleh melalui kontinuitas perbuatan yang saleh. Seperti latihan-latihan yang dipraktekkan para sufi, sehingga mampu menangkap komunikasi dari alam ghaib dan transendental serta selalu dibawah bayangan Yang Qudus.[16]

C. KESIMPULAN

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Ada perbedaan secara fundamental antara sumber pengetahuan dalam Islam dengan lainnya (Barat). Barat, hanya membatasi dari sumber rasio dan empiris, dan setelah masuk di Timur bertambah sumber yang lain, yakni intuisi dan wahyu. Dalam Islam yang menjadi sumber utama dalam pengetahuan adalah wahyu Allah, dan wahyu Allah mengakui sumber lainnya, yakni rasio, empiris dan intuisi, sehingga lebih komprehensif dari Barat yang parsial

2. Karena sumber pengetahuan dalam Islam adalah wahyu Allah, maka pengetahuan dalam perspektif Islam adalah kesadaran tentang Yang Suci atau bernilai Rabbani.

Demikian uraian sederhana ini, tiada lain semoga ada manfaatnya. Amin…


DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim

Bergen Evan, The Natural on Nonsense, New York: Knop, 1946.

Bertrand Russell, The Impact of Science Upon Society, New York: Simon and Schuster, 1953.

C. A. Qadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, terj. Hasan Basri, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1989.

Gustav Weigel, S.J. dan Arthur W. Madden, Knowledge: Its Values and Limits, Englewood Cliffs, N.J.: Prantic Hall, 1961.

Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, cet. II, Jakarta: Sinar Harapan, 1985.

Karl R. Popper, Conjectures and Refutation, New York: Basic, 1962.

M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1996.

Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Lahore: Shaikh Muhammad Adhraf, 1958.



[1] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, cet. II, Jakarta: Sinar Harapan, 1985, hlm. 104-106.

[2] Ibid., hlm. 108.

[3] Gustav Weigel, S.J. dan Arthur W. Madden, Knowledge: Its Values and Limits, Englewood Cliffs, N.J.: Prantic Hall, 1961, hlm. 49.

[4] Bergen Evan, The Natural on Nonsense, New York: Knop, 1946, hlm. 151.

[5] Karl R. Popper, Conjectures and Refutation, New York: Basic, 1962, hlm. 151.

[6] Bertrand Russell, The Impact of Science Upon Society, New York: Simon and Schuster, 1953, hlm. 7.

[7] Jujun S. Suriasumantri, op.cit., hlm. 115.

[8] Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Lahore: Shaikh Muhammad Adhraf, 1958, hlm. 130.

[9] Jujun S. Suriasumantri, op.cit., hlm. 53

[10] Ibid., hlm. 54.

[11] C. A. Qadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, terj. Hasan Basri, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1989, hlm. 5-6.

[12] QS. Al-Ghasyiyah : 17-20.

[13] QS. Al-Syu’ara’ : 7.

[14] QS. Yunus : 101.

[15] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1996, hlm. 438.

[16] C.A. Qadir, op.cit., hlm. 11.